51动漫

51动漫 Official Website

Optimalkan Limbah Organik, Mahasiswa KKN-BBK UNAIR Ciptakan Pupuk Kompos

Mahasiswa Kelompok KKN-BBK 4 UNAIR dengan masyarakat Desa Bakalan (Foto: Istimewa)
Mahasiswa Kelompok KKN-BBK 4 UNAIR dengan masyarakat Desa Bakalan (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS 51动漫 (UNAIR) menerjunkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata, Belajar Bersama Komunitas (KKN-BBK) 4 di Desa Bakalan, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto. Salah satu permasalahan di daerah tersebut adalah pengelolaan limbah yang belum optimal.

Salah satu solusi yang mahasiswa KKN-BBK 4 UNAIR tawarkan adalah pengolahan limbah organik menjadi kompos. Dalam kesempatan ini, salah satu anggota dari KKN-BBK 4 UNAIR 鈦燭sabita Amalia H Fakultas Keperawatan (FKp) menjelaskan bahwa tujuan program kerja itu adalah untuk menciptakan kebersihan lingkungan sekitar di Bakalan.

淒i Desa Bakalan, sering kami jumpai permasalahan berupa sampah rumah tangga yang tidak diolah dengan baik. Contohnya dibakar dan dibuang ke sungai karena belum tersedianyaTPA (Tempat Pembuangan Akhir), terangnya, Rabu (17/7/2024).

Dalam pelaksanaan program kerja ini kelompok BBK 4 Desa Bakalan membuat 4 alat komposter dan telah didistribusikan secara langsung kepada masing-masing dusun. Harapannya alat yang tersebut dapat berguna untuk mengatasi permasalahan sampah yang ada dari skala kecil yakni rumah tangga.

淪etelah penyerahan alat kepada masing-masing kepala dusun, salah satu penerapannya yaitu penggunaan komposter di lingkungan sekitar kantor desa. Sampah daun kering yang ada di lingkungan kantor desa kami olah menjadi pupuk organik menggunakan alat tersebut, jelas Tsabita.

Demonstrasi Produk Kompos Organik oleh salah satu mahasiswa UNAIR kepada masyarakat Desa Bakalan (Foto: Istimewa)
Demonstrasi Produk Kompos Organik oleh salah satu mahasiswa UNAIR kepada masyarakat Desa Bakalan (Foto: Istimewa)

Tsabita menuturkan, untuk menghasilkan 600 ml pupuk kompos organik cair membutuhkan waktu kurang lebih satu minggu. Ia melanjutkan bahwa kompos yang mereka buat juga menggunakan produk EM 4 yang berisi bakteri sebagai percepatan dalam proses penguraian sampah organik.

淵ang membedakan adalah komposter ini membutuhkan alat dan bahan yang mudah dijumpai. Selain itu juga membutuhkan sampah organik yang berasal dari limbah rumah tangga dan sedikit cairan EM4 untuk menghasilkan produk pupuk kompos organik padat dan pupuk kompos organik cair, imbuhnya.

Tsabita menjelaskan bahwa penggunaan kompos ini sudah dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar dalam beberapa waktu. 淪alah satu penerapan yang dijumpai yaitu penggunaan komposter di lingkungan sekitar kantor desa. Adapun salah satu kepala dusun di Desa Bakalan menggunakan alat tersebut dalam kegiatan berkebun yang ramah lingkungan, ungkapnya.

Tsabita menerangkan bahwa adanya kompos ini dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Yaitu pupuk  kompos yang dihasilkan dapat menjadi penunjang pertumbuhan tanaman rumahan agar terhindar dari serangga. Ia berharap dengan adanya alat tersebut dapat membantu perekonomian masyarakat sekitar yang mayoritas berprofesi sebagai petani dari pupuk kompos organik padat.

Penulis:

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT