Dalam dunia medis, para dokter memiliki sepasang cara untuk menghalau pasien menuju sembuh. Ada yang menakut-nakuti, ada yang menggiring mereka kepada optimisme. Di banyak temuan ilmiah, optimisme justru menghasilkan kesembuhan. Sebaliknya pesimisme bisa mempercepat datangnya ajal sebelum waktunya.
Fakta Pesimis
Helifax-Grof mengungkap sebuah kasus yang terjadi pada seorang pengacara berusia limapuluh tahunan. Ia punya tiga orang anak. Pengacara itu sedang di puncak karier.
Tubuhnya atletis, mencerminkan kondisi kesehatannya yang bugar. Satu-satunya persoalan adalah sakit perut yang dirasakannya datang dan pergi selama beberapa minggu. Pada pemeriksaan medis, tidak ditemukan sesuatu yang menghawatirkan.
Hanya saja pria itu bersikeras meminta dilakukan scan perut. Ia hanya ingin memastikan bahwa tidak ada sesuatu yang berarti di dalam perut. Permintaannya terkesan melampaui pengetahuan dokter yang merawat. Sang dokter mengikuti saja kemauannya.
Betapa terkejut dokter itu ketika menerima informasi ada benjolan dalam pankreas. Radiolognya mengatakan kemungkinan kanker.
Sang dokter dengan bijak melakukan diskusi dengan pengacara itu. Ia memberikan beberapa kemungkinan solusi yang bisa ditempuh, antara lain melakukan operasi.
淭ak ada operasi, pasien itu menyanggah sang dokter dengan penuh hormat. 淭ak ada gunanya, tak seorang pun selamat dari kanker pankreas, sambungnya.
Dokternya kembali menjelaskan bahwa kesimpulan yang diambilnya belum sepenuhnya benar. Memang secara statistik hasil pengobatan kanker pankreas belum menggembirakan, namun sebagian penderita berhasil selamat. Lagipula, informasi radiologis bukanlah diagnosis pasti. Masih diperlukan serangkaian pemeriksaan untuk memperoleh hasil akurat.
Hari itu juga pasien minta dimasukkan ke rumah sakit. Ia terlihat sangat cemas dan ketakutan. Apa pun informasi yang ditujukan untuk membuatnya tenang seolah tak berguna. Tatapannya hampa. Ia enggan berbicara kepada siapa pun.
Malam harinya ketika sang dokter berkunjung, pasien itu dalam keadaan terbaring kaku. Rahangnya mengencang, alis matanya mengerut. Walau Ia diberi informasi nilai normal hasil tes darahnya, tidak membuatnya berubah. Ia tidak peduli. Lalu, keesokan harinya sang dokter menemukannya meninggal di atas pembaringannya.
Optimis Memantik Kesembuhan dan Usia Panjang
Ren猫 Descartes, lahir 31 Maret 1596 di kota kecil la Haye, Perancis, tekenal dengan quote-nya, Cogito Ergo Sum, aku berpikir maka aku ada. Aku adalah apa yang menjadi keyakinanku. Setelah berlalu masa yang panjang (1974), quote itu diulang dengan kalimat yang lebih bernuansa optimistis dalam Bahasa Inggris, you can if you think you can. Kalimat optimisme ini disampaikan oleh Dr. Norman Vincent Peale yang terjemah bebasnya adalah, kamu bisa jika kamu yakin bisa.
Dr. Bruno Klopfer pernah melaporkan contoh kasus limfoma maligna (tumor ganas kelenjar getah bening) yang dirawatnya. Sejumlah tumor besar terdapat di sekujur tubuh pasien. Dada pasien dipenuhi cairan, sulit bernafas. Dalam keyakinan Klopfer pasien itu akan meninggal dalam dua minggu ke depan, jika seluruh perawatan dilepaskan kecuali oksigen. Langkah terakhir yang dilakukan Klopfer adalah menginjeksi pasien dengan Krebiozen. Obat eksperimental yang kemudian diumumkan bahwa obat itu mubazir.
Klopfer bertutur:
淪aya sangat takjub! Saya meninggalkannya dalam keadaan demam, sulit bernafas, kondisinya sangat lemah. Sekarang ia berjalan-jalan di sekitar ruangan-ruangan di rumah sakit. Dengan riangnya berbincang bersama para perawat, membawa pengaruh keceriaan kepada siapa pun yang mau mendengarkan.
Benjolan tumor itu meleleh seperti bola salju di dalam oven. Hanya dalam beberapa hari ukuran tumornya sudah separuh ukuran awal. Pastilah hal ini merupakan penyusutan yang lebih pesat dibandingkan tumor mana pun yang bisa didiagnosis dengan diagnosis tingkat tinggi. Tidak ada perawatan lain selain satu suntikan yang kemudian diketahui sia-sia itu.
Daniel B. Mark, kardiolog dari Duke University School of Medicine, melakukan penelitian observasional terhadap 1.719 pria dan wanita setelah menjalani kateterisasi jantung. Dua belas bulan berikutnya, 12 persen dari kelompok ini, mereka yang pesimis sejak awal, mengalami kematian. Sementara mereka yang optimis, memiliki persentase kematian hanya 5 persen. Dr. Nancy Frasure-Smith dari Montreal Heart Institute menemukan angka prediksi kemungkinan kematian pasien jantung dengan tingkat pesimisme tinggi dalam rentang delapan belas bulan. Pasien-pasien yang pesimis memiliki tingkat kematian delapan kali lebih besar dibandingkan pasien yang optimis.
Para peneliti di Universitas Pennsylvania (Kamen-Siegel dkk.) menemukan bukti bahwa para pria-wanita berusia 62 hingga 87 tahun yang optimis memiliki helper T-cell yang lebih tinggi. Ini bermakna bahwa mereka memiliki kemampuan yang lebih besar untuk menang melawan penyakit.
Buchanan dan Seligman dalam risetnya menemukan bukti bahwa manula yang bertahan hidup di penghujung periode delapan puluh tahun adalah golongan yang memiliki optimisme yang tinggi.
Bagaimana Anda?
Penulis: Prof. Dr. H. Abdurachman, dr., M.Kes. PA(K).
Link:





