Stunting masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia. Kondisi ini terjadi ketika anak gagal tumbuh dengan optimal akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Dampaknya tak hanya terlihat pada tinggi badan, tapi juga berisiko mengganggu perkembangan otak, sistem imun, hingga prestasi akademik di masa depan. Untuk mengatasi hal ini, berbagai intervensi telah dilakukan pemerintah, salah satunya adalah pemberian makanan tambahan (PMT). Namun, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa pendekatan yang lebih spesifik melalui pemberian Oral Nutrition Supplement (ONS) ternyata memberikan hasil yang lebih signifikan dalam memperbaiki status gizi dan perkembangan anak stunting.
ONS atau PKMK adalah produk gizi padat energi dan protein yang diformulasikan khusus untuk mendukung pemulihan anak dengan gangguan pertumbuhan. Berbeda dengan PMT biasa, ONS memiliki komposisi zat gizi makro dan mikro yang terukur dan mudah diserap tubuh. Penelitian ini dilakukan terhadap 20 balita usia 1259 bulan yang mengalami stunting di wilayah kerja Puskesmas Panarung, Palangka Raya. Intervensi dilakukan selama 90 hari, di mana anak-anak diberi ONS 2 kali sehari (pagi dan sore) dalam jumlah yang telah ditakar sesuai anjuran dokter gizi klinik. Tak hanya status gizi, peneliti juga mengevaluasi perkembangan anak menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP).
Setelah 3 bulan pemberian ONS, terjadi peningkatan berat badan dan tinggi badan yang signifikan pada anak-anak. Nilai z-score BB/U dan TB/U meningkat bermakna secara statistik. Lebih menarik lagi, perkembangan anak berdasarkan KPSP juga menunjukkan perbaikan yang signifikan. Jika sebelumnya ada anak yang termasuk dalam kategori 渕eragukan atau 減enyimpangan, kini sebagian besar beralih ke kategori 渟esuai. Peningkatan ini menunjukkan bahwa pemenuhan zat gizi yang optimal tidak hanya berdampak pada fisik anak, tetapi juga pada fungsi kognitif dan motorik. Hal ini menjadi bukti bahwa gizi berkualitas sangat berpengaruh pada tumbuh kembang secara menyeluruh.
ONS hadir sebagai intervensi spesifik yang dapat melengkapi program PMT. Dosis, komposisi, dan pemberiannya disesuaikan dengan kondisi anak secara individual. Di sisi lain, peneliti menyadari bahwa keberhasilan intervensi ONS juga dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap orang tua terhadap pentingnya gizi dan peran mereka dalam mendampingi proses pemberian suplemen.
Penelitian ini menegaskan bahwa ONS adalah solusi gizi yang efektif untuk mempercepat pemulihan status gizi dan perkembangan anak balita stunting. Kombinasi antara intervensi gizi yang terstandar dan pendekatan edukatif kepada orang tua menjadi strategi yang tepat dan dapat diterapkan di berbagai daerah di Indonesia.
Ke depan, program PMT yang selama ini bersifat umum dapat ditingkatkan dengan menambahkan intervensi ONS pada anak dengan kondisi stunting berat, disertai pemantauan klinis dan dukungan dari tenaga kesehatan.
Oleh: Nur Aisiyah Widjaja





