Penggunaan smartphone telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam dinamika keluarga. Namun, kehadiran teknologi ini juga menghadirkan tantangan baru bagi hubungan antara orangtua dan anak. Ketika orangtua terlalu sering fokus pada smartphone saat bersama anak, muncul fenomena yang dikenal sebagai parental phubbing, yaitu situasi ketika orangtua secara fisik hadir bersama anak tetapi perhatian mereka teralihkan oleh gawai.
Penelitian yang dilakukan oleh Liza Marini, Wiwin Hendriani, Primatia Yogi Wulandari, dan Vahid Norouzi Larsari dan dipublikasikan dalam Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi (2025) menunjukkan bahwa perilaku tersebut dapat meningkatkan risiko penggunaan smartphone yang bermasalah (problematic smartphone use) pada remaja. Penelitian ini juga menemukan bahwa kualitas kelekatan antara orangtua dan anak memainkan peran penting dalam menjelaskan hubungan tersebut. Penelitian ini melibatkan 654 remaja berusia 12“18 tahun di Kota Medan. Para peserta diminta mengisi kuesioner mengenai pengalaman mereka terhadap perilaku penggunaan smartphone orangtua, kualitas hubungan emosional dengan orangtua, serta kebiasaan mereka sendiri dalam menggunakan smartphone. Hasil analisis menunjukkan bahwa semakin sering remaja mengalami parental phubbing, semakin tinggi pula kecenderungan mereka untuk menggunakan smartphone secara berlebihan atau tidak terkendali.
Temuan penting lainnya adalah bahwa hubungan emosional antara orangtua dan anak atau parental attachment berperan sebagai mediator dalam hubungan tersebut. Ketika orangtua terlalu sering terdistraksi oleh smartphone, remaja dapat merasa diabaikan atau kurang diperhatikan. Kondisi ini berpotensi melemahkan kedekatan emosional dalam hubungan orangtua“anak. Ketika kelekatan tersebut melemah, remaja cenderung mencari pemenuhan kebutuhan emosional melalui aktivitas lain, termasuk penggunaan smartphone secara berlebihan. Sebaliknya, ketika hubungan emosional antara orangtua dan anak terjalin dengan baik (ditandai oleh kepercayaan, komunikasi yang terbuka, serta rasa diterima) remaja cenderung memiliki kontrol yang lebih baik dalam menggunakan smartphone. Dengan kata lain, kelekatan yang kuat dapat berfungsi sebagai faktor pelindung yang membantu remaja mengembangkan hubungan yang lebih sehat dengan teknologi.
Hasil penelitian ini menegaskan bahwa perilaku digital orangtua memiliki dampak yang tidak langsung namun signifikan terhadap kebiasaan digital anak. Melalui proses pembelajaran sosial, anak cenderung meniru pola perilaku yang mereka lihat pada orangtua. Jika orangtua sering menggunakan smartphone saat berinteraksi dengan keluarga, perilaku tersebut dapat dipersepsikan sebagai hal yang wajar dan kemudian ditiru oleh remaja. Penelitian ini memberikan implikasi penting bagi praktik pengasuhan di era digital. Orangtua tidak hanya perlu mengawasi penggunaan teknologi pada anak, tetapi juga perlu merefleksikan kebiasaan penggunaan teknologi mereka sendiri. Mengurangi penggunaan smartphone saat berinteraksi dengan anak serta membangun komunikasi yang hangat dan responsif dapat membantu memperkuat hubungan emosional dalam keluarga.
Selain itu, penelitian ini juga menyoroti pentingnya program literasi media bagi orangtua. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang penggunaan teknologi yang sehat, orangtua dapat menjadi teladan yang positif bagi anak sekaligus menciptakan lingkungan keluarga yang mendukung perkembangan digital yang lebih seimbang. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa kualitas hubungan antara orangtua dan anak tetap menjadi faktor kunci dalam perkembangan remaja, bahkan di tengah perubahan besar yang dibawa oleh teknologi digital. Dengan menjaga kelekatan yang kuat dan interaksi yang berkualitas, keluarga dapat membantu remaja mengembangkan kebiasaan penggunaan teknologi yang lebih sehat dan bertanggung jawab.
Penulis: Dr. Wiwin Hendriani, S.Psi., M.Si.
Detail tulisan ini dapat dilihat di:





