51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Pacu Jalur Soft Power Diplomacy Baru

(Foto: Youtube blue angel)

Saya beberapa kali mengunjungi Perancis dari pantai Calais “ yang berseberangan dengan pantai Dover Inggris –  menuju kota Amiens sampai ke Reims yang terdapat sebuah Katedral besar. Dari beberapa kota itu tentu saya tidak bisa kalau tidak mengunjungi ibukota Paris, salah satu kota  besar Eropa dan pusat global untuk seni, mode, keahlian memasak, dan budaya. Pemandangan kotanya abad ke-19 dilintasi oleh jalan raya lebar dan Sungai Seine. Di luar landmark seperti Menara Eiffel dan Katedral Notre-Dame Gotik abad ke-12, kota ini terkenal dengan budaya kafe dan butik desainer di sepanjang Rue du Faubourg Saint-Honoré. Di kota Paris ini saya menuju salah satu stasiun KA yang besar yaitu Gare Du Nord untuk naik Metro yang mengelilingi ibu kota.

Salah satu jalan terkenal yang saya selalu kunjungi di Paris itu Champs-Élysées sebuah jalan utama yang lebar. Jalan ini membentang dari Place de la Concorde ke Arc de Triomphe dan dikenal sebagai salah satu jalan paling indah di dunia. “Champs-Élysées” secara harfiah berarti “Elysian Fields”, yang dalam mitologi Yunani merujuk pada tempat peristirahatan bagi para pahlawan. 

Di jalan utama yang terkenal inilah bangsa Indonesia lewat kepiwaian 500 anggota Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian RI menunjukkan kehebatannya menampilkan marching band dan pasukan defile yang tampil di Hari Kemerdekaan Perancis Bastille Day tanggal 14 Juli 2025 dihadapan Presiden Perancis Emanuel Macron dan tamu-tamu negara dan disaksikan jutaan mata lewat media TV dan sosial media.

Saya tahun 1960-an sebagai orang kelahiran Surabaya sudah sering melihat kehebatan dan marching band Akademi Angkatan Laut (AAL) dan Akademi Militer Nasional (AMN) di Surabaya. Marching band ini sering memukau khalayak di beberapa negara di dunia ini

Menariknya selain penampilan marching band dan pasukan defile itu, para anggota TNI dan Polri ketika berada di kawasan Champs Elysees ini juga menampilkan atraksi yang menarik perhatian masyarakat Paris yaitu tari Pacu Jalur. Budaya Pacu Jalur itu bukanlah budaya sementara yang muncul sesaat lalu hilang, masa terkenalnya hanya sebentar yang kemudian dilupakan orang. Karena sebagai budaya maka meskipun suatu saat dunia melupakannya, namun Pacu Jalur sebagai Budi-Daya masyarakat yang turun temurun di bumi Riau akan terus hidup. Tarian yang terinspirasi penampilan peran Anak Coki dan fenomena aura farming di TikTok, pacu jalur membentuk narasi baru tentang olahraga, identitas, dan politik-budaya.

Pertunjukan tari Pacu Jalur dari anggota TNI dan Polri di Paris itu menarik perhatian khalayak dimana para perwira dan bintara tentara Perancis ikut nimbrung menari dengan lincah dan bahagia.

Dalam hubungan internasional Indonesia telah menjadikan tari Bali, Tari Jawa, Tari Papua, Sumatra dsb termasuk angklung sebagai sarana diplomasi budaya “soft power”. Indonesia sangat kaya akan keragamaan budayanya sehingga kegiataan diplomasi Indonesia memiliki beraneka ragam cara berdiplomasi dalam bentuk Soft Power ini misalkan diplomasi makanan atau culinary diplomacy, traditional dances diplomacy, music diplomacy (antara lain seperti angklung ini).

Dan sekarang tari Pacu Jalur menjadi salah satu khasanah soft power diplomacy bangsa Indonesia yang dengan indahnya ditampilkan para anggota TNI dan Polri di Champs Elysees itu.

AKSES CEPAT