51动漫

51动漫 Official Website

Pakar Budaya UNAIR: Tradisi Muludan Wujud Akulturasi Budaya

Ilustrasi tradisi Kirab Ampyang (Foto: dok. Istimewa)

UNAIR NEWS – Tradisi muludan atau peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan warisan budaya Islam yang masih terjaga. Peringatan tersebut jatuh setiap 12 Rabiul Awwal dalam kalender Hijriah. Secara bahasa, maulid berarti hari kelahiran, sedangkan maulud merujuk pada sosok yang dilahirkan yakni Nabi Muhammad SAW. Namun, di Indonesia terutama masyarakat jawa sering menyebutkannya dengan istilah muludan.

Ahmad Syauqi SHum MSi, Akademisi Sastra dan Budaya Islam 51动漫 (UNAIR) mengungkapkan bahwa tradisi muludan merupakan hasil dari akulturasi antara ajaran Islam dengan budaya lokal. Tradisi ini berkembang sejak era Walisongo di Nusantara. 

Syauqi menjelaskan bahwa tradisi muludan mempunyai makna religius sebagai perwujudan keimanan dan kecintaan kepada Rasulullah. Sebab, Rasulullah merupakan figur teladan yang senantiasa membawa kasih sayang bagi alam semesta.

Akademisi Sastra dan Budaya Islam FIB UNAIR, Ahmad Syauqi S Hum M Si (Foto: dok. narasumber)
Akademisi Sastra dan Budaya Islam FIB UNAIR, Ahmad Syauqi SHum MSi (Foto: dok. narasumber)

Selain itu, muludan juga mengandung nilai filosofis yang mencerminkan solidaritas sosial, gotong royong, sekaligus media dakwah melalui simbol-simbol budaya. Beberapa contoh di antaranya seperti endog-endogan di Banyuwangi, Kirab Ampyang di Kudus. 

淚ni merupakan wujud syukur. Bahwasanya tradisi muludan pastinya berbeda beda di setiap daerah namun pada dasarnya merujuk pada syukur atas bahagianya kelahiran Rasulullah, ungkap Dosen UNAIR itu.

Menurutnya, tradisi ini juga mengandung nilai pendidikan karakter untuk meneladani meneladani sifat-sifat Rasulullah, seperti jujur, dermawan, menepati janji, dan humanis.

Tak hanya itu ia juga menyoroti pergeseran bentuk kegiatan atau ritual yang dikemas secara formal dan sederhana. 淢ungkin di samping satu sisi sederhana, tidak ada tradisi yang harus menggunakan simbol-simbol secara saklek. Meskipun ada di beberapa daerah masih mempertahankan itu, namun intinya adalah bisa berkumpul dan memeriahkan, tuturnya.

Lebih lanjut, Syauqi menyebutkan bahwa tradisi ini masih tetap bertahan meskipun berhadapan dengan arus modern. Salah satu penyebabnya adalah kemajuan teknologi yang berkembang secara pesat. 淜ehadiran medsos membawa perubahan yang signifikan, seperti penyebaran yang sangat cepat, bisa melakukan live streaming, merekam momen dan editing video, ujarnya

Kendati demikian, Syauqi menekankan pentingnya peran pendidikan dan komunitas dalam menjaga keberlanjutan tradisi. 淧ada dasarnya, tradisi maulid ini dijadikan wasilah perantara untuk bagaimana bermuara pada cinta kepada Rasulullah dan beriman kepada ajaran yang dibawanya yaitu ajaran syariat islam, tutupnya. 

Penulis: Adinda Octavia Setiowati

Editor: Yulia Rahmawati

AKSES CEPAT