UNAIR NEWS – Lingkungan memiliki pengaruh besar bagi penyandang disabilitas untuk berpartisipasi penuh pada masyarakat. Tak hanya hambatan fisik, penyandang disabilitas harus menghadapi stigma yang menyebabkan adanya ketidaksetaraan perlakuan.
Guna memahami stigma tersebut dan mengatasinya, 51动漫 (UNAIR) menghadirkan Prof Katrina Scior PhD, Profesor Clinical Psychology and Stigma Studies dari dalam gelaran International Virtual Symposium 2024 pada Kamis (19/9/2024). Sesi Prof Katrina merupakan salah satu dari sembilan sesi simposium 淐linical Neuropsychology and Cyberpsychology yang berlangsung selama tiga hari.
Terdapat setidaknya 50 akademisi internasional dan mahasiswa yang hadir secara virtual dalam sesi ini. Dengan mengusung tajuk 淒isability Stigma Around The World, Prof Katrina mengajak audiens untuk mengenal lebih jauh tentang stigma, dampaknya, serta langkah mengatasi stigma disabilitas.
Tentang Stigma Disabilitas
Secara bahasa, stigma berasal dari Yunani Kuno yang artinya 榯anda. Stigma merupakan proses 渕enandai atau mendiskreditkan identitas seseorang dan menganggapnya ternoda atau rendah. Stigma seringkali menancap hingga ke alam bawah seseorang dan mengaburkan jati diri individu sebenarnya.

淪ederhananya, pembentukan stigma melibatkan tiga elemen. Yaitu ketika individu atau sekelompok orang di sekitar seseorang berprasangka buruk akan suatu hal yang menuntun mereka kepada diskriminasi, jelas Prof Katrina pada pembukaan sesinya.
Selanjutnya, selain menjelaskan tipe stigma Prof Katrina juga memaparkan dampak buruk adanya stigma pada penyandang disabilitas. 淪tigma terhadap penyandang disabilitas menyebabkan penolakan terhadap hak untuk menentukan nasib sendiri, diskriminasi dalam berbagai sektor seperti pendidikan dan pekerjaan. Selain itu, mereka sering dikeluarkan dari kehidupan sosial dan menjadi sasaran pelecehan serta kejahatan kebencian, papar psikolog klinis itu.
Upaya Menanggulangi Stigma
Berdasarkan model yang Prof Katrina kembangkan, terdapat empat level di mana stigma disabilitas secara bertahap perlu dipahami dan diberantas. 淒alam struktur terluar, kita perlu memberantas stigma pada level institusi. Selanjutnya stigma juga perlu kita berantas pada level komunitas, level keluarga, dan yang terakhir dan paling penting adalah menghilangkan stigma dalam level individual, ungkapnya.
Pada level institusi dan komunitas, Prof Katrina mengingatkan bahaya dari benevolent ableism seperti memuji berlebihan maupun menggantikan aktivitas penyandang disabilitas. Alih-alih mendukungnya untuk melakukannya sendiri. Walau terkesan positif, perilaku ini memandang penyandang disabilitas sebagai individu yang perlu dikasihani dan memperparah stigma yang beredar.
Pada level keluarga Prof Katrina menekankan pentingnya penerimaan, terutama orang tua, pada kondisi penyandang disabilitas. Terakhir, pada level individu stigma dapat direduksi dengan meningkatkan kapasitas diri, mempertahankan self-esteem, dan mendukung penyandang untuk membela diri guna menghadapi stigma yang dialami.
Penulis: Zahwa Sabiila Ilman Ramadhani
Editor: Yulia Rohmawati





