UNAIR NEWS Indonesia resmi menandatangani Agreement on Reciprocal Tariff (ART) dengan membuka sekitar 99 persen tarif barang dari Amerika Serikat (AS). Menanggapi hal tersebut, Dosen Ekonomi Internasional 51动漫 (UNAIR), Dr Unggul Heriqbaldi SE MSi MApp Ec, memberikan pandangannya.
Unggul menilai dalam perspektif ekonomi internasional, kesepakatan perdagangan tidak selalu bersifat simetris, tetapi mendapat pengaruh dari kekuatan ekonomi dan posisi tawar negara. Secara struktur ekonomi, AS memiliki daya tawar lebih kuat karena ukuran ekonominya besar dan pasar domestiknya menjadi tujuan utama ekspor negara berkembang.
淒alam banyak perjanjian perdagangan, negara berkembang sering memberikan konsesi lebih besar untuk mempertahankan akses pasar ke negara maju. ART dapat dipahami sebagai strategi Indonesia menjaga akses pasar ekspor. Khususnya, sektor manufaktur padat karya seperti tekstil dan alas kaki yang sangat bergantung pada pasar AS, jelasnya.

Dampak ART Bagi Indonesia
Unggul menyebut bahwa dalam praktik perdagangan internasional, resiprositas tidak selalu berarti kesetaraan tarif secara identik. Jika Indonesia membuka lebih dari 99 persen tarif untuk produk AS, sementara Indonesia masih menghadapi tarif hingga 19 persen di pasar AS, maka secara teknis hubungan tersebut tidak sepenuhnya simetris.
淚ni menunjukkan bahwa posisi tawar Indonesia dalam negosiasi kemungkinan lebih fokus pada menjaga stabilitas akses pasar ekspor daripada menuntut kesetaraan tarif secara langsung. Namun tentu saja, pemerintah perlu memastikan bahwa konsesi tersebut diimbangi dengan keuntungan strategis jangka panjang. Keuntungan tersebut seperti transfer teknologi, investasi, atau integrasi rantai pasok global, terangnya.
Menurutnya, perjanjian ini berpotensi meningkatkan kompetisi di pasar domestik. Industri dengan biaya produksi tinggi atau teknologi tertinggal akan menghadapi tekanan lebih besar. Sebaliknya, sektor yang membutuhkan bahan baku atau teknologi dari AS dapat memperoleh manfaat melalui penurunan biaya produksi.
淪ektor yang relatif rentan biasanya industri berorientasi pasar domestik dengan produktivitas rendah, seperti produk pertanian, makanan olahan, dan manufaktur ringan. Sementara sektor yang berpotensi mendapat keuntungan adalah industri yang terintegrasi dalam global value chain seperti tekstil, elektronik, serta industri kimia dan farmasi, imbuhnya.
Strategi Indonesia
Unggul menilai kenaikan ekspor Indonesia dapat mengimbangi potensi peningkatan impor. Peluang tarif nol juga dapat menjadi kesempatan strategis bagi industri tekstil. Hal ini bisa terjadi AS merupakan salah satu pasar ekspor terbesar bagi produk tekstil dan pakaian jadi Indonesia.
淛ika hanya membuka pasar tanpa strategi industrial yang jelas, maka Indonesia berisiko menjadi pasar konsumsi bagi produk asing. Namun, jika disertai dengan kebijakan peningkatan produktivitas industri, investasi teknologi, dan penguatan rantai pasok domestik, maka perjanjian seperti ini justru bisa menjadi pintu masuk integrasi Indonesia dalam global value chain, jelasnya.
Ia menambahkan beberapa langkah yang dapat Indonesia lakukan. Langkah tersebut ialah memperkuat industri domestik melalui peningkatan produktivitas dan teknologi, mendorong investasi manufaktur berorientasi ekspor. Selain itu, juga mengembangkan industri hulu, meningkatkan kualitas SDM industri, serta memanfaatkan perjanjian perdagangan untuk transfer teknologi dan investasi. 淒engan strategi tersebut, Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain penting dalam rantai produksi global, pesannya.
Penulis: Putri Andini
Editor: Ragil Kukuh Imanto





