51动漫

51动漫 Official Website

Pakar UNAIR Tegaskan Oposisi Politik Penting untuk Check and Balances

Ilustrasi Oposisi Politik (Foto: Tempo.co)

UNAIR NEWS – Pada Selasa (27/8/2024), Presiden terpilih Prabowo Subianto menyampaikan sebuah pernyataan bahwa oposisi politik merupakan budaya barat. Oleh karena itu, Prabowo ingin mengajak berbagai partai politik untuk bergabung ke dalam kabinetnya.

Pakar politik 51动漫, Irfa檌 Afham SIP MSi memberikan tanggapan terkait pernyataan tersebut. Menurutnya, dalam konsep demokrasi keberadaan oposisi sangat penting. Demokrasi selalu menghendaki adanya keberagaman dalam politik. Oleh karena itu, perlu ada keberagaman politisi, ideologi, partai, dan identitas. 

淒alam mekanisme elektoral, nilai demokrasi ini (keberagaman, Red) bertujuan untuk memunculkan oposisi dan oposisi sangat penting untuk checks and balances. Upaya penyeragaman politik total ini mengancam masa depan demokrasi Indonesia, terangnya. 

Praktik demokrasi muncul di berbagai negara sebagai kritik atas praktik kerajaan (feodalisme). Melalui Demokrasi berbagai organisasi politik dapat muncul untuk bersaing dan saling mengkritik. Kritik-kritik itu sangat penting dalam mengawasi jalannya pemerintahan. Tanpa kritik, pemegang kekuasaan akan berbuat sesuka hati. 

淭erlebih, Indonesia punya masa kelam otoritarian ketika kebebasan politik begitu dikekang oleh penguasa sehingga tidak ada oposisi. Kritik terhadap kekuasaan juga dianggap sebagai ancaman terhadap negara. Padahal justru kritik itu begitu diperlukan untuk mengoreksi bagaimana penguasa menjalankan kekuasaannya, ucap Irfa檌 Afham SIP MSi.

Keberagaman politik juga mendorong adanya pergantian elit atau pemegang kekuasaan. Menurut itu, demokrasi di Indonesia dapat berjalan sebab adanya keberagaman politik, bukan penyeragaman total politik tanpa oposisi.

Para pendiri bangsa membentuk Indonesia dari keberagaman politik serta pertentangan oposisi dari spektrum politik kanan maupun kiri. Dinamika tersebut membuat proses politik menjadi bermakna sehingga dapat membentuk Republik Indonesia yang demokratis. 

淎kan tetapi, ketika masuk era otoritarian pada orde baru, terjadi penyeragaman dalam seluruh kehidupan politik. Euforia reformasi memunculkan secerca harapan untuk kembali melahirkan keberagaman politik dan termasuk eksistensi oposisi politik, ucapnya.

Namun, Irfa檌 menilai bahwa oposisi politik di Indonesia masih lemah karena bersifat sementara. 淢eski demikian budaya oposisi pasca reformasi masih lemah karena oposisi seringkali hanya temporer, tidak permanen. Acapkali konflik ini tidak diselesaikan dengan adu gagasan dalam proses demokratis, melainkan proses-proses politik transaksional, tambahnya. 

Irfa檌 mengatakan bahwa Indonesia memerlukan oposisi politik yang berjangka panjang, yang dapat beradu gagasan, kritik, dan ideologi melalui proses demokratis. 淥posisi-oposisi yang humanis, yang memiliki gagasan kebangsaan kuat dan mempertimbangkan pentingnya masyarakat sipil dalam merawat kehidupan politik demokratis yang sehat sangat kita perlukan untuk mengawasi dan mengoreksi jalannya kekuasaan di Indonesia, tutupnya.

Penulis: Muhammad Naqsya Riwansia

Editor: Edwin Fatahuddin 

AKSES CEPAT