Perceraian orangtua tidak hanya berdampak terhadap pasangan suami dan istri, namun juga pada anak-anaknya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang mengalami perceraian orangtua memiliki risiko lebih tinggi dalam kesehatan mentalnya, seperti kecemasan, upaya bunuh diri, penggunaan alkohol, merokok, dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Pada remaja khususnya, diperoleh data adanya indikasi peningkatan jumlah remaja yang mengalami depresi akibat kondisi orangtuanya yang bertengkar, tidak harmonis, dan bercerai, dari tahun ke tahun.
Penelitian-penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa kejadian-kejadian yang ditimbulkan oleh perceraian orangtua memang dapat menjadi tekanan bagi remaja, meskipun demikian ternyata tidak semua kejadian pasca perceraian dianggap sebagai tekanan yang erat kaitannya dengan masalah kesehatan mental pada remaja. Hal ini yang menjadi ketertarikan bagi sekelompok peneliti dari Fakultas Psikologi Unair yang berusaha mengetahui kejadian apa saja yang menekan pada remaja yang mengalami depresi pasca perceraian orangtua serta perubahan apa saja yang dialami mereka dalam hal pikiran, perasaan, maupun perilaku pada pasca perceraian orangtuanya. Secara detil, hasil penelitian ini dituangkan dalam Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology (JPU) Volume 10, nomor 1 Tahun 2023, berjudul Kejadian Hidup yang Menekan bagi Remaja yang Memiliki Gejala Depresi Pasca Perceraian Orangtua (Stressful Life Events among Depressed Adolescents after Parental Divorce). Tautan tulisan ini dapat diakses di DOI: 10.24854/jpu581.
Penelitian ini menemukan lima tema kejadian hidup yang dianggap menekan, yaitu (1) relasi keluarga yang kurang kohesif, (2) kehilangan dukungan dan kasih sayang dari orangtua, (3) permasalahan akademik, (4) pernikahan kembali orangtua, serta (5) kondisi ekonomi yang menurun. Dari kelima kejadian hidup tersebut, kehilangan salah satu figur orangtua merupakan tekanan terbesar bagi mayoritas remaja yang menjadi subjek penelitian. Perceraian orangtua menyebabkan remaja kehilangan akses ke salah satu orangtua yang kemungkinan merupakan penyedia dukungan emosional bagi mereka. Hal inilah yang menyebabkan remaja merasakan kehilangan figur tersebut pasca perceraian.
Kejadian hidup tertinggi kedua yang dirasakan menjadi tekanan terbesar oleh remaja adalah paparan terhadap pertengkaran fisik orangtua, yang merupakan salah satu bagian dari relasi keluarga yang kurang kohesif. Pertengkaran yang mewarnai konflik orangtua menjadikan remaja merasa tidak ada yang membantu mereka dalam menyelesaikan permasalahan yang dialaminya. Hal ini dikarenakan waktu ayah dan/atau ibunya lebih banyak terfokus pada relasi yang berkonflik di antara keduanya. Padahal remaja juga membutuhkan dukungan penuh dari kedua orangtua untuk mengatasi berbagai tekanan dalam kehidupannya. Kondisi ini yang membuat remaja merasa tertekan dengan kehidupan pasca perceraian orangtuanya.
Tiga kejadian hidup lainnya yang menekan bagi remaja adalah permasalahan akademik, pernikahan kembali orangtua, serta kondisi ekonomi yang menurun. Remaja merasakan adanya tuntutan yang tinggi di sekolah, sehingga ia tidak memiliki semangat untuk belajar. Di samping itu, pernikahan kembali orangtua ternyata menimbulkan kecemasan bagi remaja. Hal ini dikarenakan adanya rasa takut ditinggalkan orangtua yang telah memiliki keluarga baru ataupun kondisi harus tinggal dengan keluarga tiri yang belum pernah dikenal sebelumnya. Terakhir, penurunan kondisi finansial keluarga juga dianggap sebagai situasi yang menekan bagi sebagian besar remaja karena mereka merasa kebutuhannya tidak dapat terpenuhi sebagaimana kondisi sebelum orangtuanya bercerai. Terlebih, bila orangtua yang memiliki hak asuh tidak memiliki pekerjaan yang jelas dan stabil.
Hasil lain yang ditemukan oleh penelitian ini adalah adanya perubahan-perubahan pada remaja pasca perceraian orangtuanya. Perubahan-perubahan tersebut meliputi adanya perasaan diri yang tidak berharga yang muncul karena rasa malu memiliki orangtua yang tidak lengkap. Beberapa remaja memandang dirinya sebagai pribadi yang tidak baik, dipandang rendah orang lain, serta akan membawa pengaruh buruk terhadap lingkungannya. Di samping itu, remaja juga merasa tidak bersemangat menjalani hidup serta tidak dapat berkonsentrasi dalam belajar setelah perceraian orangtuanya.
Sebaliknya, ada pula perubahan yang bersifat positif, yaitu merasa lebih mandiri. Remaja dari orangtua yang bercerai ternyata justru terlihat lebih cepat dewasa, lebih bertanggung jawab, serta menunjukkan kemandiriannya dengan berani mengambil keputusan secara mandiri, bila dibandingkan dengan remaja dari keluarga utuh. Hal ini dikarenakan kondisi perceraian orangtua menuntut remaja untuk memiliki dan menjalankan peran baru, seperti mengambil lebih banyak pekerjaan rumah, mengurus saudara yang lebih kecil, dan menjadi pendamping ibu atau ayahnya. Hasil ini cukup menarik karena menunjukkan bahwa perubahan-perubahan yang dialami remaja pasca perceraian orangtua ternyata tidak selalu bersifat negatif.
Hal yang penting dicatat dari hasil penelitian ini adalah perlunya eksplorasi lebih mendalam tentang dinamika setiap kejadian hidup yang dianggap menekan bagi remaja agar dapat menjadi dasar penyusunan intervensi yang tepat. Orangtua juga diharapkan dapat lebih menjalin komunikasi yang efektif dengan anak remajanya agar anak dapat mengkomunikasikan perasaan dan pikirannya secara lebih terbuka. Upaya-upaya tersebut dapat membantu remaja yang mengalami perceraian orangtua, khususnya yang memiliki gejala depresi.
Penulis: Endang Retno Surjaningrum dan Primatia Yogi Wulandari
Referensi:
Dianovinina, K., Surjaningrum, E.R., Wulandari, P.Y., (2023) Kejadian Hidup yang Menekan bagi Remaja yang Memiliki Gejala Depresi Pasca Perceraian Orangtua, Journal Psikologi Ulayat: Indonesian Yournal of Indigeneous Psychology: 10 (1), 151-166, DOI: 10.24854/jpu581.





