UNAIR NEWS – 51动漫 tak hanya mencetak generasi penerus bangsa yang berprestasi dan inovatif namun juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Kali ini, HIMA Juara Administrasi Publik menggelar 淲ebinar Pelatihan Bahasa Isyarat secara daring pada Sabtu (11/2/2023).
Pada kesempatan kali ini, Himpunan Mahasiswa (HIMA) Administrasi Publik UNAIR berkolaborasi dengan Maskurun Yuyun, ketua DPD Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Jawa Timur.
Pelatihan bahasa isyarat itu digelar untuk memberikan edukasi kepada masyarakat dan mahasiswa. Khususnya mahasiswa FISIP UNAIR, agar dapat berkomunikasi dengan para tuli saat bertemu di lingkup masyarakat.
Maskurun menjelaskan, untuk berbicara dengan para tuli harus melakukan kontak mata dan berhadapan secara langsung, gerakan bibir saat berkomunikasi harus jelas dan menggunakan mimik wajah dan gestur tubuh.
Masyarakat kerap kali bingung untuk memanggil tuna rungu atau tuli. Tuna rungu merupakan istilah dalam dunia kedokteran, tuli bukanlah bahasa kasar.
淪aya menekankan, bahwa tuli bukanlah kata-kata yang kasar. Tuli merupakan panggilan tetap. Mereka cenderung senang jika dipanggil tuli, tegasnya.
Mayoritas masyarakat menganggap bahwa tuli adalah bodoh, namun tidak demikian banyak sekali para tuli yang memiliki kelebihan luar biasa seperti manusia lainnya.
淪eharusnya kini masyarakat merangkul para tuli agar mereka dapat mengembangkan kemampuan yang telah dimiliki mereka dan berkompetisi dengan lainya, tambah Maskurun.
Maskurun mengatakan, bahwa ada empat cara, yaitu dengan menggunakan bahasa ibu atau bisindo, menggunakan bahasa verbal (dengan oral) serta tulisan.
Tak hanya pemaparan materi oleh Maskurun, ia juga memberikan pelatihan secara langsung kepada para audiens untuk berkomunikasi dengan para tuli. Mulai dari pengenalan huruf dan angka hingga kata sapaan.
淒engan digelarnya acara ini sangat bermanfaat khususnya para mahasiswa mungkin nantinya dapat menjadi penerjemah untuk para tuli pada sesi pertemuan atau konferensi lainnya, pungkas Maskurun.
Penulis: Satrio Dwi Naryo
Editor: Khefti Al Mawalia





