n

51动漫

51动漫 Official Website

Pelabuhan

Ilustrasi: Rio F. Rachman

KAMISpekan lalu selepas pulang kuliah aku langsung ke pelabuhan masih dengan atribut lengkap anak kampusan. Paman dan istrinya akan tiba dari Kalimantan sekitar jam dua siang. Tujuan mereka ke sebuah kota di Kalimantan itu adalah menikahkan anak perempuannya yang dapat suami orang Dayak.

Sebenarnya mereka berencana naik kapal terbang, tapi karena lambat membooking, tiket pun ludes sehingga terpaksa mereka pakai kapal laut. Jadwal pesawat dari sana kesini hanya tiga kali seminggu. Selasa, Rabu, Kamis. Maklumlah kotanya tidak tergolong besar. Jarang penumpang. Hanya satu perusahaan pesawat yang mengudara. Mahal benar pula tiketnya.

Padahal tepat hari minggu besoknya, anak mereka yang lain akan menikah. Tapi akad dan resepsinya tidak diadakan di luar kota meskipun calon istrinya asli Tulung Agung. Calon besannya yang datang ke sini, Surabaya.

Tahun ini memang musim nikah bagi keluarga kami. Terhitung lima sepupu dan satu paman yang menikah tahun ini.

Di perjalanan menuju dermaga aku sempat diserapahi sopir angkot karena terlalu ceroboh saat memotong jalan untuk putar balik. 淕oblok!!! ujarnya lantang. Beberapa pengendara lain yang kulihat di sekitarku tak peduli dengan kejadian sepele itu namun beberapa yang lain tertawa ringan terkesan mengejek. Aku pun demikian. Menertawakan kesembronoanku dan kenaikpitaman sang sopir.

Tiket masuk ke area pelabuhan tiga ribu rupiah bagi satu orang termasuk sepeda motor. Kalau naik kendaraan roda empat hitungannya per-orang tiga ribu lima ratus. Sehabis memarkir kendaraan aku langsung ke gerbang sebelah timur. Setelah turun dari kapal, biasanya para penumpang keluar lewat pintu itu. Aku berniat untuk langsung nyelonong masuk agar bisa menyambut pamanku tepat saat mereka baru turun dari kapal. Jadi aku bisa ikut mengangkatkan barang bawaan mereka. Meski mereka biasa memakai jasa porter, siapa tahu ada beberapa tas ringan yang mereka tenteng yang memungkinkan untuk kuambilalih membawakan. Tapi langkahku tertahan saat seorang anak pamanku memanggilku..

淩oy!! teriaknya. Satu kata itu cukup membuatku menghampirinya.

淜au bawa mobil? tanya Bang Toha setelah aku tepat di hadapannya.

淓nggak Bang. Aku pulang kuliah langsung ke sini. Mobilnya dipakai kakak. Memangnya Abang nggak bawa? aku balik tanya.

淢obilnya dipakai Sandi, jemput calon mertuanya. Tapi gampanglah, nanti kalau sepeda motor kita nggak cukup biar mereka naik taksi aja. Dari awal niatku juga begitu ucapnya santai seraya menyodorkan harian lokal kepadaku. Namun aku sedang malas membaca sehingga koran itu hanya ku pegang lalu aku pun duduk di samping Bang Toha, tidak di bangku, hanya di logam menjulur yang merupakan pagar rendah yang membatasi antara selokan dan halaman pelabuhan.

Pelabuhan begitu ramai. Tak jauh beda dengan terminal, bandara, atau stasiun. Pedagang koran dan asongan yang menjajakan barangnya. Calo-calo tiket yang agresif. Sopir-sopir taksi gelap dan terang yang berjaga-jaga di sekitarku menanti penumpang kapal yang baru keluar, lalu menawarkan harga dan tempat tujuan. Sekelompok SPG alias Sales Promotion Girl yang tersebar berkeliaran berpakaian seragam menawarkan produk minuman botol kaca kecil penambah stamina. Ada juga kelompok yang lain menawarkan permen mint. Dua kelompok itu sempat menawarkan barangnya kepadaku. Tapi kutolak. Seorang berwajah sedikit garang disampingku juga mereka tawari. Dia menyempatkan diri menggoda SPG-SPG itu. Sesekali mencari kesempatan mencolek-colek bagian tubuh wanita tersebut. Begitulah memang resiko pekerjaan mereka. Kalau ada pekerjaan lain yang lebih layak, aku yakin mereka tidak akan memilih pekerjaan seperti itu.

Ketidakteraturan tata letak dan sarana ketertiban di pelabuhan juga tidak jauh beda dengan terminal. Sampah masih bergelimpangan. Kesadaran hidup bersih masih kurang. Bahkan saat itu aku melihat seorang berseragam yang seharusnya menjadi contoh bagi yang lain membuang puntung rokok dihadapannya seraya menginjak ampasnya yang masih menyala, padahal tak sampai tiga langkah di kanannya keranjang sampah bertengger gagah nampaknya baru diganti. Beberapa meter disampingku seseorang malah membuang bungkus rokok ke selokan pelabuhan. Repot memang. Bila banjir salahkan pemerintah. Badan sendiri sengaja menyumbat saluran air.

淩oy, itu Ramon Bang Toha memecah keterpakuanku.

淜ayaknya dia bawa mobil nih Bang.

淗arusnya sih begitu, dia tak bilang mau ke sini. Kalau tahu begitu kan aku bisa menumpang.

Masih satu meter di hadapan kami, Ramon sudah mulai kecapan

淕ila! Diparkiran tadi seru. Dua orang berkelahi seperti di film Jackie Chan. Sampai naik-naik ke mobil segala. Melompat-lompat. Kayaknya gara-gara enak dilihat, orang-orang jadi bengong lantas lupa kalo harus melerai.

淪iapa mas? tanya seseorang di samping Bang Toha yang ternyata turut menikmati sekelumit cerita Ramon.

淣ggak tahu. Tapi yang satu sih pake rompi tukang parkir.

淧aling-paling rebutan lahan orang itu menanggapi.

滿ungkin juga sih. Tapi nggak tahu lah.

淗ei, kamu bawa mobil? Bang Toha mengalihkan pembicaraan.

淚ya Bang, tadi kan kejadiannya saat aku markir mobil.

淪andi sudah pulang?.

淏elum. Nanti sore katanya Bang Bang Toha hanya mengangguk.

淪ekarang harga-harga naik semua. Kencing aja dua ribu keluh Ramon yang mengaku baru buang air selepas memarkir mobil dan menyaksikan perkelahian tadi.

淢akanya Mon, kalo sedekah jangan dua ribu. Jangan samakan harga ke toilet dengan harga ke surga sambutku.

淏enar juga tuh Roy Ramon menyetujui pendapatku.

淎khirnya tadi yang bertarung gimana Mon?.

淵ah dipisahin orang-orang juga sih Roy. Kebetulan pas ada polisi. Dibawa deh dua-duanya.

Bang Toha melepas pandang ke arlojinya.

淪udah jam setengah tiga. Nggak biasanya molor begini

淎bang tadi sudah tanya informasi kepastian kedatangannya? tanyaku.

淪udah. Katanya ya jam dua

淜ita masuk aja deh. Kita nunggu di sana aja

淓mang boleh Roy? Ramon heran

淵a Boleh

淭api itu ada tulisan bahwa batas penjemput cuma sampai di depan sini kan

淚tu kan cuma tulisan Mon. Formalitas peraturan

淵ang benar Roy?

淜amu nggak pernah jemput ke sini?

淣ggak tuh

淧antas nggak tahu

淎yo ajak Bang Toha.

Kami pun masuk lewat pintu itu untuk mendekatkan diri ke pemarkiran kapal. Seperti biasa, para petugas tidak berusaha menghalangi kami. Tulisan di depan cuma tulisan. Bukan peraturan. Atau mungkin aturan lama yang sudah tidak dipakai tapi sampai sekarang tulisannya belum sempat dienyahkan.

Kami mendekati bibir dermaga. Banyak kapal mengambang berhenti atau berjalan di air sekitar kami. Entah kemana tujuannya.

淪epertinya itu kapalnya, Bang Ramon menunjuk ke sebuah kapal motor besar yang terlihat di kejauhan sekitar seratus meter menghampiri tepi pelabuhan.

淏enar. Itu kapalnya

淜ita nunggu di sana aja Bang aku mengajak mereka menunggu di tempat teduh. Mereka setuju.

Porter-porter dan petugas pelabuhan menyambut kedatangan kapal itu. Mereka mendorong sebuah tangga berundak raksasa guna menghubungkan pintu keluar kapal dengan dasar dermaga. Jarak lima puluh meter ABK melempar seutas tali berpemberat ke dermaga. Tali itu tersambung dengan tali yang lebih besar. Tali berukuran kecil tadi hanya berfungsi untuk memudahkan yang besar mencapai dermaga, maka diikatkanlah tampar itu ke paku bumi yang tertancap di sana. Terparkirlah kapal.

Para porter berdesak-rebut ke atas kapal. Menjemput penumpang yang butuh jasa mereka.

淧orter-porter dulu berbeda dengan sekarang. Dulu mereka banyak dicari. Sekarang mereka yang mencari. Dulu para penumpang malas mengangkat barang sendiri. Tentu karena uang mereka masih dan banyak ada untuk membayar porter. Tapi sekarang, baik penumpang atau porter sama-sama sukar mengais uang. Jangankan membayar porter, bisa mudik bertemu keluarga saja sudah syukur Bang Toha berucap. Kami percaya dengan ucapannya. Sejak kecil ia yang paling sering berlayar. Ke rumah kakek yang di Kalimantan atau ke kampung nenek yang di Sumatra.

淚tu mereka Bang

淟ambaikan tanganmu Mon pintaku

淗eii!! Ramon melambai. Paman dan Bibiku tersenyum. Tak ada barang bawaan tertenteng di tangan atau bahu mereka. Mereka menggunakan jasa porter. Kalau mampu membayar memang lebih baik begitu, bagi-bagi rejeki, demikian salah satu filosofi mereka yang pernah kudengar.

Kami lalu bergantian bersalaman dengan kedua orang tua kami.

淎yahmu nggak ikut Roy?

淣ggak Om. Sibuk katanya

淲ah dia itu bagaimana. Janjinya mau jemput Pamanku sedikit berkeluh.

淭api ngomongnya kan sambil bercanda Mas sahut Bibiku.

淚ya sih. Eh, kalian bawa mobilkan?

淚ya pa

淏补驳耻蝉濒补丑

淪ampai di sini aja pak porter. Biar mereka yang bawa ke mobil Bibiku meminta kedua porter yang mengangkut barang bawaan mereka untuk menyerahkan semua bawaannya pada kami.

淣ggak jadi sampai mobil bu?

淪udah di sini aja. Anak segini banyak apa gunanya

淥h iya Bu. Terima kasih Kami bertiga mengambil alih pembawaan barang. Berbagi serata mungkin. Tidak ada yang paling berat karena barangnya memang sedikit. Hanya empat tas berukuran sedang. Laluy terlihat porter tadi kembali merangsek naik ke kapal. Mencari pelanggan lain.

淧orternya diberi berapa Ma? tanya Ramon

淪tandar sih lima puluh ribu berdua. Aku sih mau beri lebih, tapi kata papa mu nggak mendidik

淭api benar kan, kalau memberi terlalu banyak nantinya mereka selalu mengharap banyak dari penumpang. Padahal nggak semua penumpang bisa memberi banyak sambut Paman.

淏enar itu Pa. Papa memang pintar. Jenius. Aku senang punya papa kayak gini

淎slinya niatmu mengejek aku, Mon Paman melengos

淣ggak Pa, aku serius ujar Ramon yang sering benar bercanda dengan ayahnya sambil tertawa ringan.

淎h sialan kamu

Tidak terasa kami sudah berada di depan mobil. Aku dan Bang Toha kembali berpamitan dengan para calon pengguna mobil tersebut, kami tak bisa satu kendaraan sebab kami membawa sepeda motor masing-masing. Mereka semua berpesan agar kami berhati-hati di jalan. Sebenarnya tanpa dipesani pun kami tetap akan hati-hati. Tapi tak apalah, itu kan salah satu tanda mereka peduli pada kami.–

AKSES CEPAT