Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan gangguan neurodevelopmental yang ditandai oleh pola menetap dari inatensi, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang mengganggu fungsi sehari-hari. Selain masalah akademik, anak dengan ADHD juga mengalami kesulitan sosial seperti penolakan teman sebaya, konflik, dan kegagalan membangun hubungan pertemanan akibat impulsivitas, disfungsi emosional, dan kesulitan mengenali isyarat sosial.
Terapi farmakologis selama ini terbukti efektif mereduksi gejala inti ADHD, namun tidak cukup untuk mengatasi defisit sosial yang melekat. Karena itu, intervensi nonfarmakologis seperti Social Skills Training memiliki peran penting dalam multimodal treatment. Social Skills Training berfokus pada peningkatan kompetensi sosial melalui pelatihan komunikasi verbal dan nonverbal, regulasi emosi, kemampuan memecahkan masalah, empati, serta keterampilan membangun hubungan positif. Program Social Skills Training dapat dilakukan secara individual, kelompok, atau berbasis sekolah, dengan keterlibatan aktif orang tua dan guru untuk memastikan transfer keterampilan ke lingkungan sehari-hari.
Berbagai penelitian menunjukkan Social Skills Training mampu meningkatkan kemampuan komunikasi sosial, regulasi emosi, penerimaan teman sebaya, serta mengurangi perilaku impulsif dan agresif. Namun, efektivitas jangka panjang Social Skills Training masih terbatas, terutama karena kesulitan generalisasi keterampilan ke konteks nyata di luar sesi pelatihan. Faktor seperti komorbiditas, tingkat keparahan gejala, dan motivasi anak turut memengaruhi hasil intervensi.
Untuk meningkatkan efektivitas Social Skills Training, penulis merekomendasikan pendekatan yang lebih personal dan adaptif sesuai profil individu anak, integrasi dengan terapi lain seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dan pelatihan fungsi eksekutif, serta pemanfaatan teknologi modern. Penggunaan media digital seperti platform daring, aplikasi gim edukatif, dan virtual reality dapat meningkatkan keterlibatan anak sekaligus memperluas akses layanan. Selain itu, strategi berbasis sekolah dan komunitas, sesi penguatan berkala (booster sessions), serta dukungan berkelanjutan dari orang tua sangat penting untuk menjaga keberlanjutan hasil.
Kesimpulannya, Social Skills Training tetap menjadi intervensi utama dalam mengatasi defisit sosial pada anak dengan ADHD. Dengan personalisasi, dukungan teknologi, dan keterlibatan lingkungan, Social Skills Training berpotensi menjadi metode yang lebih efektif, aplikatif, dan berkelanjutan untuk meningkatkan fungsi sosial serta kualitas hidup anak dengan ADHD.
Penulis: Dr. Yunias Setiawati, dr.,Sp.K.J(K)
Informasi etail terkait artikel ini dapat dilihat pada:





