Hipertensi merupakan penyakit yang disebabkan oleh peningkatan tekanan darah arteri secara kronik di atas nilai ambang tertentu, yang insidensinya terus meningkat dan apabila tidak segera ditangani akan mengakibatkan berbagai komplikasi seperti stroke, jantung koroner, gagal ginjal dan lain-lain. Data Survei Kesehatan Dasar Nasional 2018 menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran pada penduduk usia ≥18 tahun mengalami peningkatan dari 25,8% (2013) menjadi 34,1% (2018), dengan peningkatan sebesar 10,5% (2017) dengan estimasi jumlah penderita hipertensi di Indonesia sebanyak 63,3 juta jiwa. Hasil penelitian terdahulu di Puskesmas wilayah Surabaya menunjukkan bahwa apoteker memiliki pengetahuan sedang, sikap dan praktik sebagian besar baik masih kurang memuaskan dalam mengidentifikasi masalah terapi obat pada pasien hipertensi dan masih banyak pasien yang belum mencapai target terapi. Hal ini terjadi karena masalah terapi obat banyak ditemukan pada pasien hipertensi dan terdapat hubungan yang signifikan antara jumlah masalah terapi obat yang terjadi dengan kegagalan pencapaian target terapi pada pasien hipertensi.
Dalam praktik pelayanan kefarmasian, apoteker bertanggung jawab terhadap terapi obat yang diberikan kepada pasien untuk mencapai hasil terapi yang diinginkan. Berbagai penelitian menyatakan bahwa masih banyak penderita hipertensi yang belum mencapai target terapi. Untuk itu perlu dilakukan penelitian dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan apoteker dalam mengidentifikasi masalah terapi obat pada pasien hipertensi di puskesmas dengan melibatkan empat puluh apoteker puskesmas di wilayah Surabaya. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei-Agustus 2020, dengan rancangan pre-test and post-test control group design. Penelitian ini menggunakan 20 apoteker pada kelompok perlakuan dan 20 apoteker pada kelompok kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil pre- dan post-test pengetahuan apoteker (p<0,05) yang menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan apoteker. Dan terdapat perbedaan keterampilan apoteker dalam mengumpulkan data demografi pasien, menemukan masalah terapi obat, dan melakukan intervensi (p<0,05). Data menunjukkan bahwa sebagian besar apoteker puskesmas di Surabaya adalah perempuan, terutama pada usia muda, dan memiliki pengalaman kerja yang panjang. Hal ini merupakan investasi yang sangat strategis dalam pengembangan praktik pelayanan kefarmasian di puskesmas. Apoteker kelompok uji yang dipilih dalam penelitian ini adalah apoteker yang paling banyak melayani pasien hipertensi menurut data profil kesehatan kota Surabaya tahun 2018. Peningkatan pengetahuan apoteker mengenai subvariabel terapi obat yang tidak perlu pada kelompok kontrol dapat terjadi akibat apoteker mengikuti seminar, membaca buku atau hal lainnya selama masa pengobatan pada kelompok uji.
Berdasarkan hasil pre-test pada apoteker kelompok uji, terlihat bahwa hampir seluruh subvariabel berada pada kategori sedang, hasil yang sama terjadi pada kelompok kontrol. Setelah dilakukan pemberian pelatihan modul asesmen masalah terapi obat diperoleh hasil peningkatan pengetahuan apoteker mengenai asesmen masalah terapi obat. Pelatihan modul asesmen masalah terapi obat yang diberikan kepada apoteker kelompok perlakuan dapat meningkatkan keterampilan apoteker. Penggalian informasi dari pasien sangat penting dalam melakukan asesmen masalah terapi obat, semakin lengkap data yang dibutuhkan untuk asesmen, maka semakin akurat hasil asesmen masalah terapi obat yang didapatkan. Untuk asesmen pasien yang baik dan tepat, apoteker perlu mengumpulkan informasi yang relevan dan lengkap melalui berbagai sumber seperti wawancara pasien, rekam medis elektronik, obat resep, nilai lab, tes diagnostik, dan pemeriksaan fisik. Kesimpulan hasil penelitian bahwa pelatihan modul praktik dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan apoteker dalam mengidentifikasi masalah terapi obat pada pasien hipertensi di puskesmas wilayah Surabaya.
Penulis: I Nyoman Wijaya, S.Si., Apt., Sp.FRS
Link:
Baca juga: Peran Penting Apoteker dalam Menjamin Kesehatan Masyarakat





