51动漫

51动漫 Official Website

Pemahaman Tentang Islam, Sains dan Modernitas dari Para Peraih Nobel Muslim

Islam dan konsep modernitas seringkali dianggap sebagai dua entitas yang bertentangan satu sama lain. Modernitas secara garis besar dipahami sebagai paham yang lekat dengan individualisme, kepercayaan manusia pada rasionalitas ketimbang tradisi, agama, bahkan mitos攕erta keyakinan bahwa masyarakat hanya dapat bertumbuh di dalam sistem ekonomi berbasis kapitalisme pasar. Tiga karakteristik ini yang banyak dikritik oleh kalangan muslim yang berpandangan bahwa konsep individualisme dan mendewakan rasionalitas di atas agama juga tidak sesuai dengan ajaran islam.

Pada kenyataannya, perkembangan yang sangat pesat di bidang sains dan teknologi adalah inti dari modernitas itu sendiri. Artinya, gerak modernitas yang dihasilkan dari kecanggihan sains dan teknologi menjadi bagian yang tidak bisa dielakkan dalam setiap sendi kehidupan manusia. Sebab, modernitas juga yang menjadi penyebab munculnya perubahan sosial, ekonomi, hukum, politik, serta budaya. Dengan kata lain, kita merasakan langsung dampaknya dan tidak jarang menjadi diuntungkan dari adanya modernitas ini. Jika ini dilihat bertentangan dengan agama, sebetulnya juga tidak sepenuhnya tepat karena cara pandang demikian menjadi tergagap ketika dihadapkan pada sebuah paradoks.

Sebagai contoh, mesin komputer yang memiliki kecerdasan artifisial didesain dengan sengaja sebagai sebuah proyek untuk memenangkan perang dunia pertama oleh pihak Britania Raya terhadap Jerman. Kala itu, prototipe komputer cerdas dirancang oleh seseorang yang meyakini kebebasan individu dalam bentuk ekspresi minat keilmuan serta percaya bahwa rasionalitas harus dikejar secara lebih serius ketimbang soal agama. Penilaian atas hal ini menjadi agak rumit serta menimbulkan kegamangan tersendiri. Di satu sisi, komputer cerdas dapat membantu meringankan pekerjaan manusia, bahkan dapat menolong mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Namun di sisi lain, produk teknologi ini hanya bisa lahir dari sebuah sistem sosial dan ekonomi yang memberikan ruang yang besar bagi kebebasan individu serta kemampuan mengoptimalkan rasionalitas dengan baik.

Kemajuan sains dan teknologi menghasilkan bidang kajian yang semakin kompleks dari berbagai macam keilmuan. Dalam kurun waktu tujuh dekade terakhir, kemunculan bidang ilmu yang relatif baru seperti kajian Sains, Teknologi, dan Masyarakat membawa interpretasi baru terhadap bagaimana relasi antara modernitas dan agama terjalin. Tidak hanya mengulik hubungan antara modernitas dan Islam dari segi permukaan saja, melainkan ini memantik banyak pihak untuk melihat secara lebih utuh dan substantif. Modernitas tidak lagi dilihat dalam kacamata yang biner攁pakah kompatibel dan tidak dengan sebuah agama攄alam hal ini adalah Islam. Lebih dari itu, pemaknaan ulang atas modernitas digagas oleh banyak ilmuwan, termasuk mereka para cendekia攜ang beragama Islam攄an kontribusinya pada dunia diakui melalui hadiah Nobel yang mereka terima. Peneliti mengkaji kronik pemikiran tiga orang peraih hadiah Novel yakni Abdus Salam, Ahmed Zewail, dan Aziz Sancar攄ari bagaimana mereka melihat hubungan modernitas dengan agama dan sains.

Abdus Salam adalah seorang muslim Pakistan yang menerima hadiah Nobel Fisika di tahun 1979. Salam melihat bahwa sains itu berjalan seiringan dengan nilai-nilai yang termaktub di dalam kitab suci agama Islam. Menurutnya, kitab suci telah memberikan pondasi bagi manusia untuk menggunakan daya nalarnya guna berpikir mengenai apa yang disebut sebagai kebenaran dan menyingkapnya melalui bagaimana cara alam raya bekerja. Lebih lanjut, Salam juga melihat bahwa alam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari hidup manusia sehingga membuatnya layak menjadi sumber referensi bagi setiap orang untuk memikirkan tentangnya. Salam juga menekankan bahwa meskipun sains telah berhasil membuat manusia mampu mengolah sumber daya alam, akan tetapi perlu diingat bahwa itu harus dilakukan selama cara hidup manusia itu sejalan dengan pesan-pesan alam. Sebagai contoh, kecanggihan teknologi untuk memproduksi berbagai hasil bumi yang bernilai ekonomi tinggi攋angan sampai kemudian itu membuat seseorang memelihara keinginan yang berlebih dan berujung pada konsumsi berlebih (overconsumption) serta terjebak pada sifat ketamakan (greed).

Salam juga meyakini bahwa mengeksploitasi sumber daya alam tanpa memperdulkan keseimbangan ekosistem hanya akan menimbulkan kerusakan dan kehancuran manusia. Secara paralel, Salam menolak konsep antroposentrisme (manusia adalah pusat semesta攄an makhluk yang paling superior di antara yang lain). Walaupun Salam mengakui pentingnya kontribusi sains untuk perbaikan kualitas hidup manusia攕ebagai sebuah apresiasi terhadap modernitas攏amun, dirinya  juga menerapkan cara berpikir rasional sebagaimana yang dijunjung dalam modernitas untuk mengkritik modernitas itu sendiri. Selebihnya, dirinya juga menawarkan pandangan yang lebih logis serta bisa diterima oleh akal sehat. Artinya, konsumsi dan eksploitasi berlebihan pada alam yang didorong karena lahirnya teknologi yang mumpuni jelas dirasa tidak rasional karena kapasitas alam bisa habis karena kerusakan yang timbul yang juga diperparah akibat minimnya  upaya manusia untuk memikirkan keberlanjutan daya dukung lingkungannya sendiri. Dia juga mengisyaratkan bagaimana ilmu Fisika sejatinya mengungkapkan tentang pentingnya keharmonisan antara alam raya, kehidupan sosial serta sistem ekonomi yang melingkupinya. Menjadi religius kini artinya ialah memahami hubungan yang harmonis antara manusia dan alam raya serta menerapkannya dalam kehidupan.

Peraih nobel kedua ialah Ahmed Zewail. Zewail menerima hadiah Nobel di tahun 1999 untuk bidang Kimia. Menariknya, meskipun bidang keilmuannya adalah sains dan teknologi, hal yang bisa tangkap ialah yang harus dipertahankan dalam mengembangkan ilmu adalah kebermanfaatannya bagi ranah sosial dan kemanusiaan. Perbaikan kesejahteraan dan kualitas hidup manusia juga tidak terlepas dari keberlanjutan ekosistem. Dalam sudut pandangnya, manusia hanya bisa sejahtera bila mengembangkan sains yang tidak digunakan untuk aktivitas yang menimbulkan dampak destruktif bagi lingkungan; karena bila hal ini dilakukan maka sama saja manusia tidak akan bisa mencapai taraf hidup yang adil dan sejahtera selama lingkungannya dalam keadaan yang rusak.

Modernitas memang dicirikan dengan pertumbuhan yang sangat tinggi dari industri multi-sektor. Dirinya juga mengkritik bahwa modernitas juga harus dilihat dalam arti mencapai tujuan manusia yang sebentar-benarnya: menghadirkan kualitas hidup yang baik, adil, dan berkelanjutan攕erta ini sangat mungkin dilakukan karena modernitas sendiri juga memfasilitasi koreksi rasional yang bisa diterima banyak pihak terlebih lagi apabila itu mengancam kepentingan umum dan masa depan sebuah peradaban. Modernisasi, tambahnya, harus dicapai dalam rangka menggapai kesejahteraan umum, memperhatikan entitas lain (hewan atau tumbuhan), serta tidak merampas hak hidup dari generasi selanjutnya.

Ilmuwan ketiga yang kami kaji ialah Aziz Sancar. Sancar adalah penerima Nobel di tahun 2015 yang juga di bidang Kimia. Sancar adalah sosok yang menerima pengaruh yang kuat dari modernitas khususnya yang berkaitan dengan pencarian ilmu pengetahuan dan pencerahan melalui pendidikan. Sancar dihargai karena penemuannya di bidang perbaikan DNA manusia. Dari kiprah Sancar, peneliti melihat bagaimana modernitas yang digerakkan oleh sains dan teknologi hanya mungkin membawa perubahan yang baik apabila di dalam domain ini pula terus dilakukan pencarian, penelitian, terobosan dan inovasi攜ang tujuan akhirnya ialah menyelesaikan problem-problem kemanusiaan. Dari dirinya, kita juga bisa belajar bagaimana modernitas hanya dapat terus mengoreksi dirinya sendiri bila kaum cendekianya juga kritis serta terus bergerak untuk mencari kebenaran. Selain itu, hal ini juga tidak bisa dicapai bila manusia攖erlepas dari apapun profesinya攖idak memegang etika yang memang seharusnya menjadi pedomannya dalam bekerja. Manusia memang memiliki keterbatasan seperti misalnya waktu dan fisik攜ang ini juga mendorong manusia untuk mengembangkan sains dalam rangka menaklukkan keterbatasannya. Namun, dari Sancar kita melihat pemahaman yang lain bahwa keterbatasan manusia juga justru malah bisa melahirkan keterbatasan lain bila tidak mengindahkan etika. Misalnya, pengembangan senjata nuklir yang dipakai untuk alat pemusnah massal hanya justru melahirkan hambatan lain dalam hal perdamaian dunia. Sehingga jelaslah bahwa etika dijunjung sebelum memikirkan dan mengembangkan sains dan teknologi.

Penulis: Febby Risti Widjayanto, S.IP., M.Sc.

Detail tulisan ini dapat dilihat di:

AKSES CEPAT