Diabetes mellitus tipe 2 (DM Tipe 2) merupakan penyakit kronis yang banyak diderita oleh masyarakat global. Beragam faktor risiko seperti gaya hidup yang buruk, jenis makanan yang tinggi lemak dan obesitas banyak dikaitkan dengan munculnya penyakit DM Tipe 2. Manajemen pengobatan diabetes masih berfokus pada penggunaan obat-obatan untuk mengatur intake karbohidrat, transpor glukosa dan sekresi insulin. Kajian pada penggunaan klinis dan mekanisme aksi senyawa alamiah seperti flavonoid masih belum banyak dilakukan. Padahal, senyawa flavonoid merupakan biomolekul aktif yang kaya dan potensial sebagai antidiabetes.
Peneliti dari Fakultas Farmasi 51动漫 bersama dengan peneliti dari Maroko, Arab Saudi, Sudan, Malaysia dan Brunei Darussalam membuat telaah mengenai ragam senyawa flavonoid, potensinya dan mekanismenya untuk dapat digunakan sebagai antidiabetes. Terdapat tujuh jenis flavonoid yang ditelaah antara lain: 1) resveratrol, 2) catechin, 3) rutin, 4) epicatechin, 5) quercetin, 6) hesperidin dan 7) diosmin. Kesemua senyawa ini dilaporkan mampu meningkatkan uptake (serapan) glukosa, meningkatkan sensitivitas insulin, menghambat enzim yang mengurai karbohidrat dan menurunkan produksi glukosa hepatik.
Peneliti menuturkan bahwa mekanisme aksi senyawa flavonoid beragam untuk dapat menghasilkan efek antidiabetik. Meskipun demikian, secara umum khasiat antidiabetik diperoleh dengan cara modulasi (mengubah) enzim kunci dalam metabolism glukosa, meningkatkan proses signaling insulin dan menurunkan stress oksidatif (oxidative stress) yang terkait dengan penyebab diabetes. Sebagai contoh, peneliti menyatakan studi yang menggunakan apigenin yang disuntikkan pada tikus yang diinduksi hiperglikemia menunjukkan mekanisme aksi in-vivo melalui rangsangan sekresi insulin dan glikogenesis, meningkatkan absorpsi glukosa dan modifikasi jalur signaling insulin dan keseimbangan glukosa.
Peneliti menyimpulkan bahwa senyawa flavonoid terutama quercetin, resveratrol dan epigallocatechin gallate memiliki potensi yang menjanjikan untuk digunakan dalam mengatasi DM Tipe 2. Meskipun demikian, penelitian lebih lanjut dibutuhkan agar mekanisme aksi, optimalisasi dosis dan dampak jangka panjang penggunaan flavonoid dapat diketahui dengan baik.
Penulis: Andi Hermansyah
Untuk lebih lengkapnya, artikel penelitian dapat dibaca di tautan berikut





