51动漫

51动漫 Official Website

Pembangunan Irigasi Sungai Brantas dan Peningkatan Ekonomi

sungai Brantasi (Foto by Phinemo)

Di beberapa kawasan di dunia maupun di Indonesia, keberadaan sungai dan kota adalah dua entitas yang sulit untuk dipisahkan. Keduanya seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Dalam hal ini, sungai merupakan faktor penting bagi pertumbuhan sebuah kota (Sarkawi, 2020). Sungai juga menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya banyak peradaban dunia. Misalnya, pada lembah sungai Nil, Furat (Efrat) dan Tigris, Huang He, Indus (Sindhu), Gangga,Sungai Brantas dan lain-lain.

Peradaban di sungai ini tidak hanya dapat disaksikan melalui tinggalannya yang bersifat fisik. Namun, juga dari karya sastra yang ditinggalkannya. Die Luft ist k眉hl und es dunkelt/Und ruhig fliesst der Rhein adalah dua bait lagu oleh Heine. Itu adalah sebuah lagu Jerman terkenal yang mengisahkan tentang Loreley, sebuah bukit cadas di tepi Sungai Rhine. Menurut dongeng, di atasnya ada puteri cantik yang duduk menyisir rambutnya yang pirang keemasan. Puteri itu menyanyi lagu yang merdu dan memukau awak kapal yang lewat sehingga seringkali kapalnya kandas (Lapian, 2017). Cerita rakyat seperti itu tidak hanya ada dalam tradisi barat, tetapi dapat ditemui juga dalam tradisi lisan Nusantara. Dalam Hikayat Banjar, ada cerita tentang sungai yang dihuni puteri cantik. Sementara di Surabaya terdapat kisah yang berkaitan dengan Sunan Ampel dan Kali Mas.

Salah satu sungai penting yang mengaliri banyak kabupaten di Jawa Timur adalah Sungai Brantas. Sungai ini merupakan sungai utama yang anak sungainya hingga di Kota Surabaya. Di daerah aliran sungai inilah tumbuh dan berkembang berbagai kota dengan segala macam peradabannya. Lembah Kali Brantas adalah daerah pertanian yang subur karena adanya abu vulkanik dari Gunung Kelud yang meletus beberapa kali sejak abad ke-19 hingga abad ke-20 (Aldrian & Yudha Setiawan Djamil, 2006). Sungai ini merupakan sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa setelah Bengawan Solo.

Sungai yang memiliki panjang 320 kilometer dan memiliki DAS seluas 12.000 km2 atau mencakup kurang lebih 25 persen luas Provinsi Jawa Timur ini bermata air di Desa Sumber Brantas (Kota Batu) mengalir secara melingkar dengan di tengah-tengahnya terdapat gunung api, yaitu Gunung Kelud. Brantas yang bersumber dari lereng Gunung Arjuno, awalnya mengalir ke timur melalui Kota Malang dan bertemu dengan Sungai Lesti yang bersumber dari Gunung Semeru. Setelah bersatu dengan Sungai Ngrowo di Daerah Tulungagung, sungai ini berbelok ke utara melalui Kota Kediri. Di Kertosono, Sungai Brantas berjumpa dengan Sungai Widas, kemudian ke timur mengalir ke Mojokerto. Di kota itu sungai Brantas bercabang dua menjadi Kali Surabaya dan Kali Porong (ke arah Porong, Kabupaten Sidoarjo) dan bermuara di Selat Madura (Soekistijono, 2007).

Jepang yang pernah menjajah Indonesia selama lebih kurang 3,5 tahun berperan penting untuk membangun infrastruktur irigasi di Indonesia dari tahun 1960-an hingga 1990-an. Peran tersebut dalam bentuk pembangunan infrastruktur irigasi. Hal tersebut memiliki kontribusi sangat signifikan dalam meningkatkan keunggulan lembah Kali Brantas sebagai lumbung padi utama selama revolusi hijau. Masa penjajahan Belanda di Indonesia memang lebih lama dibandingkan dengan Pendudukan Jepang. Namun, keterlibatan Jepang dalam modernisasi sistem irigasi di sepanjang sungai Brantas di Jawa Timur, serta efek yang dihasilkan pada produksi pangan dan lingkungan tidak bisa diremehkan.

Dengan menggunakan pendekatan historis dan memanfaatkan sumber primer dan sekunder. Akhirnya, diperoleh keterangan dan informasi bahwa pembangunan irigasi Indonesia selama masa kemerdekaan berasal dari dana kompensasi perang. Itu adalah dana yang dibayarkan oleh pemerintah Jepang. Dana ini kemudian membuka jalan bagi keterlibatan yang lebih besar dari lembaga-lembaga Jepang dalam kerja sama timbal balik dalam mengembangkan infrastruktur irigasi. Perluasan lahan irigasi dan peningkatan produktivitas padi, yang difasilitasi oleh infrastruktur irigasi yang didukung Jepang, mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan dan banjir. Infrastruktur juga memainkan peran penting dalam pengendalian banjir selama musim hujan dan dalam mengamankan air irigasi, terutama selama musim kemarau.

Selain itu, infrastruktur irigasi yang didukung Jepang secara efektif dapat menjinakkan keganasan sungai berupa luapan banjir dan mengoptimalkan manfaatnya, secara signifikan meningkatkan mata pencaharian banyak orang. Untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang infrastruktur yang didanai Jepang di sepanjang Sungai Brantas, strategi komprehensif yang mencakup pemeliharaan rutin, pembaruan teknologi, keterlibatan masyarakat, pengelolaan sumber daya air terpadu, diversifikasi pertanian, dan adaptasi perubahan iklim sangat penting untuk diperhatikan. 

Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana peran Jepang dalam membangun infrastruktur irigasi Sungai Brantas, dapat dibaca dalam:

Penulis: Sarkawi B. Husain

AKSES CEPAT