51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Pemimpin yang Memberdayakan dan Dukungan pada Perubahan

Ilustrasi by HR NOTE Indonesia

Perubahan organisasi yang berhasil ditandai dengan dukungan berkelanjutan dari anggota organisasi. Penelitian yang ada tentang dukungan perilaku untuk perubahan telah menemukan bahwa baik perspektif internal maupun eksternal menentukan keberhasilan keberhasilan perubahan. Studi ini berfokus pada perspektif eksternal sebagai pendekatan top-down yang mengarah pada kepemimpinan, menyumbang 92% dari tingkat keberhasilan dalam perubahan organisasi. Dalam menghadapi perubahan organisasi, pemimpin harus menerapkan kepemimpinan yang memberdayakan.

Perilaku anggota menunjukkan bahwa mereka lebih menyukai pemimpin yang memberdayakan mereka dan terinspirasi oleh pemimpin yang mendukung perubahan. Pemimpin yang memberdayakan anggotanya memberikan otonomi pengambilan keputusan yang lebih besar dan mempengaruhi pembelajaran dan pengembangan anggota yang berkelanjutan melalui bimbingan pemimpin sebagai panutan. Penelitian yang ada tentang pengaruh kepemimpinan yang memberdayakan terhadap perilaku anggota terhadap perubahan tidak konsisten. Masih belum jelas kapan pemberdayaan kepemimpinan paling mungkin berhasil dalam pengolah perubahan ketika menjadi positif dalam mempromosikan lingkungan yang kondusif bagi semua individu. Sejalan dengan teori kognitif sosial, lingkungan yang mendukung keragaman membuat anggota mengalami emosi yang lebih positif dan merasa diakui dan dihormati. Makalah ini berpendapat bahwa situasi ini dapat memperkuat hubungan antara kepemimpinan yang memberdayakan dan dukungan perilaku untuk perubahan.

Studi sebelumnya telah meneliti hubungan langsung antara memberdayakan kepemimpinan berdasarkan berbagai hasil perilaku pada tingkat analisis yang berbeda. Penelitian ini menggunakan kepemimpinan yang memberdayakan pada tingkat analisis yang lebih tinggi daripada tingkat individu, dan ada pengaruh ke bawah pada dukungan perilaku untuk perubahan. Selanjutnya, makalah ini menekankan peran manajer menengah (Dekan) dalam memimpin inisiatif perubahan. Studi yang ada tentang pemberdayaan kepemimpinan telah dilakukan baik di negara-negara Barat dan non-Barat. Penelitian ini dilakukan di Indonesia pada top-level university dalam proses mendapatkan status world class university. Menurut Hofstede, skor jarak kekuasaan Indonesia tinggi (78); dalam budaya jarak kekuasaan tinggi, para anggota organisasi cenderung memenuhi tugas dan tanggung jawab mereka sejalan dengan rasa hormat mereka terhadap pemimpin mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki bagaimana pemberdayaan kepemimpinan dalam pendidikan tinggi di tingkat unit atau tim dapat berkontribusi pada dukungan perilaku untuk perubahan pada tingkat individu. Selanjutnya, makalah ini menyelidiki di mana kondisi dukungan perilaku untuk perubahan dapat ditingkatkan dan iklim keragaman dapat memperkuat hubungan.

Data penelitian ini dikumpulkan dari 11 perguruan tinggi otonom (PTN-BH) di antara perguruan tinggi dengan peringkat tertinggi di Indonesia. Sejak tahun 2015, PTN-BH telah didukung oleh Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 18 (2020) dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Pemerintah Indonesia 2020“2025. Setiap tahun, pemerintah dan masing-masing PTN-BH memperbarui kontrak kerjanya dan memberikan target pemeringkatan tertentu jika PTN-BH berharap dapat terus mendapat dukungan dari pemerintah. Situasi ini mendorong manajemen untuk melakukan perubahan organisasi secara bertahap melalui pimpinan perguruan tinggi (Dekan) untuk meningkatkan output akademik terkait dengan kriteria Quacquarelli Symonds World University Ranking (QS WUR). Target diberikan kepada manajemen puncak di PTN-BH, yang kemudian diberikan kepada Dekan, yang merencanakan kegiatan di setiap perguruan tinggi yang akan dilakukan oleh fakultas masing-masing. Hasil kerja fakultas dimonitor secara berkala untuk mengetahui sejauh mana output masing-masing fakultas sesuai dengan standar indikator (QS WUR) dengan menggunakan instrumen beban kinerja fakultas. Selanjutnya, rencana fakultas untuk pencapaian kinerja selanjutnya akan disetujui oleh Dekan, yang berlanjut ketika ada peningkatan beban kinerja berdasarkan kriteria QS WUR.

Studi kami menemukan bahwa anggota akan mengalami dukungan yang lebih tinggi untuk perubahan dengan kepemimpinan yang memberdayakan. Selanjutnya, hubungan positif antara kepemimpinan yang memberdayakan dan dukungan perilaku untuk perubahan lebih kuat pada anggota yang merasakan iklim yang lebih beragam. Studi ini secara empiris menguji bagaimana perilaku untuk mendukung perubahan ditentukan oleh perilaku pemberdayaan pemimpin berdasarkan teori kognitif sosial dalam budaya jarak kekuasaan tinggi. Dalam hal kontribusi metodologisnya, penelitian ini menggunakan analisis multi-level untuk menguji kepemimpinan yang memberdayakan. Akhirnya, penelitian tentang dukungan perilaku untuk perubahan telah diperluas melalui analisis tingkat unit.

Penulis: Prof. Badri Munir Sukoco

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Badri Munir Zuyyinna Anas Miftah and Wann-Yih  (2022), “Empowering leadership and behavioural support for change: the moderating role of a diverse climate”, , Vol. 36 No. 3, pp. 296-310. 

AKSES CEPAT