UNAIR NEWS – Tahun lalu, pasien gagal ginjal yang melakukan cuci darah atau hemodialisis tercatat hampir mencapai 70.000 orang. Diprediksi jumlah pasien cuci darah secara keseluruhan di Indonesia bisa mencapai 225.000 orang. Padahal tahun 2014 lalu, dana BPJS untuk alokasi cuci darah hanya sekitar Rp 2,2 triliun. Jika angka pasien gagal ginjal terus bertambah, maka dana yang diperlukan untuk meng-cover hemodialisis juga semakin besar.
Paradigma baru hemodialisis dan transplantasi ini diungkapkan oleh pakar Nefrologi Fakultas Kedokteran 51动漫 Pranawa, dr, Sp.PD,K-GH dalam acara Dutch Foundation for Post Graduated Medical Course, di Aula Fakultas Kedokteran 51动漫, Jumat (7/4).
Dr. Pranawa mengatakan, saat ini tidak sedikit pasien gagal ginjal yang sebenarnya lebih berminat melalukan transplantasi ginjal.
淜alau diminta memilih, pasien lebih pilih transplantasi dari pada cuci darah. Karena sama-sama mahal, namun transplantasi lebih produktif dan pasien dapat sembuh seperti semula, ungkapnya.
Sayangnya, metode transplantasi ginjal masih terganjal minimnya jumlah donor organ. Beberapa penyebab diantaranya, lantaran keyakinan masyarakat awam yang belum sepenuhnya siap menjadi pendonor organ khususnya ginjal. Masih ada ketakutan dari pendonor maupun pihak keluarga.
淢asyarakat belum sepenuhnya mendukung alternatif pengobatan satu ini. Mereka masih takut, khawatir nanti tidak sehat jika mendonorkan salah satu ginjalnya, dan hidup hanya dengan satu ginjal, ungkapnya.
Padahal sebenarnya tidak demikian. Data Internasional menyatakan bahwa sebenarnya pendonor organ dapat hidup lebih sehat dari pada pasien yang menerima organ. Karena dalam prosedur transplantasi pemilihan organ dilakukan secara selektif dan dipilih dari pendonor yang benar-benar sehat. Untuk itu, Pranawa menekankan, sebenarnya manusia masih bisa hidup sehat walau hanya dengan satu ginjal.
Selain terkendala faktor keyakinan masyarakat, minimnya jumlah donor organ juga dipengaruhi oleh aturan yang melarang memperjualbelikan organ.
淪ecara hukum, jual beli organ tidak diperbolehkan. Untuk itu kami hanya mengandalkan jalur donor organ dari keluarga, untuk menghindari komersialisasi organ. Akibatnya kasus transplantasi di RSUD Dr. Soetomo sedikit sekali.
Menurut Pranawa, penting mensosialisasikan upaya preventif untuk menekan jumlah penderita gagal ginjal.
淵ang menyebabkan seseorang harus sampai cuci darah sebenarnya bukan karena ginjalnya. Penyebab gagal ginjal karena hipertensi dan diabetes. Jika kita dapat mengobati hipertensi dan diabetes dengan baik, maka secara tidak langsung akan mengurangi jumlah pasien cuci darah, ungkapnya.
FK UNAIR-RSUD Dr. Soetomo telah memulai alternatif transplantasi organ sejak tahun 1988. Namun karena hanya menerima sedikit sekali donor organ, maka sejak tahun 1988 sampai sekarang hanya 42 kasus transplantasi yang berhasil ditangani di RSUD Dr. Soetomo.
Menghadapi berbagai kendala di lapangan, FK UNAIR-RSUD Dr. Soetomo berusaha mengimbanginya dengan meningkatkan kompetensi. Antara lain dengan mendatangkan beberapa ahli transplantasi dari luar negeri melalui kerjasama dengan yayasan Dutch Foundation.
Dutch Foundation adalah sebuah yayasan yang ada di Belanda, dimana tiap dua tahun sekali yayasan ini datang ke Indonesia untuk melakukan kerjasama, antara lain dengan FK UNAIR. Kali ini, Dutch Foundation menghadirkan sejumlah pakar transplatasi dari Belanda, yaitu Prof J.W. de Hans Fijter, Prof Homan Van der Heide, Prof Raechel Toorop, Prof Frank d橝ncona, dan Prof F.L. Moll.
淒engan adanya acara diskusi ini kita bisa berbagi ilmu tentang transplantasi dan sharing berbagai kesulitan. Sehingga tidak hanya berfikir seputar transplantasi saja tetapi juga berpikir langkah preventif, dan melakukan kolaborasi internasional untuk memperbarui pengetahuan, ungkapnya. (*)
Penulis : Sefya Hayu
Editor : Binti Q. Masruroh





