51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Penanganan Terkini Pada Penyempitan Saluran Cerna Atas Akibat Jejas Korosif dengan Endoskop Ultra-Thin

Penanganan Terkini Pada Penyempitan Saluran Cerna Atas Akibat Jejas Korosif dengan Endoskop Ultra-Thin
Sumber: Halodoc

Jejas korosif asam dan basa pada saluran cerna masih menjadi masalah di negara berkembang. Jejas ini terjadi karena menelan bahan tersebut karena percobaan bunuh diri atau tidak sengaja terminum, terutama pada anak-anak dan manula. Hal ini disebabkan faktor sosial, ekonomi, kurangnya edukasi dan tersedianya bahan korosif secara luas tanpa disertai aturan yang jelas pada penggunaan, pelabelan dan produksinya. Data jejas korosif yang akurat tidak tersedia secara luas karena tidak semua kasus dilaporkan. Prevalensi keracunan bahan korosif diperkirakan 2,5-5% sedangkan morbiditas di atas 50% dan mortalitas 13%. Lokasi jejas korosif tersering adalah esofagus dan lambung yang dapat menyebabkan komplikasi kronik berupa penyempitan (striktur), gastric outlet obstruction dan transformasi keganasan. Penyempitan esofagus merupakan komplikasi jangka panjang yang paling sering dan terjadi  sejak 3 minggu hingga 1 tahun setelah menelan korosifyang memiliki dampak signifikan pada kualitas hidup akibat kesulitan menelan, penurunan berat badan, malnutrisi dan pneumonia aspirasi.  Sulit menelan biasanya terjadi jika penyempitan lebih dari 50% diameter saluran cerna. Proses fibrosis yang terus berlanjut juga menyebabkan penyempitan berulang dan terapi dilatasi jangka Panjang.

Studi menunjukkan kejadian penyempitan di esofagus akibat bahan korosif antara 42.9% hingga 81.85%. Secara global sekitar 80% jejas korosif terjadi pada anak-anak dan dewasa usia produktif yang dapat berdampak negatif pada kehidupan sosial dan ekonomi akibat perawatan dan pemulihan yang lama serta dapat memicu bunuh diri berulang. Dalam kurun waktu 4 tahun (2018 – 2022) di rumah sakit Dr. Soetomo Surabaya terdapat 36 kasus jejas korosif dengan 15 (41.6%) striktur esofagus, pylorus atau keduanya.

Mayoritas striktur korosif esofagus di negara berkembang datang terlambat ke layanan kesehatan sehinga lebih sulit dilakukan dilatasi, tingkat kekambuhan tinggi dengan prognosis yang jelek. Keterlambatan ini terjadi karena faktor ekonomi, ketidaktahuan tentang penyakit dan penanganannya. Pasien mencari pengobatan sendiri atau pengobatan tradisional sehingga datang ke rumah sakit setelah terjadi komplikasi. Selain itu, beberapa pasien juga tidak melanjutkan terapi ke rumah sakit. Dilatasi yang terlambat berhubungan dengan peningkatan rekurensi striktur yang bermakna dan menjadi prediktor yang kuat untuk terapi pengganti esofagus. Oleh karena itu dibutuhkan strategi tindakan yang tepat untuk dilatasi striktur pada yang datang lebih dini atau datang terlambat, terutama di negara berkembang dimana 50% pasien datang terlambat.

Di negara berkembang terapi pembedahan untuk penggantian esofagus ini masih menjadi masalah karena fasilitas dan perawatan intensif yang kurang memadai, Sehingga dilatasi endoskopi menjadi terapi utama maupun terapi antara sebelum dilakukan tindakan pembedahan. Dilatasi endoskopi juga dapat memperbaiki luaran pasien yang akan menjalani terapi bedah definitif karena perbaikan status nutrisi dan kondisi klinis keseluruhan.

Endoskopi direkomendasikan untuk menentukan diagnosis, prognosis dan tatalaksana jejas dan striktur korosif. Dilatasi endoskopi adalah terapi utama untuk striktur esofagus korosif sederhana maupun kompleks dan terapi pembedahan dilakukan jika terjadi kegagalan dilatasi ((4,5,13“15). Namun jejas mukosa akibat bahan korosif pada esofagus yang luas dan dalam dapat menyebabkan striktur yang sangat sempit, panjang, berkelok atau multipel yang tidak dapat dilewati endoskop standar. Fluoroskopi berperan penting dalam menangani jenis striktur seperti ini akan tetapi tidak semua unit endoskopi mempunyai alat fluoroskopi sehingga penanganan menjadi terlambat dan harus dikirim ke rumah sakit rujukan. Tindakan dilatasi endoskopi juga tidak dapat dilakukan karena kesulitan visualisasi pada sisi distal dari lesi dan sulit melewatkan guidewire melalui striktur pada stenosis yang ketat atau berkelok. Penempatan guidewire yang tepat dan dapat melewati penyempitan adalah salah satu langkah terpenting dalam tatalaksana obstruksi gastrointestinal.

Studi Mulcahy dkk menggunakan endoskop ultrathin (UT) dapat membantu dalam evaluasi dan tatalaksana striktur saluran cerna atas dan bawah. Endoskop ini secara umum mempunyai desain yang mirip dengan endoskop standar dengan diameter shaft yang lebih kecil, berkisar antara 4,9 hingga 6 mm sehingga lebih mudah melewati stenosis dibandingkan endoskop konvensional, memungkinkan penempatan guidewire melewati area striktur, melihat sisi distal lesi, mengukur panjang dan menilai karakteristik stenosis. Dengan bantuan endoskop ini diharapkan dapat memperbaiki keberhasilan dilatasi endoskopi, memperbaiki gejala disfagia, perbaikan nutrisi serta mengurangi kebutuhan dan paparan radiasi dari fluoroskopi.

Penulis: Budi Widodo, dr.,Sp.PD.FINASIM

AKSES CEPAT