51动漫

51动漫 Official Website

Penatagunaan Antimikroba Secara Bijak Mencegah Angka Kejadian Resistensi Terhadap Antibiotika

Ilustrasi antibiotika (Foto: Generated image)

Penggunaan antimikroba pada saat pandemi Covid-19 menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. Di rumah sakit penggunaannya melebihi 75% pasien yang mendapatkan perawatan. Selain tingkat efisiensi yang rendah, pembiayaan yang tinggi, juga menimbulkan peningkatan resistensi mikroorganisme terhadap antibiotika. Untuk itu diperlukan langkah-langkah strategis dalam pengendalian antibiotika baik pada perawatan bedah maupun medik di rumah sakit. Diharapkan resistensi antimikroba di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk di rumah sakit dapat ditekan dengan baik. Resistensi antimikroba ini menyebabkan penyakit infeksi sulit ditangani dan meningkatkan morbiditas serta mortalitas pasien. Fenomena ini tidak hanya berdampak pada kualitas luaran klinis, tetapi juga menimbulkan beban ekonomi akibat peningkatan biaya pengobatan.

Penatagunaan antimikroba (PGA) merupakan pendekatan strategis yang bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan antibiotik secara bijak, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, sehingga dapat meningkatkan luaran klinis, menurunkan biaya, serta menekan laju resistensi antimikroba. Penatagunaan antimikroba telah terbukti efektif dalam meningkatkan rasionalitas penggunaan antibiotik. Namun, implementasinya seringkali terpusat dan kurang menjangkau level unit perawatan secara langsung. Pengembangan model penatagunaan antimikroba berbasis unit perawatan yang melibatkan tim lintas profesi dokter, apoteker, perawat, mikrobiolog klinis, dan tenaga Kesehatan lainnya yang sehari-hari memberikan pengobatan dan perawatan pasien di ruangan diharapkan mampu mendorong perubahan praktik klinis yang lebih kontekstual dan mampu menjadi solusi terhadap masalah tersebut.

Penelitian dengan tujuan mengevaluasi dan memberikan bukti ilmiah mengenai dampak penerapan model penatagunaan antimikroba dan penerapannya yang berbasis unit perawatan pasien sangat diperlukan dalam menetapkan langkah strategis optimalisasi penggunaan antibiotika secara bijak. Selain itu juga untuk mengendalikan resistensi antimikroba dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Penelitian dilakukan pada pasien rawat inap medik dan bedah RSUD Dr.Soetomo periode Januari-Mei 2019 secara retospektif dan Agustus-Desember 2023 secara prospektif.

Penelitian retrospektif melibatkan 222 pasien medik dan 225 pasien bedah. Sedangkan prospektif melibatkan 326 pasien medik dan 269 pasien bedah. Pada pada kelompok medik kuantitas penggunaan antibiotik menurun dari 210,2 DDD/100-BD menjadi 94,2 DDD/100-BD dan kelompok bedah menurun bermakna dari 109,1 DDD/100-BD menjadi 53,6 DDD/100-BD. Analisis kualitatif menunjukkan ketidak tepatan penggunaan antibiotik mengalami penurunan 36,4% dan kategori penggunaan antibiotik tepat (appropriate use) meningkat 36,4%. Analisis komparasi lama perawatan menunjukkan penurunan, tingkat kesembuhan kesembuhan menunjukkan peningkatan bermakna dan angka mortalitas menunjukkan penurunan. Pada analisis biaya menunjukkan terjadinya penurunan sebesar 23%-32%,

Hasil penelitian ini dapat disimpulkan model penatagunaan antimikroba berbasis unit perawatan pasien terbukti memberikan pengaruh positif terhadap perbaikan kuantitas dan kualitas penggunaan antibiotik di rumah sakit. Angka kesembuhan meningkat dan angka mortalitas menurun secara bermakna, baik akibat infeksi maupun karena komorbiditas, Implementasi model PGA berbasis unit perawatan pasien mendorong kolaborasi lintas profesi (dokter, apoteker, perawat, mikrobiolog klinik) dan meningkatkan efektivitas program PGA secara lebih terarah dan kontekstual. Saran dari hasil penelitian ini adalah perluasan model ke seluruh unit perawatan di rumah sakit secara bertahap dengan pelatihan dan pendampingan berkelanjutan. Diharapkan ada penelitian lanjutan jangka panjang untuk menilai dampak model PGA ini terhadap resistensi antimikroba secara populasi mikrobiologis dan klinis.

Penulis : Junaidi Khotib, Mariyatul Qibtiyah; Afini Safiroi; Elvin Nuzulistina; Rafi Addimaysqi; Joni Wahyuhadi

Detail penelitian bisa diakses di:

AKSES CEPAT