51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Penatalaksanaan Hipertensi pada Pasien Pneumonia Covid 19

Foto by Merdeka com

Pada Maret 2020, Word Health Organization (WHO) menyatakan wabah yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV-2) yaitu Corona Virus and Disease 2019 (COVID-19), sebagai pandemi. Penyakit ini mengakibatkan lebih dari 180 ribu kematian di seluruh dunia, dengan sekitar 635 terjadi di Indonesia hingga akhir April 2020. Saat ini sebanyak 29 negara mengonfirmasi terdapatnya kecurigaan serta terkonfirmasi kasus COVID-19. Berdasarkan data sampai dengan 12 Februari 2020, angka mortalitas di seluruh dunia 2,1% (PDPI, 2020). Menurut data terbaru dari WHO pada tanggal 18 Juli 2020, di Indonesia terdapat 83.130 orang yang terdiagnosa COVID-19 di Indonesia dengan jumlah kematian sebesar 3.957 (WHO, 2020). Sejumlah besar penelitian telah membantu memperjelas profil klinis infeksi SARS- CoV-2, menunjukkan secara konsisten bahwa adanya morbiditas kronis seperti Hipertensi, Diabetes Mellitus, Obesitas, dan penyakit kardiovaskular merupakan faktor risiko utama untuk keparahan dan prognosis penyakit (Pititto et al, 2020).

Hipertensi merupakan komorbid yang paling banyak didapatkan pada pasien dengan pneumonia covid 19. Data awal dari Cina dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa hipertensi tampaknya menjadi komorbiditas yang paling tinggi yang didapatkan pada pasien yang dirawat dengan diagnosis Pneumonia COVID-19 dengan jumlah sekitar 30% dari total populasi (Yang et al,2020). Pasien dengan komorbid hipertensi pada pasien Pneumonia COVID-19 pada umumnya lebih banyak dirawat di rumah sakit daripada orang tanpa komorbid hipertensi. Pasien dengan komorbid hipertensi juga tampaknya terkait dengan prognosis yang lebih buruk pada Pneumonia COVID-19 serta menunjukkan gejala infeksi yang lebih berat (Kulkarni et al,2020). Berdasarkan data yang dihimpun oleh satuan tugas penanganan COVID 19 pada Oktober 2020 dari total pasien yang terkonfirmasi positif, sebanyak 1488 pasien tercatat memiliki penyakit penyerta, di mana presentase terbanyak adalah penyakit Hipertensi sebesar 50,5%.

Inisiasi pengobatan pada pasien dengan Hipertensi Menurut European Society of Hypertension (ESH), sebaiknya dimulai dengan pemberian obat hipertensi pada golongan Renin-angiotensin system blocker (RAS blocker) dimana saat ini masih muncul kontroversi di masyarakat , apakah pemberian obat golongan tersebut dapat mempermudah masuk nya virus corona ke dalam tubuh. Mengingat hipertensi merupakan penyebab utama tingginya angka mortalitas secara global dan juga merupakan komorbid yang paling banyak didapatkan pada pasien Pneumonia Covid 19 maka dalam tinjauan kasus ini akan membahas terkait Pasien Pneumonia Covid 19 dengan komorbid hipertensi.

Penyakit Pneumonia Covid 19 melalui SARS-CoV-2 ditularkan terutama melalui droplet, pasien pada umumnya juga mengalami kesulitan bernafas, serta nyeri sendi dan otot, sakit kepala, diare, mual dan batuk darah. Dalam 5-6 hari setelah onset gejala, viral load SARS-CoV-2 mencapai puncaknya, sekitar 10 hari setelah onset gejala. Kasus COVID-19 yang parah berkembang menjadi sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS) rata-rata sekitar 8“9 hari setelah onset. Periode inkubasi rata-rata adalah sekitar 4-5 hari sebelum timbulnya gejala (Tay, 2020).

Menurut Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, COVID-19 memiliki beberapa gejala klinis yang dapat muncul jika pasien terinfeksi .Gejala utama yang dapat muncul pada pneumonia ringan adalah demam, batuk, dan sesak. Namun tidak ada tanda pneumonia berat. Pneumonia berat pada pasien dewasa adalah munculnya demam atau curiga infeksi saluran nafas yang ditandai dengan takipnea (frekuensi nafas >30x/menit), distress pernafasan berat atau saturasi oksigen pasien < 90% udara luar (Burhan, 2020).

Penulis: Dr. Yunias Setiawati, dr.,Sp.K.J(K)

Untuk memahami lebih jelas tentang managemen hipertensi pada pneumonia covid 19 dapat dibaca di

AKSES CEPAT