Kalimantan, pulau yang ditetapkan sebagai lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN), masih menghadapi tantangan serius dalam pencegahan malaria. Penelitian terbaru yang menganalisis data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mengungkap bagaimana masyarakat di pedesaan Kalimantan berjuang melawan penyakit endemis ini, dengan berbagai strategi pencegahan yang menunjukkan hasil beragam di tiap provinsi.
Studi terhadap 67.155 responden di lima provinsi Kalimantan mengidentifikasi pola menarik:
- Usia dan Gender: Orang berusia 25 tahun ke atas melaporkan kasus malaria lebih tinggi daripada kelompok muda. Laki-laki juga lebih rentan ketimbang perempuan, terutama di Kalimantan Selatan. Hal ini terkait aktivitas kerja di luar rumah, seperti pertanian atau kehutanan, yang meningkatkan paparan nyamuk Anopheles.
- Pekerjaan: Petani lebih sering melaporkan malaria dibanding non-petani. Di Kalimantan Barat, Tengah, dan Timur, petani memiliki risiko 1,5“2 kali lebih tinggi akibat bekerja di lingkungan berair”habitat ideal nyamuk malaria.
- Pendidikan: Menariknya, lulusan sekolah menengah justru lebih sering melaporkan malaria. Ini mungkin karena kesadaran mereka akan gejala malaria, bukan karena kerentanan biologis.
Mana yang Paling Efektif?
Masyarakat Kalimantan menggunakan beragam cara pencegahan, namun efektivitasnya bervariasi antarwilayah:
- Kelambu (ITN/Insecticide-Treated Nets)
Penggunaan kelambu biasa maupun berinsektisida (ITN) menunjukkan hasil paradoks. Di Kalimantan Barat, pemakaian kelambu justru dikaitkan dengan peningkatan risiko malaria (OR=1,838). Sementara di Kalimantan Tengah, Selatan, dan Timur, penggunaan ITN kurang dari tiga tahun malah meningkatkan risiko malaria hingga 11 kali lipat!
Mengapa? Diduga karena kurangnya pemeliharaan (misalnya, jarang dicuci atau diulang perlakuan insektisida), resistensi nyamuk terhadap insektisida pyrethroid pada ITN, dan penggunaan tidak konsisten, terutama saat cuaca panas.
- Repellent dan Alat Elektrik
Penggunaan obat nyamuk bakar/elektrik dan repellent kulit secara signifikan menurunkan risiko malaria di beberapa wilayah. Di Kalimantan Timur, repellent mengurangi risiko hingga 49% (aOR=0,509). Namun, di Kalimantan Utara, alat elektrik seperti racket nyamuk kurang efektif, mungkin karena mobilitas penduduk yang tinggi di luar rumah.
- Kasa Nyamuk dan Modifikasi Rumah
Pemasangan kasa nyamuk pada ventilasi terbukti efektif menurunkan malaria di Kalimantan Selatan (OR=0,208) dan Tengah (OR=0,365). Di Kalimantan Utara, hasil bahkan mendekati nol kasus! Ini sejalan dengan riset di Gambia dan Uganda, yang membuktikan rumah berkasa mengurangi masuknya nyamuk hingga 80%.
Tantangan Lokal yang Unik adalah pada Kalimantan Barat: Tingkat malaria tertinggi (43%), dengan penggunaan ITN jangka pendek meningkatkan risiko. Kalimantan Utara: Pencegahan paling sukses dengan kasa nyamuk, namun partisipasi masyarakat masih rendah. Perbedaan Ekologi: Perilaku nyamuk bervariasi. Di daerah dengan nyamuk yang aktif di luar rumah, alat seperti ITN kurang optimal.
Berdasarkan temuan ini, upaya pencegahan perlu disesuaikan dengan konteks lokal:
- Edukasi Penggunaan ITN: Petugas kesehatan harus mengajarkan cara merawat ITN (misalnya, tidak dicuci berlebihan) dan pentingnya mengganti kelambu setiap 3 tahun.
- Kombinasi Strategi: ITN perlu dipadukan dengan kasa nyamuk, repellent, dan perbaikan rumah untuk perlindungan komprehensif, terutama di wilayah dengan resistensi insektisida.
- Target Kelompok Rentan: Laki-laki dewasa dan petani harus menjadi prioritas program penyuluhan.
- Inovasi Kebijakan: Pemerintah daerah bisa mensubsidi kasa nyamuk atau repellent untuk masyarakat ekonomi lemah.
Perjuangan melawan malaria di Kalimantan membutuhkan pendekatan berbasis bukti dan partisipasi aktif masyarakat. Dengan IKN yang sedang dibangun, pencegahan malaria bukan hanya urusan kesehatan, tapi juga investasi untuk produktivitas sumber daya manusia. Kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan (termasuk peran krusial perawat dalam edukasi), dan warga akan menentukan keberhasilan eliminasi malaria 2030.
Penulis: Prof. Dr. Ririh Yudhastuti, drh, M.Sc
Judul dan link artikel jurnal internasional terindeks scopus yang dituliskan menjadi opini.
Judul : Malaria Prevention Strategies in Kalimantan, Indonesia: A Secondary Analysis of 2018 Basic Health Research Data
Link :
Ridha, M. R., Andiarsa, D., Noor, I. H., Wiliyani, E., Ramadhani, T., & Yudhastuti, R. (2024). Malaria Prevention Strategies in Kalimantan, Indonesia: A Secondary Analysis of 2018 Basic Health Research Data. Nurse Media Journal of Nursing, 14(2), 279-293.





