Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan representasi dari total nilai moneter semua barang dan jasa akhir yang diproduksi di suatu wilayah administratif (provinsi atau kabupaten/kota) dalam kurun waktu satu tahun. Sebagai alat ukur kesehatan ekonomi regional, PDRB tidak hanya menunjukkan seberapa besar perekonomian suatu daerah, tetapi juga mengungkap struktur ekonominya. Dengan melihat kontribusi dari berbagai sektor攕eperti pertanian, industri pengolahan, atau jasa攑emerintah dan analis dapat mengidentifikasi sektor mana yang menjadi penggerak utama pertumbuhan. Data ini sangat krusial untuk mengevaluasi keberhasilan program pembangunan yang telah berjalan serta merancang strategi baru untuk mengatasi ketimpangan ekonomi antarwilayah dan mendorong pertumbuhan yang lebih merata.
PDRB Jawa Timur secara konsisten menempatkannya sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di Indonesia setelah DKI Jakarta, dengan kontribusi vital terhadap PDB nasional. Keunggulan utama Jawa Timur terletak pada struktur ekonominya yang sangat seimbang dan terdiversifikasi, di mana tiga pilar utama攊ndustri pengolahan, perdagangan besar, dan pertanian攂erkontribusi secara signifikan. Berbeda dengan DKI Jakarta yang sangat bergantung pada sektor jasa atau Jawa Barat yang lebih terfokus pada manufaktur, PDRB Jatim menunjukkan kekuatan sebagai pusat industri, lumbung pangan nasional, sekaligus hub perdagangan strategis untuk kawasan Indonesia Timur. Kombinasi unik ini tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi yang masif, tetapi juga menciptakan pertumbuhan yang dinamis dan sering kali melampaui rata-rata nasional, menjadikannya barometer kesehatan ekonomi Indonesia yang sesungguhnya.
Bebrerapa faktor yang memengaruhi laju pertumbuhan PDRB per kapita di setiap kabupaten/kota di Jawa Timur terdiri dari beberapa sisi: dari sisi kualitas sumber daya manusia yang diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia dan tingkat pengangguran terbuka; dari sisi fiskal dan ekonomi yang dilihat dari Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, dan Upah Minimum; serta dari sisi dinamika spasial dan demografis yang direpresentasikan oleh kepadatan penduduk dan tingkat aglomerasi. Secara khusus, variabel koordinat longitude dan latitude bukan sebagai penyebab langsung, melainkan sebagai data fundamental untuk memodelkan efek keruangan (spatial effect), yaitu untuk menguji apakah pertumbuhan ekonomi di suatu daerah dipengaruhi oleh kondisi ekonomi daerah-daerah tetangganya.
Pada kelompok pertama, yaitu kabupaten Pacitan dan Trenggalek, faktor yang berpengaruh signifikan adalah kepadatan penduduk, UMR, pendapatan asli daerah, dan dana alokasi umum. Pada kelompok kedua, yaitu Kota Madiun, Madiun, Magetan, Ngawi, Ponorogo, dan Tulungagung, faktor yang signifikan adalah kepadatan penduduk, UMR, dan dana alokasi umum. Kemudian kelompok ketiga, yaitu kabupaten dan kota selain yang telah disebutkan pada kelompok satu dan kelompok dua, faktor yang signifikan adalah kepadatan penduduk dan dana alokasi umum. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa setiap daerah di Jawa Timur memiliki pola spasial masing-masing.
Penulis: Dr. Dwi Rantini, S.Si
Informasi detail artikel dapat diakses melalui:





