51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Pendekatan Trans-Jugular untuk Menutup Ruptur Septum Ventrikel: Solusi Modern untuk Komplikasi Serius Serangan Jantung

Ilustrasi jantung (sumber:Kompas.com)

Ruptur septum ventrikel (RSV) adalah komplikasi langka namun mematikan dari infark miokard akut (IMA) atau serangan jantung. Kondisi ini terjadi ketika dinding pemisah antara bilik kiri dan kanan jantung (septum ventrikel) robek akibat kerusakan jaringan jantung yang iskemik. Akibatnya, terbentuk hubungan abnormal antara dua bilik jantung yang menyebabkan aliran darah menyimpang (shunt) dari kiri ke kanan. Gangguan ini membuat sirkulasi darah menjadi tidak efektif dan cepat memperburuk kondisi pasien, bahkan dapat menyebabkan kematian.

Meskipun penanganan serangan jantung saat ini telah berkembang pesat melalui teknologi seperti pemasangan ring (PCI) dan pemberian obat pelarut bekuan (trombolitik), RSV tetap menjadi ancaman serius. Komplikasi ini sering terjadi dalam minggu pertama setelah serangan jantung, terutama jika penanganan awal terlambat atau kurang optimal.

Pasien dengan RSV biasanya mengalami gejala berat seperti sesak napas, murmur jantung, dan penurunan tekanan darah yang drastis. Jika tidak segera ditangani, kematian bisa terjadi dalam hitungan hari. Bahkan bila ditangani dengan operasi pun, angka kematian masih tinggi, sekitar 40“60%, terutama jika operasi dilakukan dalam 24 jam pertama.

Secara historis, RSV ditangani melalui operasi terbuka untuk menutup robekan di septum ventrikel. Namun, operasi ini sangat kompleks dan berisiko tinggi, apalagi jika pasien memiliki kondisi lain seperti tekanan darah rendah, gangguan ginjal, atau usia lanjut. Menariknya, angka kematian bisa ditekan jika operasi dilakukan secara tertunda. Misalnya, tingkat kematian bisa menurun menjadi 30% jika operasi dilakukan pada minggu ketiga, dan hanya 10% jika dilakukan setelah 21 hari. Sayangnya, tidak semua pasien cukup stabil untuk menunggu selama itu.

Selain itu, RSV yang terjadi di ujung (apeks) jantung lebih sulit ditangani secara bedah karena akses dan visibilitas yang terbatas bagi dokter bedah. Karena itu, pendekatan non-bedah atau penutupan secara perkutan (tanpa operasi terbuka) mulai dilirik sebagai solusi alternatif.

Teknik penutupan RSV secara perkutan menggunakan alat khusus yang dimasukkan melalui pembuluh darah dan diarahkan ke lokasi robekan dengan bantuan panduan gambar. Alat ini kemudian membuka cakram yang menjepit lubang RSV dari dua sisi, sehingga menutup aliran abnormal. Teknik ini awalnya banyak digunakan untuk mengatasi lubang jantung bawaan pada anak-anak, namun kini mulai diterapkan pada kasus RSV yang terjadi setelah serangan jantung.

Penutupan RSV biasanya dilakukan melalui pembuluh darah besar di paha (vena femoralis). Namun dalam kasus tertentu, seperti RSV yang terletak di bagian ujung bawah jantung, pendekatan melalui pembuluh darah leher (vena jugularis interna) memberikan sudut yang lebih baik untuk mencapai lokasi robekan. Hal ini memudahkan navigasi alat dan meningkatkan kemungkinan keberhasilan prosedur.

Dalam salah satu kasus yang dilaporkan, seorang pasien mengalami RSV sekitar empat minggu setelah serangan jantung anterior (bagian depan jantung). Pasien telah menjalani PCI penyelamatan yang berhasil, namun kemudian muncul gejala gagal jantung. Setelah dirujuk ke rumah sakit tersier, diagnosis RSV ditegakkan melalui echocardiography.

Karena pasien berada dalam kondisi stabil dan sudah melewati fase akut, maka diputuskan untuk melakukan penutupan secara perkutan. Posisi RSV yang terletak di apeks dan ukuran defek kurang dari 15 mm mendukung keberhasilan prosedur ini.

Pada awalnya, tim medis mencoba menggunakan alat penutup khusus untuk RSV (muscular VSD occluder), namun ukurannya terlalu kecil sehingga tidak dapat menutup celah secara efektif. Akhirnya digunakan alat penutup ASD (Atrial Septal Defect), yang lebih besar dan tersedia di pusat layanan tersebut. Meskipun bukan alat yang ideal, alat ini mampu mengurangi shunt dengan aliran sisa yang masih dalam batas aman.

Prosedur berjalan dengan baik, dan pasien menunjukkan perbaikan klinis. Meskipun masih terdapat sedikit aliran sisa (residual shunt), harapannya bekuan darah alami (trombus) akan terbentuk di sekitar alat penutup seiring waktu, sehingga menutup celah sepenuhnya. Pemantauan jangka panjang melalui echocardiography sangat penting untuk memastikan tidak terjadi komplikasi lanjutan dan memastikan alat tetap di posisi yang tepat.

Ruptur septum ventrikel adalah komplikasi berat dari serangan jantung yang membutuhkan penanganan cepat dan tepat. Meskipun operasi terbuka masih menjadi standar utama, pendekatan non-bedah melalui penutupan perkutan kini menjadi alternatif yang sangat menjanjikan, khususnya bagi pasien dengan risiko tinggi terhadap tindakan operasi.

Pendekatan trans-jugular menjadi pilihan strategis dalam beberapa kasus karena memberikan akses yang lebih baik ke lokasi robekan, terutama pada RSV yang terletak di bagian bawah jantung. Keberhasilan prosedur sangat bergantung pada kondisi pasien, ukuran dan lokasi defek, serta kesiapan alat dan pengalaman tim medis. Dengan pendekatan yang tepat, teknik ini dapat memberikan harapan baru bagi pasien dengan komplikasi serius seperti RSV.

Penulis: Hendri Susilo

Artikel Ilmiah Populer ini diambil dari artikel dengan judul: Transjugular approach percutaneous closure: a preferred solution for challenging surgical management of ventricular septal rupture. Egypt Heart J 77, 42 (2025).

AKSES CEPAT