51动漫

51动漫 Official Website

Peneliti UNAIR Terapkan Prostaglandin Intra-mukosa Vulva pada Kambing

Foto by Suara Merdeka

Kambing merupakan salah satu hewan ternak strategis sebagai sumber ekonomi masyarakat pedesaan dan dipelihara dengan pengelolaan tradisional. Salah satu upaya untuk meningkatkan populasi kambing adalah dengan memperbaiki sistem manajemen inseminasi melalui penerapan sinkronisasi estrus. Penerapan sinkronisasi estrus dilakukan pada hewan ternak yang memiliki periode birahi yang berbeda. Sebaliknya, waktu inseminasi akan menurunkan keberhasilan sistem reproduksi. Tanda-tanda estrus pada kambing tergantung musim dan siklusnya dapat dikendalikan dengan menggunakan sinkronisasi estrus. Sinkronisasi estrus merupakan salah satu cara untuk mengatur reproduksi pada hewan ternak. Hormon kehamilan yang disintesis dari kuda betina (PMSG) dan human chorionic gonadotropin (hCG) telah banyak dilaporkan memiliki tingkat keberhasilan sinkronisasi estrus. Namun, penggunaan prostaglandin juga dipertimbangkan kemanjurannya dalam memperoleh periode estrus yang signifikan.

Sinkronisasi estrus pada ruminansia kecil dapat dilakukan dengan mengurangi panjang fase luteal pada siklus estrus dengan menggunakan prostaglandin. Dalam aplikasi praktis, perlu untuk mengevaluasi bidang aplikasi prostaglandin melalui rute yang lebih pendek ke ovarium, melalui intra-mukosa vulva dibandingkan dengan intramuskular. Penelitian telah dilakukan untuk mengevaluasi kemanjuran prostaglandin intra-mukosa vulva dibandingkan dengan PMSG dan hCG secara intramuskuler yang diamati pada periode variabel tanda-tanda estrus dan tingkat kebuntingan pada kambing.

Berdasarkan evaluasi waktu timbulnya gejala estrus, dapat dilaporkan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna antara kelompok. Hasil ini menunjukkan bahwa injeksi prostaglandin intra-mukosa vulva tanpa injeksi PMSG dan hCG dapat diimplementasikan selama sinkronisasi estrus. Selain itu, efektivitas kebuntingan pada kambing juga menunjukkan hasil yang sama antara kelompok. Kehamilan dikonfirmasi dengan evaluasi ultrasonografi pada hari ke 30. Pemberian PMSG tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap timbulnya estrus. Pada penelitian ini terungkap waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan hasil penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya yang melaporkan waktu onset estrus antara 24-48 jam. Pelepasan progesteron setelah pemberian prostaglandin terjadi dalam waktu singkat, pada fase luteal dimana fase korpus luteum bervariasi pada masing-masing hewan. Mekanisme kerja prostaglandin adalah dengan meregresi korpus luteum sehingga mengurangi sekresi progesteron dan siklus estrus yang diawali dengan pertumbuhan folikel di ovarium. Mekanisme ini dapat terjadi karena prostaglandin menghambat aliran darah ke korpus luteum. Perbedaan ukuran korpus luteum akan menghasilkan konsentrasi progesteron yang berbeda. Semakin besar ukuran korpus luteum akan menghasilkan konsentrasi progesteron yang lebih tinggi. Konsentrasi progesteron yang tinggi akan mempengaruhi sekresi gonadotropin-releasing hormone (GnRH) oleh hipotalamus yang akan berlanjut ke perbedaan konsentrasi hormon perangsang folikel (FSH) dan hormon luteinizing (LH) yang dihasilkan oleh hipofisis anterior. Perbedaan konsentrasi FSH dan LH akan mempengaruhi perkembangan dan pematangan folikel dalam proses folikulogenesis, oleh karena itu estrogen akan berpengaruh signifikan terhadap timbulnya gejala estrus.

Kualitas pakan yang diberikan dapat mempengaruhi respon estrus yang tinggi. Perkembangan organ reproduksi sangat bergantung pada fungsi endokrin dalam memproduksi hormon reproduksi, selain itu ketersediaan nutrisi mempengaruhi homeostatis fungsional. Protein dan serat kasar merupakan sumber nutrisi penting pada ruminansia yang mempengaruhi fungsi hipotalamus sebagai mediator hormon reproduksi. Ternak yang diberi energi dan protein yang cukup dapat mempercepat pertumbuhan dan menunjukkan gejala estrus yang normal. Kekurangan nutrisi secara tidak langsung akan mempengaruhi fungsi hormon dan menyebabkan gangguan reproduksi yang ditandai dengan gangguan perkembangan folikel. Estrous dengan intensitas kurang atau sedang, lebih disebabkan oleh faktor individu yang mungkin lebih terkait dengan pola hormonal, terutama kadar estrogen yang berperan penting dalam merangsang estrus.

Penyuntikan prostaglandin yang diikuti PMSG pada kambing dapat meningkatkan angka kebuntingan hingga di atas 90%. Studi ini melaporkan persentase yang lebih tinggi dibandingkan pemberian prostaglandin yang diikuti PMSG hanya 88,9%. Penyuntikan PMSG dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan fertilitas dan kebuntingan pada kambing. Hormon PMSG memiliki aktivitas seperti FSH yang dapat meningkatkan perkembangan folikel dan sedikit menyerupai aktivitas LH sehingga sedikit mempengaruhi terjadinya ovulasi. Peningkatan perkembangan folikel akibat pemberian PMSG akan memungkinkan peningkatan jumlah folikel.

Penulis: Faisal Fikri, drh., M.Vet.

Sumber: Bahari, B.S., Agoeshermadi, H., Fikri, F., Sardjito, T., Purnomo, A., Chhetri, S., Maslamama, S.T., & Purnama, M.T.E. (2023). Efficacy of intra-vulvo submucosal prostaglandins on estrous cycles in goats. Indian Veterinary Journal, 100(4), 24-27.

Link:

AKSES CEPAT