Kecerdasan Buatan (AI) telah muncul sebagai alat transformasional dalam bidang kedokteran gigi forensik, berpotensi meningkatkan ketepatan dan efisiensi proses identifikasi gigi. Dalam konteks ini, AI menjadi sekutu berharga bagi dokter gigi forensik dengan memfasilitasi analisis gambaran gigi, termasuk radiografi, memungkinkan identifikasi dan korelasi individu berdasarkan karakteristik gigi mereka. Dengan memanfaatkan algoritma machine learning, AI dapat menyaring dataset besar, menjanjikan hasil terutama dalam diagnosis karies gigi, didorong oleh peningkatan repositori gambar gigi. Odontologi forensik, yang sangat mendapat manfaat dari AI, menggunakan teknologi ini dalam berbagai aplikasi, mulai dari identifikasi bekas gigitan hingga memprediksi morfologi mandibula, penentuan jenis kelamin, dan estimasi usia.
Sementara AI terus berkembang, integrasinya ke dalam praktik kedokteran gigi rutin diharapkan akan meningkat, dengan semakin banyak klinik gigi, rumah sakit, dan lembaga pendidikan yang merangkul teknologi inovatif ini. Namun, perlu dicatat bahwa penerapan AI dalam kedokteran gigi forensik masih dalam tahap awal. Penelitian berkelanjutan dan implementasi praktis dalam skenario kehidupan nyata menjadi penting untuk mengungkapkan seluruh spektrum manfaat AI di bidang ini.
Analisis Gigitan
Analisis bekas gigitan manusia adalah metode forensik yang mengidentifikasi penyerang dengan membandingkan cetakan gigi mereka dengan bekas gigitan pada kulit korban atau permukaan lain. Meskipun analisis bekas gigitan memiliki batasan dan keraguan ilmiah, AI dapat secara signifikan meningkatkan analisis ini melalui berbagai cara. AI dapat digunakan untuk meningkatkan gambar, memudahkan analisis bekas gigitan oleh dokter gigi forensik dan memungkinkan identifikasi pola dan karakteristik khas. Selain itu, AI dapat digunakan untuk membandingkan bekas gigitan, membantu mengidentifikasi pelaku yang mungkin. Penggunaan AI dalam mengamati foto gigi dapat membantu dokter gigi forensik dalam memperkirakan usia dan jenis kelamin individu, terutama saat identitasnya belum diketahui.
Penelitian oleh Mahasantipiya et al. (2012) menunjukkan investigasi awal tentang penerapan jaringan syaraf tiruan (ANN) dalam deteksi bekas gigitan. Meskipun akurasi ANN yang disarankan masih relatif rendah, penelitian ini menunjukkan potensi metode ini dan membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk meningkatkan kinerjanya. Para ilmuwan mengusulkan untuk meningkatkan pelatihan model ML dengan memasukkan properti lain dari bekas gigitan, yang berpotensi meningkatkan kinerjanya.
Penentuan Jenis Kelamin
Penentuan jenis kelamin adalah komponen penting dalam identifikasi forensik, terutama dalam kasus di mana informasi tentang individu tidak dapat diakses. AI telah digunakan untuk penentuan jenis kelamin, khususnya dalam pengaturan forensik dan medis. Algoritma machine learning, sebagai subset kecerdasan buatan, telah digunakan untuk menilai secara akurat jenis kelamin seseorang berdasarkan bentuk dan struktur tengkorak dalam bidang penentuan jenis kelamin forensik.
Akko莽 et al. (2016) mengusulkan metode otomatis sepenuhnya untuk menentukan jenis kelamin individu berdasarkan foto model gips gigi maksilar mereka. Penelitian ini menunjukkan bahwa algoritma Random Forest mencapai tingkat akurasi klasifikasi tertinggi dibandingkan dengan pendekatan lain seperti SVM, ANN, dan kNN.
Estimasi Usia Gigi
Estimasi usia gigi adalah prosedur kritis dalam identifikasi forensik yang digunakan untuk menentukan usia seseorang tanpa catatan kelahiran resmi. AI dapat digunakan untuk menganalisis gambar gigi, membantu dokter gigi forensik menentukan usia individu secara akurat. Beberapa penelitian menunjukkan kemampuan teknologi AI, khususnya jaringan syaraf tiruan, untuk mengotomatiskan tugas penilaian usia gigi, menghasilkan peningkatan akurasi dan efektivitas.
Penerapan AI dalam estimasi usia gigi dapat mengurangi heterogenitas yang timbul dari pengetahuan dan keahlian praktisi, menghasilkan hasil yang lebih seragam. Selain itu, teknologi AI dapat memberikan metode yang lebih konsisten dan dapat diandalkan untuk estimasi usia gigi. Ini karena dapat diprogram untuk mengidentifikasi dan menganalisis pola dan karakteristik yang terkait dengan pertumbuhan gigi, mengurangi bias manusia sebanyak mungkin.
Meskipun demikian, perlu diingat bahwa penerapan AI dalam kedokteran gigi forensik masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengevaluasi dan meningkatkan akurasi serta keterandalan teknik-teknik yang didorong oleh AI ini.
Penulis : Arofi Kurniawan, drg., Ph.D
Diambil dari artikel berjudul: Artificial Intelligence As Supporting Methods In Forensic Dental Identification
Artikel dapat diakses pada tautan berikut:





