51动漫

51动漫 Official Website

Pengalaman Hidup Keluarga Kusta untuk Menjaga Pola Interaksi dalam Keluarga

Foto by Halodoc

Risiko penularan kusta telah menjadi ancaman yang serius di dunia, dengan munculnya kasus baru pada anak sebesar 7,4 %, diantaranya mengalami kecacatan level 2 sebesar 72,17%,  dan Indonesia memberi kontribusi terhadap penemuan kasus baru kusta pada anak sebesar 13,41%, diantaranya mengalami kecacatan level 2 sebesar 55,80% (WHO, 2020). Ini mengindikasikan bahwa, di Indonesia, lingkungan keluarga merupakan sumber penularan kusta dan prioritas utama untuk memutus mata rantai penularan dan proses penyembuhan kusta di dalam keluarga adalah penting. Meskipun di Indonesia belum ada laporan, namun, di India telah dilaporkan hasil penelitian tentang adanya penularan kusta dalam cluster keluarga sebanyak 5,44% yang didominasi oleh laki-laki, dan mayoritas (90%) kasus anak memiliki anggota keluarga yang menderita kusta tipe lepromatosa (Nair, 2017).

Terkait dengan risiko keparahan ini, mempertahankan pola interaksi antar anggota keluarga sangat diperlukan untuk mendukung upaya penyembuhan dan pencegahan kecacatan kusta. Namun suasana tersebut telah dihambat oleh sikap keluarga, yang  masih berjuang untuk menghadapi respon emosional terkait peristiwa yang traumatis, kesedihan, perasaan malu, bingung, dimana unsur-unsur tersebut juga dihadapi oleh penderita kusta. Beberapa ulasan litertur menemukan sikap anggota keluarga yang rentan terhadap disharmoni dalam keluarga antara lain remaja menunjukkan respon ketakutan yang berlebihan akan tertular kusta, dan bagi wanita beban psikologis dirasakan jauh lebih menyakitkan, serta keluarga berusaha menyembunyikan penyakit mereka dari lingkungan keluarga mereka untuk melindungi mereka

Meskipun keluarga memiliki empati yang tinggi terhadap masalah fisik, psikis, dan sosial yang dihadapi penderita kusta, mereka jarang terlibat dalam urusan pribadi penderita kusta, dan ada indikasi mereka meninggalkan mereka untuk menyembuhkan penyakitnya. Sedangkan mengatasi masalah dengan caranya sendiri tanpa melibatkan anggota keluarga yang lain, menjadi pilihan utama penderita kusta untuk menghindari konflik antar anggota keluarga, karena mereka menyadari bahwa kusta merupakan aib dalam keluarganya.

Namun, interaksi antar anggota keluarga merupakan budaya Indonesia yang terus dilestarikan. Dan apapun alasannya, budaya interaksi antar anggota keluarga tidak bisa ditinggalkan, meski ada kendala yang harus dihadapi karena ini adalah alat untuk mempererat tali persaudaraan.

Penulis menemukan bahwa keluarga berusaha membantu penyembuhan penyakit kusta yang diderita oleh anggota keluarganya, meskipun dalam bayang-bayang kusta. Melalui berbagai strategi koping yang diterapkan, keluarga berusaha membantu proses penyembuhan penyakitnya, dengan harapan dapat bangkit dari keterpurukan dan memiliki motivasi yang tinggi untuk sembuh dan mengembalikan kepercayaan diri penderita kusta penting untuk mendukung program pengobatan yang definitif.

Penulis: Abd.Nasir, S.Kep.Ns., M.Kep

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di

Abd Nasir, Ah Yusuf, Muhammad Yulianto Listiawan, Makhfudli Makhfudli (2022). The life experience of leprosy families in maintaining interaction patterns in the family to support healing in leprosy patients in Indonesian society. A phenomenological qualitative study

Link Scopus:

AKSES CEPAT