Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki apakah pengalaman militer pada anggota top manajemen perusahaan berdampak terhadap tingkat pengungkapan Sustainable Development Goals (SDG). Studi ini menguji hubungan tersebut pada perusahaan non-keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2018“2022.
Metode dan Hasil Penelitian
Penelitian ini menggunakan regresi OLS dengan robust standard errors serta year dan industry fixed effect. Sampel terdiri dari 756 firm-year observations, dengan variabel independen utama berupa pengalaman militer (MEXP) yang diukur sebagai dummy berdasarkan latar belakang militer anggota direksi atau komisaris. Variabel dependen adalah tingkat pengungkapan SDG, yang diukur berdasarkan jumlah item yang diungkapkan dibagi dengan jumlah item yang disarankan menurut pedoman GRI. Kontrol yang digunakan mencakup variabel finansial (ROA, leverage, tobin™s Q, dll.) serta karakteristik kepemimpinan (CEO gender dan tenure).
Penelitian ini menemukan hubungan positif dan signifikan antara pengalaman militer dan pengungkapan SDG. Temuan ini konsisten dalam berbagai uji robust seperti Propensity Score Matching, Coarsened Exact Matching, Heckman 2-stage, dan Generalized Least Squares (GLS). Analisis tambahan menunjukkan bahwa pengaruh pengalaman militer terhadap pengungkapan SDG lebih kuat pada periode sukarela (2018“2019), yaitu sebelum adanya kewajiban regulasi yang mengharuskan pelaporan keberlanjutan. Hal ini mengindikasikan bahwa pemimpin berlatar belakang militer memiliki kecenderungan proaktif terhadap praktik keberlanjutan ketika tidak ada tekanan eksternal yang bersifat mengikat. Sikap ini mencerminkan nilai-nilai kepatuhan, inisiatif, dan kesadaran tanggung jawab sosial yang tertanam kuat selama masa pengabdian militer mereka.
Lebih lanjut, pengaruh yang lebih besar ditemukan pada tingkat dewan komisaris, bukan direksi. Ini mempertegas bahwa komisaris berlatar militer berperan sebagai pengarah strategis dan pengawas yang mendorong pengintegrasian tujuan pembangunan berkelanjutan ke dalam strategi perusahaan. Pengawasan yang kuat dari komisaris militer memungkinkan perusahaan menunjukkan komitmen yang lebih eksplisit terhadap isu-isu keberlanjutan.
Dari sisi isi pengungkapan, efek paling signifikan muncul pada SDG yang terkait dengan isu lingkungan, khususnya SDG 13, SDG 14, dan SDG 15. Temuan ini mengindikasikan bahwa nilai-nilai strategis, kepatuhan pada protokol, dan manajemen risiko jangka panjang yang diperoleh dari pengalaman militer mendorong perhatian lebih besar terhadap isu-isu lingkungan yang bersifat sistemik dan berdampak luas. Dalam konteks ini, pemimpin militer cenderung mengutamakan ketahanan ekosistem dan keberlangsungan operasional perusahaan dalam jangka panjang, sejalan dengan prinsip keberlanjutan.
Penelitian ini memberikan kontribusi pada literatur dengan mengintegrasikan Upper Echelon Theory dan Imprinting Theory dalam konteks keberlanjutan. Studi ini menunjukkan bahwa karakteristik unik dari pemimpin berlatar militer (disiplin, kepatuhan, dan orientasi strategis) dapat mendorong pengungkapan keberlanjutan yang lebih baik. Ini juga memperluas pemahaman tentang bagaimana pengalaman masa lalu pemimpin mempengaruhi strategi dan tata kelola perusahaan dalam isu-isu ESG, terutama dalam konteks negara berkembang seperti Indonesia.
Penulis: Iman Harymawan, Mohammad Nasih, Fajar Kristanto Gautama Putra, Grantley Taylor, Azlan Amran
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:





