51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Pengaruh Ekstrak Bunga Telang terhadap Penurunan Kadar Kolesterol Total pada Rattus norvegicus dengan Model Hiperkolesterolemia

Foto by Hello Sehat

Hiperkolesterolemia merupakan penyakit gangguan metabolik yang ditandai dengan meningkatnya kadar kolesterol dalam darah di atas batas normal1. Jika kolesterol terakumulasi di dalam plasma dengan waktu yang lama, akan menyebabkan peroksidasi lipid melalui makrofag sehingga terbentuk plak aterosklerosis dan penyakit jantung koroner2. Kasus hiperkolesterolemia sangat diwaspadai di kawasan Eropa, Amerika, Australia, dan Asia. Menurut WHO, di tahun 2008, prevalensi global terhadap peningkatan kolesterol total pada orang dewasa adalah 39% (37% untuk laki-laki dan 40% untuk wanita)3. Adapun di Amerika, prevalensi penyakit hiperkolesterolemia mencapai 16,2% pada usia dewasa4, sedangkan di Bangladesh dan Nepal ditemukan 16% dan 13% kejadian hiperkolesterolemia5. Di Indonesia, kasus hiperkolesterolemia masih tergolong tinggi. Berdasarkan Profil Penyakit Tidak Menular tahun 2016, presentase kasus hiperkolesterolemia yang tercatat di Posbindu maupun Puskesmas ditemukan sebanyak 48% orang laki-laki dan 54.3% perempuan. Untuk presentase seseorang dengan kolesterol tinggi di umur lebih dari 60 tahun ditemukan sebesar 58.7%. Menurut data Posbindu dan FKTP Jawa Timur, dari 8.225 orang yang diperiksa sebanyak 2.967 atau 36.1% teridentifikasi memiliki kadar kolesterol tinggi di atas 190 mg/dL. Data terbaru menurut RISKESDAS 2018, ditemukan bahwa 34.820 orang di atas 15 tahun di Indonesia masih memiliki kadar kolesterol yang tinggi dan kasusnya akan terus menigkat seiring berjalannya waktu.

Hiperkolesterolemia dapat memicu berbagai penyakit yang salah satunya adalah aterosklerosis dan penyakit jantung koroner1. Penanganan terhadap tingginya kadar kolesterol melibatkan modifikasi gaya hidup dan farmakoterapi. Banyak studi mendukung penggunaan statin sebagai terapi farmakologi guna mengurangi kejadian penyakit kardiovaskular pada orang dewasa dan anak-anak6. Statin bekerja dengan menghambat HMG-CoA reduktase sehingga sekresi kolesterol dalam hati menurun. Statin memiliki waktu paruh eliminasi kurang dari 5 jam dan mengalami efek lintas pertama di hati sehingga bioavailabilitas sistemiknya rendah7.

Penggunaan statin sering diresepkan dalam jangka panjang. Hal ini menyebabkan berbagai efek samping yang merugikan seperti miopati (27,8%), mialgia (10%)8, miositis (20%)9, dan rabdomiolisis (1,5%)10. Jumlah insiden lain adalah keluhan miopati yang kontradiktif. Menurut US National Lipid Association Statin Safety Assessement Task Force, dalam sebuah meta-analisis menemukan bahwa miopati yang terjadi akibat penggunaan statin pada 45 pasien adalah kerusakan protein otot dan peningkatan kreatin kinase11. Pendapat para ahli menyatakan perlunya terapi alternatif pengganti statin yang lebih baik, terutama menilai efek sampingnya yang berbahaya. Hal ini bertujuan agar tercipta intervensi terapeutik penurun kadar kolesterol dengan dukungan klinis berbasis bukti (evidence base), aman (safety), dan hemat biaya (low cost) untuk pasien hiperkolesterolemia.

Penelitian ini merupakan penelitian berbasis eksperimental laboratorik dengan pre and post test control group design. Unit eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tikus putih (Rattus norvegicus) berkelamin jantan, berumur 2-3 bulan dengan berat badan ± 200 gram, serta dalam kondisi sehat yang dipelihara dan dikembangkan di Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran 51¶¯Âþ. Pengambilan sampling dilakukan dengan teknik Purposive Random Sampling. Randomisasi dilakukan dengan memberikan label kepada masing-masing hewan coba dengan mengoleskan cat pada bagian ekor tikus. Setelah itu dibuat undian yang bertuliskan bagian tubuh masing-masing tikus yang dicat. Pengundian dilakukan untuk menentukan hewan coba masuk ke dalam kelompok K, S, K1, K2, dan K3. Penelitian ini akan dilaksanakan dalam kurun waktu 5 bulan (Mei 2022 “ September 2022).

Adapun rincian dari pembagian tersebut adalah sebagai berikut: Kelompok K sebagai kontrol di mana tikus model hiperkolesterolemia yang tidak diberikan terapi apapun. Kelompok (S) merupakan tikus hiperkolesterolemia yang diberikan simvastatin dengan dosis 10 mg/kali. Kelompok I adalah kelompok tikus yang diberikan ekstrak etanol bunga telang dosis I sebesar 25 mg/ 200 gram BB/hari selama 14 hari. Kelompok II merupakan kelompok tikus hiperkolesterolemia yang diberikan ekstrak etanol bunga telang dosis II sebesar 50 mg/ 200 gam BB/hari selama 14 hari. Kelompok III merupakan kelompok tikus hiperkolesterolemia yang diberi ekstrak etanol bunga telang dosis III sebesar 100 mg/ 200 gram BB/hari selama 14 hari.

Dalam penelitian ini, hasil penelitian yang didapat dianalisis menggunakan uji statistik parametrik One Way Anova. Pengambilan sampel dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan. Sampel darah sebelum perlakuan diambil melalui aorta sebanyak 1 cc sedangkan sesudah perlakuan diambil melalui aorta sebanyak 2 cc. Sampel kemudian disentrifuge untuk mendapatkan serumnya. Pengukuran kadar kolesterol ditentukan dengan metode CHOD-PAP yang dilakukan di Laboratorium Patologi Klinik, RSUD dr. Soetomo, Surabaya. Untuk pemeriksaan kadar kolesterol dilakukan dua kali, tes pertama dipergunakan saat hewan coba telah memperoleh pemberian pakan tinggi lemak selama 28 hari agar mengetahui apakah sudah masuk dalam keadaan hiperkolesterolemia atau belum. Adapun untuk pemeriksaan kedua dilakukan setelah tikus memperoleh pemberian ekstrak etanol bunga telang dan simvastatin selama 14 hari.

Penelitian ini menemukan pengaruh ekstrak bunga telang (Clitoria Ternatea) terhadap penurunan kadar kolesterol total pada Rattus norvegicus dengan model hiperkolesterolemia. Dalam penelitian ini terdapat keterbatasan yakni sifat penelitian eksperimental dengan pre and post test control group design sehingga tidak dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif berupa tikus sehat tanpa pemberian pakan tinggi lemak dan terapi apapun. Peneliti menyarankan agar penelitian selanjutnya untuk menggunakan kelompok kontrol negatif dengan mempertimbangkan efek dari penggunaan ekstrak bunga telang (Clitoria ternatea) untuk mengetahui perbedaan tiap kelompok. Selain itu, perlu dicari hubungan faktor-faktor lain seperti pengaruh dosis optimum ekstrak bunga telang dengan menambahkan variasi dosis yang lebih tinggi lagi (> 100 mg/Kg BB/hari).

Penulis: Arifa Mustika

Judul dan link artikel jurnal IJRP yang dituliskan menjadi opini: The Effect of Butterfly Pea (Clitoria ternatea) Extract on Reducing Total Cholesterol Levels in Rattus norvegicus with The Hypercholesterolemia Model

Link: https://ijrp.org/paper-detail/4306

AKSES CEPAT