51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Pengaruh Faktor Perioperatif Terhadap Mortalitas dan Tingkat Kelangsungan Hidup Pasien Geriatri

Foto by Halodoc

Pandemi COVID-19 telah menciptakan krisis kesehatan di dunia. Karena banyaknya kasus COVID-19, banyak rumah sakit yang beralih melayani pasien COVID-19. Akibatnya, jumlah operasi yang dilakukan menurun secara global sekitar 25 juta operasi elektif pada awal tahun 2020. Hal ini juga berdampak pada pelayanan bedah pasien geriatric terutama yang menjalani operasi di masa pandemi COVID-19 karena memiliki risiko tinggi. Pasien mungkin tidak terinfeksi COVID-19 pada awal masuk, tetapi pasien mungkin terpapar selama perawatan. Memiliki COVID-19 dapat meningkatkan kematian dan menurunkan tingkat kelangsungan hidup yang memperburuk hasil dari layanan bedah dan anestesi pada pasien geriatri.

Angka kematian pasien yang berusia lebih dari 70 tahun dan terinfeksi COVID-19 dibandingkan dengan orang di usia muda, 33,7% vs 13,9%. COVID-19 telah terbukti meningkatkan jumlah pasien yang memerlukan perawatan tan Intensif (ICU), lama rawat pasien di rumah sakit, dan kematian, serta menurunkan tingkat kelangsungan hidup pasien. Banyak faktor yang mempengaruhi mortalitas dan kelangsungan hidup pasien yang menjalani pembedahan. Namun, belum banyak diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi mortalitas dan kelangsungan hidup selama pandemi COVID-19, terutama pada pasien geriatri. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui bagaimana faktor perioperatif memengaruhi angka kematian dan kelangsungan hidup pasien geriatri yang menjalani operasi pada pandemi COVID-19, karena dapat memengaruhi pengambilan keputusan dan identifikasi pasien yang mendapat manfaat dari operasi yang membutuhkan anestesi.

Penelitian ini merupakan penelitian kohort prospektif. Penelitian ini dilakukan di 14 Rumah Sakit Pendidikan Residensi Anestesiologi dan Terapi Intensif di Indonesia. Pengumpulan data dilakukan selama empat bulan, termasuk tiga bulan pengumpulan data dari Februari hingga April 2021, dan secara prospektif ditindaklanjuti selama 30 hari. Sejumlah 2091 pasien dilibatkan dalam penelitian ini, dan 470 pasien dikecualikan karena data yang tidak lengkap. Setelah dikecualikan, sejumlah 1621 pasien dianalisis, dengan 1551 pasien yang survive (95,7%) dan 70 pasien yang meninggal (4,3%). Usia rata-rata pasien adalah 67,1±6,2 tahun, dan sebagian besar adalah laki-laki (54%) dengan hampir semua pasien (98,9%) berusia di bawah 84 tahun.

Beberapa faktor perioperatif dikaitkan dengan mortalitas 30 hari (p<0,05) antara lain COVID-19 (OR=4,34; 95% CI, 1,04“18,07; p=0,04), CCI > 3 (OR=2,33; 95% CI, 1,03“5,26;p=0,04), operasi darurat (OR=3,70; 95% CI, 1,96“7,00;p≤0,01), perawatan ICU pasca operasi (OR=2,70; 95% CI, 1,32-5,53; p=0,01), dan Kejadian tidak diinginkan (KTD) di ICU (OR=3,43; 95% CI, 1,32-8,96;p=0,01). Selaras dengan temuan ini, COVID-19, CCI > 3, dan komorbiditas memiliki log-rank p<0,05. Enam penyakit penyerta yang memiliki log-rank p<0,05 adalah penyakit ginjal sedang hingga berat (log-rank p≤0,01), penyakit serebrovaskular (log-rank p≤0,01), diabetes dengan komplikasi kronis (log-rank p=0,03), tumor padat metastatik (log-rank p=0,02), demensia (log-rank p≤0,01), dan penyakit rematik (log-rank p=0,03).

Dalam penelitian ini, ada beberapa keterbatasan. Pertama, tidak semua rumah sakit di Indonesia terlibat. Penelitian ini dilakukan di 14 rumah sakit pendidikan yang merupakan rumah sakit rujukan, termasuk rujukan pasien COVID-19 yang kasusnya kompleks. Kedua, meskipun 30 hari sudah cukup untuk melihat angka mortalitas dan kelangsungan hidup geriatri pasien yang menjalani operasi, mungkin perlu untuk melihat kelangsungan hidup dengan tindak lanjut yang lebih lama. Ketiga, peneliti tidak mendalami penyebab kematian karena kematian dapat terjadi dari berbagai penyebab dan tidak selalu berhubungan langsung dengan penelitian. Keempat, KTD (seperti hipoksia, hipotensi, dan hipotermia) diukur dan dicatat dari ada atau tidaknya kejadian selama atau setelah operasi dan tidak memasukkan data yang lebih rinci tentang durasi dan frekuensi kejadian. Kelima, meskipun perdarahan lebih dari EBV dicatat sebagai salah satu KTD, peneliti tidak memasukkan transfusi darah sebagai salah satu faktor perioperatif yang dapat memengaruhi angka kematian dan kelangsungan hidup pasien.

Peneliti merekomendasikan agar penelitian lebih lanjut dilakukan pada transfusi darah sebagai faktor yang mungkin berhubungan dengan angka mortalitas dan tingkat kelangsungan hidup pasien. Peneliti menyadari bahwa setiap negara dan setiap tempat memiliki faktor risiko perioperatif yang berbeda untuk pasien geriatri yang menjalani operasi. Selain berguna untuk data lokal Indonesia, tentunya penelitian ini dapat bermanfaat jika diterapkan pada populasi di negara-negara dengan kasus kematian COVID-19 tinggi. Terlepas dari beberapa keterbatasan penelitian diatas, hasil penelitian ini cukup dapat merepresentasikan pasien geriatric umum yang menjalankan operasi elektif di Indonesia, khususnya selama masa pandemic COVID-19.

Penulis: Prof. Dr. Nancy Margarita Rehatta, dr., SpAn., KNA., KMN

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Rehatta NM, Chandra S, Sari D, Lestari MI, Gde T, Senapathi A, et al. Perioperative Factors Impact on Mortality and Survival Rate of Geriatric Patients Undergoing Surgery in the COVID-19 Pandemic¯: A Prospective Cohort Study in Indonesia. 2022;19:1“13.

AKSES CEPAT