Penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang sebagian besar menyerang paru-paru dan juga mempengaruhi organ lain adalah Tuberkulosis Paru (TBC). Tuberkulosis merupakan salah satu masalah kesehatan terbesar di dunia. Sediaan rifampisin oral konvensional memiliki beberapa keterbatasan seperti bioavailabilitas yang buruk, kelarutan yang rendah dan ketidakstabilan obat dalam cairan gastrointestinal. Hanya sebagian kecil obat tuberkulosis yang dapat mencapai alveoli sebagai target utama obat tuberkulosis.
Sistem penghantaran obat Pulmosfer merupakan salah satu solusi untuk masalah ini. Sistem ini merupakan formulasi atau sistem yang dapat memediasi penghantaran zat terapeutik ke dalam tubuh untuk meningkatkan efek terapeutik, mengurangi efek samping obat, meningkatkan bioavailabilitas dan meningkatkan kepatuhan pasien. Penghantaran obat melalui paru-paru membutuhkan dosis dan ukuran partikel yang kecil, sehingga pulmosfer dipilih sebagai sistem yang sesuai untuk penghantaran melalui paru-paru.
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh konsentrasi polimer alam natrium alginat dan karagenan (0,75%, 1%, 1,25%) dengan rasio 1:1 terhadap karakteristik fisik, pelepasan in vitro, dan aktivitas anti-tuberkulosis. Pulmosfer Rifampisin Natrium Alginat-Karagenan dibuat dengan teknik Gelasi-Aerosolisasi Ionotropik. Pulmosfer dievaluasi berdasarkan efisiensi penjebakan, morfologi, rendemen, ukuran partikel, pemuatan obat, pelepasan in vitro, dan aktivitas Mycobacterium smegmatis. Hasil yang diperoleh yaitu peningkatan konsentrasi natrium alginat dan karagenan menghasilkan pulmosfer rifampisin dengan karakteristik fisik yang baik, meningkatkan pelepasan rifampisin dari sistem, dan menghasilkan aktivitas penghambatan terhadap Mycobacterium smegmatis.
Penulis: Dewi Melani Hariyadi
Informasi detail riset kami dapat diakses pada:





