Produksi embrio yang efisien sangat penting untuk kesuksesan program pembiakan ternak, terutama pada ras ternak yang secara genetik berharga seperti sapi Japanese Black atau disebut juga sapi Wagyu. Teknologi Reproduksi, seperti pengambilan ovum dan produksi embrio secara in vitro, telah secara signifikan mempercepat perbaikan genetik. Namun, meskipun ada kemajuan, persentase embrio yang berhasil ditransfer tetap rendah. Penelitian ini melibatkan 51 ekor sapi Wagyu donor yang sehat secara klinis yang dipelihara di enam peternakan komersial di Jepang, menyelidiki hubungan antara tingkat hormon anti-M眉llerian (AMH), penanda inflamasi (serum amyloid A (SAA) dan rasio albumin/globulin (A/G)), dan kontaminasi zearalenone (ZEN) dalam pakan dengan kualitas oosit dan produksi embrio pada sapi donor. Penelitian ini mengungkapkan beberapa korelasi signifikan yang memengaruhi produksi embrio.
AMH sebagai Prediktor: Korelasi positif yang kuat ditemukan antara tingkat AMH dan jumlah oosit yang diperoleh serta embrio yang dapat ditransfer. Hal ini memperkuat kegunaan AMH sebagai penanda prediktif untuk memilih sapi donor yang sesuai untuk ovum pick up (OPU). Konsentrasi AMH yang lebih tinggi menunjukkan cadangan ovarium yang lebih besar, yang menghasilkan lebih banyak oosit dengan kualitas baik.
Dampak negatif peradangan: Tingkat protein total (TP) dan gamma-globulin (纬-globulin) berkorelasi negatif dengan jumlah oosit yang diperoleh, kualitas oosit, dan embrio yang dapat ditransfer. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi peradangan kronis, yang ditandai dengan peningkatan gama-globulin, dapat berdampak buruk pada jumlah dan kualitas oosit serta perkembangan embrio selanjutnya. Meskipun SAA menunjukkan korelasi negatif lemah dengan jumlah oosit, hal ini tidak signifikan secara statistik. Studi juga mencatat bahwa nilai alpha1-globulin, alpha2-globulin, dan beta-globulin memiliki efek signifikan secara statistik pada jumlah oosit yang dikumpulkan dalam analisis multivariat.
Peran tak terduga zearalenone: Berlawanan dengan ekspektasi bahwa ZEN, mikotoksin dengan sifat estrogenik, akan berdampak negatif pada hasil reproduksi, tingkat ZEN urin positif korelasi dengan tingkat produksi embrio setelah IVF. Temuan menarik ini menyarankan bahwa kontaminasi ZEN yang rendah dalam pakan mungkin tidak menghambat produksi embrio, tetapi berpotensi meningkatkan pematangan oosit selama perkembangan folikel, kemungkinan karena efek estrogeniknya. Ini adalah pengamatan baru, karena studi sebelumnya sering menyoroti efek merugikan ZEN pada pematangan oosit dan kesehatan reproduksi. Temuan ini menyoroti pentingnya AMH sebagai penanda yang andal untuk memilih sapi donor JB dengan potensi tinggi untuk pengambilan oosit dan produksi embrio. Selain itu, korelasi negatif yang diamati dengan tingkat gama-globulin menunjukkan bahwa pengelolaan peradangan kronis sangat penting untuk mengoptimalkan hasil reproduksi.
Penulis : Oky Setyo Widodo, drh., M.Si., Ph.D
Link :





