Night eating syndrome adalah perilaku mengkonsumsi makanan di jam-jam setelah makan malam paling tidak 25% dari kebutuhan energi harian. NES juga ditandai dengan adanya dua episode makan larut malam dalam seminggu. Umumnya, individu yang mengalami NES menyadari bahwa dia sering makan larut malam, cenderung tidak menyukai sarapan, dan merasa lapar sebelum tidur. Terkadang beberapa perilaku yang muncul adalah keinginan untuk makan sebelum tidur. Rata-rata individu yang mengalami NES melaporkan adanya insomnia dan memiliki gangguan mental tertentu, seperti over-stressed atau depresi.
Dewasa ini, night eating syndrome (NES) menjadi salah satu problem yang menjadi perhatian setelah beberapa studi menemukan adanya hubungan yang signifikan antara NES dengan indeks masa tubuh (IMT) mahasiswa. Penelitian sebelumnya juga menemukan prevalensi NES yang cukup tinggi di kalangan mahasiswa. Di Malaysia misalnya, prevalensi NES di mahasiswa mencapai 15% pada 2019. Adanya NES pada mahasiswa akan berdampak pada kualitas hidup serta performa akademisnya. Sayangnya hal ini diperparah dengan kebiasaan hidup sedentary yang dilakukan oleh mahasiswa kebanyakan.
Kurangnya aktivitas fisik yang diikuti dengan gejala NES akan meningkatkan risiko overweight dan obesitas pada mahasiswa. Kami menemukan adanya hubungan yang positif antara kejadian NES dengan IMT. Mahasiswa yang memiliki kecenderungan untuk mengalami NES, juga cenderung memiliki IMT yang lebih tinggi. Hubungan tersebut menjadi semakin kuat ketika mahasiswa memiliki level aktivitas fisik yang kurang.
Pada kasus mahasiswa dengan NES, diketahui bahwa nocturnal eating dapat menyebabkan circardian misalignment, dimana hal ini akan mengganggu jam biologis mahasiswa. Tubuh akan beradaptasi dengan mengubah regulasi hormonal, termasuk menurunkan level leptin sehingga meningkatkan rasa lapar yang berkepanjangan. Di samping itu, di malam hari energi expenditure akan lebih rendah dibandingan saat siang hari, hal ini akan memicu penumpukan lemak selama NES terjadi dan berdampak pada kenaikan IMT. Penumpukan lemak disebabkan oleh glukosa yang tidak dimetabolisme menjadi energi.
Kami menemukan bahwa NES lebih banyak dialami oleh mahasiswa laki-laki dibandingkan perempuan. Salah satu factor yang menjadi penyebab adalah awareness terhadap diet dan kesehatan mahasiswa perempuan jauh lebih tinggi dibandingkan mahasiswa laki-laki. Disamping itu terdapat beberapa factor lain, termasuk tingginya waktu screen-time dan aktivitas akademik, dimana mahasiswa dituntut untuk fokus terhadap prestasi akademiknya, sehingga tidak terlalu peduli dengan kesehatan dan pola hidupnya.
Adanya NES dan kurangnya aktivitas fisik pada mahasiswa perlu mendapat perhatian khusus dari institusi terkait. Sebab, status gizi mahasiswa memiliki hubungan langsung dengan NES dan aktivitas fisik. Jika tidak mendapat penanganan maka akan berdampak pada kesehatannya di masa depan, termasuk meningkatkan risiko mengalami penyakit degeneratif, seperti hipertensi, hiperkolesterol, diabetes mellitus tipe 2.
Penulis: Anisa Lailatul Fitria
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Athirah Sorfina Sa™ari, Mohd Ramadan Ab Hamid, Nazrul Hadi Ismail, Anisa Lailatul Fitria
Saari, A. S., Ab Hamid, M. R., Ismail, N. H., & Fitria, A. L. (2024). Influences of Night Eating Syndrome and Physical Activity Level towards Students™ Body Mass Index. Environment-Behaviour Proceedings Journal, 9(27), 149-154.





