51动漫

51动漫 Official Website

Pengaruh Perubahan Salinitas terhadap Parameter Hematologi Darah dan Respon Stres pada Ikan Nila Merah

Pengaruh Perubahan Salinitas terhadap Parameter Hematologi Darah dan Respon Stres pada Ikan Nila Merah
Sumber: Alfa Farm

Ikan nila merah (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu komoditas perikanan budidaya yang bernilai ekonomis tinggi karena memiliki peluang ekspor yang tinggi khususnya di negara Singapura, Jepang dan Amerika Serikat. Ikan nila merah merupakan ikan air tawar hasil persilangan empat spesies yang berbeda (tetrahibrid) dari genus Oreochromis, yaitu Oreochromis mossambicus, Oreochromis niloticus, Oreochromis hornorum, dan Oreochromis aureus. Ikan nila merah sangat potensial untuk dikembangkan karena memiliki beberapa kelebihan seperti tahan terhadap perubahan lingkungan, memiliki pertumbuhan yang cepat, lebih resisten terhadap penyakit serta mampu beradaptasi pada kisaran salinitas yang cukup tinggi mencapai 20 ppt. Kegiatan budidaya ikan nila merah tidak terlepas dari masalah penyakit bakterial terutama yang disebabkan oleh bakteri Vibrio harveyi. V. harveyi merupakan salah satu patogen penyebab penyakit vibriosis yang menyebabkan kematian masal dalam budidaya ikan air payau dan laut baik pembenihan maupun pembesaran. Kerugian ekonomi penyakit vibriosis pada budidaya udang mencapai 1 milyar USD setiap tahunnya di dunia. Peningkatan status kesehatan dan daya tahan ikan terhadap penyakit dapat dilakukan dengan mengatur salinitas pada media budidaya. Salinitas memberikan pengaruh nyata terhadap infeksi bakteri maupun virus pada organisme budidaya. Selain itu, perbedaan salinitas dapat mempengaruhi efisiensi metabolisme, konsumsi oksigen, tingkat pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui efek manipulasi salinitas terhadap parameter hematologi dan respon stress ikan nila merah yang terinfeksi V. harveyi.

Metode penelitian yang diterapkan yaitu metode eksperimental menggunakan 5 salinitas yang berbeda (0, 5, 10, 15 dan 20 ppt) dengan 3 kali ulangan dan dipelihara selama 30 hari. Selanjutnya dilakukan uji tantang dengan menyuntikkan V. harveyi (kepadatan 106 CFU/mL) secara intramuskular dan diamati selama 14 hari. Parameter yang diamati yaitu hematologi (total eritrosit, total leukosit, kadar hemoglobin, persentase monosit, neutrofil dan limfosit) serta respon stress yang terdiri dari kadar kortisol darah, glukosa darah dan laju ventilasi.

Hasil penelitian melaporkan terjadinya penurunan perlahan dari total eritrosit dan kadar hemoglobin pada hari ke-1 sampai ke-14 pasca infeksi. Sedangkan pada total leukosit, menunjukkan peningkatan dari hari ke-1 sampai ke-6 dan stabil hingga hari ke-14 pasca infeksi. Persentase neutrofil dan monosit menunjukkan trend yang serupa yaitu peningkatan pada awal infeksi hingga hari ke-4 dan ke-5 lalu menurun perlahan hingga hari ke-14 pasca infeksi. Sebaliknya persentase limfosit menunjukkan penurunan pada awal infeksi hingga hari ke-5 dan meningkat hingga akhir pengamatan. Pengamatan respon stress menunjukkan trend yang sama pada seluruh parameter yaitu peningkatan hingga nilai maksimal pada pertengahan infeksi (hari ke-4 sampai ke-6) dilanjutkan penurunan hingga akhir pengamatan. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa manipulasi salinitas mempengaruhi resistensi ikan nila merah setelah terinfeksi dengan V. harveyi. Salinitas rendah (5 – 15 ppt) dapat meningkatkan ketahanan ikan nila merah yang terinfeksi V. harveyi yang diamati dari parameter darah dan respons stres.  

Penulis: Mohammad Faizal Ulkhaq, S.Pi., M.Si.

Link:

Baca juga: Kapuasia Falaris, Spesies Baru Ikan Loach Nemacheilid dari Kalimantan

AKSES CEPAT