51动漫

51动漫 Official Website

Pengaruh Proses Deselulerisasi terhadap Kandungan Faktor Pertumbuhan Osteogenik di Dalam Scaffold Tulang Bovine

Sumber ilustrasi: Aria Dental

Dalam praktik bedah mulut, kerusakan tulang maksilofasial dapat disebabkan oleh tumor, infeksi, trauma, dan kelainan bawaan. Defek tulang dengan celah 2 cm atau lebih yang tidak dapat sembuh sendiri atau menyebabkan regenerasi disebut sebagai defek ukuran kritis. Salah satu modalitas untuk mengatasi defek ini adalah rekonstruksi dengan cangkok tulang.

Bahan cangkok tulang dapat berupa bahan alami maupun sintetis. Bahan pengganti tulang xenogenik menjadi tren yg menjanjikan karena sumbernya yang tidak terbatas. Tulang sapi (bovine) merupakan xenograf yang paling banyak digunakan secara klinis. Pemrosesan graft tulang sapi dengan deproteinisasi yakni membakar graft pada suhu sangat tinggi disebut deproteinized bovine bone mineral (DBBM) adalah jenis xenograft yang telah menjalani perawatan deproteinisasi, yang menghilangkan semua debris tulang organik. Tetapi DBBM tidak bersifat osteoinduksi karena hanya mengandung material inorganik. Oleh karena itu dilakukan penelitian untuk menggali potensi xenograft dari bovine yang tidak dilakukan proses pembakaran, lebih bersifat osteoinduktif, mengingat fakta bahwa banyak protein dan faktor pertumbuhan terkandung di dalam scaffold trabekula seperti TGF-尾, IGF, FGF, dan BMP. Namun demikian, penggunaan bahan xenograft berisiko terjadinya reaksi imunogenik dan rejeksi terhadap graft tersebut.

Xenograft yang diproses dengan menghilangkan lemak dan jaringan secara kimiawi, serta melalui prosedur pengeringan beku, menghasilkan FDBB dengan tujuan menghilangkan antigenisitas dan patogenisitas. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Kamadjaja et al.13, FDBB dari tulang sapi kanselus direndam dalam larutan hidrogen peroksida 3% (H2O2 3%), dibekukan pada suhu 80掳C, dan dikeringkan dengan liofilizer hingga kadar airnya di bawah 10%. FDBB mempertahankan bahan anorganik dan organik seperti faktor pertumbuhan dan komponen seluler lainnya. Sifat osteoinduktif FDBB disebabkan oleh keberadaan faktor pertumbuhan seperti TGF-尾, IGF, FGF, dan BMP. Penggunaan H2O2 berdampak negatif dengan mengurangi kadar faktor pertumbuhan, sehingga mengurangi kemampuan osteoinduktif. Penurunan kadar faktor pertumbuhan terjadi seiring bertambahnya waktu perendaman dalam H2O2.

Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, diperlukan penelitian untuk mengetahui pengaruh prosedur freeze-drying dan deseluleriasi terhadap level growth factor yang terkandung di dalam trabekula tulang kanselus bovine. Penelitian  ini dilakukan dengan metode ekstraksi protein dari Wildemann yang menggunakan Guanidine HCl, proteinase, atau collagenase yang diikuti dengan pemeriksaan ELISA. Kelompok penelitian meliputi fresh cancellous bone, freeze-dried bovine bone (FDBB) dan decellularized bovine bone (dc-FDBB)

Hasil penelitian menunjukkan kandungan growth factor TGF-尾1 dan BMP-2 yang tertinggi didapatkan pada kelompok fresh cancellous bovine bone, diikuti FDBB dan yang paling rendah adalah dc-FDBB. Hasil analisis statistik menunjukkan penurunan kadar growth factor yang cukup signifikan antara fresh cancellous bone dan kedua kelompok uji. Meskipun demikian tidak ada perbedaan signifikan antara FDBB dan dc-FDBB. Kesimpulan dari penelitian ini adalah peroses deselulerisasi secara fisik (FDBB) dan secara kimiawi (dc-FDBB) menurunkan kandungan factor pertumbuhan osteogenic yang diperlukan dalam proses pembentukan tulang baru (bone regeneration).

Penulis: Prof. Dr. David Buntoro Kamadjaja, drg., MDS., Sp.BM.

Sumber: COMPARISON OF TGF-螔1 AND BMP-2 CONTENTS IN CANCELLOUS BOVINE BONE PROCESSED BY FREEZE-DRYING AND DECELLULARIZATION (BIOMATERIAL PROFILE STUDY)

Link:

AKSES CEPAT