51动漫

51动漫 Official Website

Pengaruh Skor Breed dan Kondisi Tubuh Terhadap Berat Ovarium, Jumlah Foliklus, dan Kualitas Otot pada Sapi yang Sudah Afkir

Pemotongan sapi betina masih banyak dilakukan di Indonesia. Dengan demikian, sapi yang disembelih lebih banyak meskipun sapi betina tersebut produktif. Mengingat banyaknya sapi betina yang disembelih di Rumah Potong Hewan (RPH), maka akan lebih baik apabila limbah ovariumnya dapat dimanfaatkan. Ovarium merupakan organ reproduksi utama yang mampu menghasilkan oosit. Melalui teknologi fertilisasi in vitro (IVF), oosit dari limbah ovarium sapi dapat diolah untuk menghasilkan embrio secara in vitro yang selanjutnya dapat ditransfer ke ternak penerima yang telah dipersiapkan untuk menghasilkan anak sapi yang memiliki karakteristik sesuai dengan induk yang memiliki catatan genetik unggul, seperti kemampuan reproduksi yang baik dan produksi susu yang tinggi, tetapi telah dipotong karena sakit atau cedera. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara bangsa sapi dengan berat ovarium, jumlah folikel, dan kualitas oosit.

Penelitian dan pengamatan preparat oosit dan folikel dilakukan di laboratorium obstetri Fakultas Kedokteran Hewan 51动漫 Surabaya. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan Maret 2024. Sampel penelitian yang digunakan adalah ovarium sapi betina afkir yang diperoleh dari pemotongan sapi betina afkir di Rumah Potong Hewan Surya Jalan Pegirian Kota Surabaya. Sampel ovarium berasal dari 3 bangsa sapi yaitu sapi perah Limousin, sapi perah Ongole, dan sapi perah Friesian Holstein. Besar sampel yang digunakan adalah 30 ovarium dari 15 ekor sapi perah Limousin, 30 ovarium dari 15 ekor sapi perah Ongole, dan 30 ovarium dari 15 ekor sapi perah Friesian Holstein, sehingga diperoleh jumlah ovarium sebanyak 90 ekor. Identifikasi bangsa sapi yang akan dipotong, kemudian perhatikan daerah anatomi tubuh sapi untuk mengetahui BCS-nya.

Ovarium ditimbang menggunakan neraca analitik. Teknik yang digunakan untuk pengambilan oosit dari ovarium adalah teknik aspirasi. Prosedur aspirasi oosit sesuai dengan standar nasional Indonesia (SNI) yang tercantum dalam Prosedur Operasional Standar Bagian Produksi dan Aplikasi Balai Embrio Ternak Cipelang. Oosit yang disedot dikelompokkan berdasarkan penilaian visual kekompakan sel kumulus. Kualitas morfologi oosit dikategorikan menjadi 4 grade, yaitu: Oosit grade A/kualitas A (lengkap), Oosit grade B/kualitas B (Diperluas), Oosit grade C/kualitas C (Sebagian), Oosit grade D/kualitas D (Nude). Data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode ANOVA dua arah untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh ras sapi terhadap berat ovarium, jumlah folikel, dan kualitas oosit.

Rata-rata berat ovarium terbesar pada ovarium sebelah kiri terdapat pada sapi peranakan Limousin yaitu sebesar 1,96 g, disusul sapi peranakan Friesian Holstein sebesar 1,88 g dan terkecil pada sapi peranakan Ongole yaitu sebesar 1,64 g. Pada ovarium sebelah kanan rata-rata berat terbesar terdapat pada sapi peranakan Friesian Holstein yaitu sebesar 2,06 g, disusul sapi peranakan Limousin sebesar 1,97 g dan terakhir sapi peranakan Ongole yaitu sebesar 1,94 g. Rata-rata jumlah folikel tertinggi terdapat pada sapi peranakan Friesian Holstein, disusul sapi peranakan Ongole dan terendah pada sapi peranakan Limousin. Rata-rata jumlah oosit tertinggi terdapat pada sapi peranakan Friesian Holstein dengan kualitas oosit grade C yaitu sebesar 1,31 buah.

Namun, pada sapi persilangan Friesian Holstein, hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh BCS terhadap berat ovarium. Hasil analisis menunjukkan bahwa BCS pada sapi persilangan Friesian Holstein dan sapi persilangan Ongole memengaruhi jumlah folikel (P<0,05) sedangkan pada sapi persilangan Limousine, BCS tidak memengaruhi jumlah folikel (P>0,05). BCS pada sapi persilangan Friesian Holstein, sapi persilangan Ongole, dan sapi persilangan Limousine memengaruhi kualitas oosit (P<0,05). Data menunjukkan bahwa kualitas oosit bervariasi di berbagai kategori BCS. Jenis sapi tidak mempengaruhi berat ovarium, tetapi mempengaruhi jumlah folikel dan kualitas oosit. Pada sapi persilangan Friesian Holstein, BCS mempengaruhi berat ovarium, jumlah folikel dan kualitas oosit. Pada sapi persilangan Ongole, BCS tidak mempengaruhi berat ovarium, tetapi mempengaruhi jumlah folikel dan kualitas oosit. Pada sapi persilangan Limousine, BCS tidak mempengaruhi berat ovarium dan jumlah folikel, tetapi mempengaruhi kualitas oosit.

Artikel penelitian ini disusun berdasarkan kolaborasi penulisan antara Natalie Lovena Pramono Putri, Dilla Amalia Bilqis Ikhsan, Dadik Raharjo, Aswin Rafif Khairullah, Tita Damayanti Lestari, Imam Mustofa, Rimayanti Rimayanti, Erma Safitri, Muhammad Fajar Amrullah, Laily ‘Ulya Nurul 業lmi, Gabriel Sampe Pasang, Supriyadi Supriyadi, Ginta Riady. Artikel ini telah terbit pada Jurnal Kedokteran Hewan (https://doi.org/10.21157/j.ked.hewan.v19i1.44392) pada Maret 2024. Jurnal Kedokteran Hewan merupakan jurnal nasional bereputasi Sinta 2.

Putri, Natalie Lovena Pramono1; Ikhsan, Dilla Amalia Bilqis1; Raharjo, Dadik2; Khairullah, Aswin Rafif3; Lestari, Tita Damayanti4; Mustofa, Imam4; Rimayanti, Rimayanti4; Safitri, Erma4; Amrullah, Muhammad Fajar5; 業lmi, Laily ‘Ulya Nurul6; Pasang, Gabriel Sampe7; Supriyadi, Supriyadi8, Riady, Ginta9. The effect of breed and body condition score on ovarian weight, number of follicles, and oocyte quality in retired cows. Jurnal Kedokteran Hewan 19(1): 6-13, March 2025 | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v19i1.44392.

AKSES CEPAT