Skoliosis adalah kondisi kelainan bentuk tulang belakang yang menyebabkan kelengkungan lateral dan rotasi tulang belakang, yang dapat mempengaruhi fungsi respirasi dan hasil obstetrik pada ibu hamil. Walaupun jarang, kasus skoliosis pada wanita hamil membutuhkan perhatian khusus, terutama dalam penanganan anestesi dan manajemen perioperatif. Skoliosis berat dapat menyebabkan komplikasi pernapasan, mengurangi kapasitas paru, dan meningkatkan risiko gagal jantung atau gangguan pernapasan. Manajemen anestesi yang tepat sangat penting pada pasien dengan skoliosis yang menjalani prosedur bedah, termasuk sectio caesarea, karena pergeseran anatomis saluran napas dan perubahan fisiologis selama kehamilan. Artikel ini mengulas pengelolaan perioperatif pada seorang pasien dengan skoliosis berat yang menjalani sectio caesarea.
Pasien yang dilaporkan adalah seorang wanita berusia 30 tahun yang hamil pada usia kehamilan 34/35 minggu dengan skoliosis dextroskoliosis thoracalis berat. Pasien memiliki riwayat sesak napas dan merasa kesulitan bernafas terutama saat beraktivitas, yang menyebabkan dia dirujuk ke rumah sakit tertier untuk perawatan lanjutan. Pemeriksaan awal menunjukkan adanya gejala gagal pernapasan, dan pemeriksaan fisik menunjukkan keterbatasan suara napas pada paru kiri. Hasil pemeriksaan radiologi menunjukkan kelengkungan lateral tulang belakang dengan sudut Cobb 70 derajat. Pemeriksaan ekokardiografi dan analisis gas darah dilakukan untuk menilai fungsi paru dan jantung, yang menunjukkan adanya asidosis respiratori kronis. Pasien juga mengalami anemia (Hb 7.3), hypoalbuminemia (Alb 2.62), dan trombositopenia (Plt 132.000).
Setelah evaluasi medis yang komprehensif, pasien dijadwalkan untuk menjalani sectio caesarea karena tes non-stres yang abnormal. Sebelum operasi, pasien diberi darah utuh untuk koreksi anemia. Prosedur anestesi yang dipilih adalah anestesi umum dengan intubasi, mengingat adanya kesulitan dalam pemberian anestesi regional akibat kelainan anatomi tulang belakang. Pasien dipersiapkan dengan infus Ringer™s Lactate, dan selama prosedur dilakukan pemantauan hemodinamik secara ketat dengan elektrokardiogram, tekanan darah non-invasif, serta oksimetri nadi. Anestesi dimulai dengan induksi menggunakan ketamin dan rokuronium, dilanjutkan dengan intubasi menggunakan endotrakeal tube ukuran 7.0 mm. Pemeliharaan anestesi menggunakan isoflurane setelah bayi dilahirkan.
Prosedur sectio caesarea berjalan lancar tanpa komplikasi hemodinamik. Selama operasi, tekanan darah pasien stabil dengan rentang 135-170/85-100 mmHg, dan denyut jantung berkisar antara 78-108 kali per menit. Pasien menerima cairan kristaloid sebanyak 250 ml dan produk darah sebanyak 212 ml selama operasi. Bayi laki-laki dengan berat 2000 gram dan panjang 44 cm lahir dengan skor Apgar 8-9. Tidak ada kejadian hipotensi atau desaturasi oksigen selama prosedur. Setelah operasi, pasien dipindahkan ke unit perawatan intensif (ICU) dalam kondisi intubasi dan didukung ventilator dengan mode ventilasi yang disinkronkan. Kondisi klinis pasien membaik, dengan saturasi oksigen stabil 99%, tekanan darah 146/88 mmHg, dan denyut jantung 89 bpm. Pemeriksaan pascaoperasi menunjukkan bahwa hasil gas darah menunjukkan perbaikan dengan pH 7.243 dan PCO2 74 mmHg, serta saturasi oksigen 98%. Pasien kemudian dipindahkan ke ruang perawatan tingkat tinggi setelah 3 hari pascaoperasi dan dapat bernapas spontan tanpa dukungan ventilator.
Pada pasien dengan skoliosis berat yang menjalani sectio caesarea, evaluasi praoperatif yang menyeluruh dan manajemen anestesi yang cermat sangat penting untuk mencegah komplikasi pernapasan dan hemodinamik. Pengelolaan perioperatif yang efektif dengan pemantauan ketat selama operasi dan pascaoperasi sangat diperlukan untuk memastikan keselamatan ibu dan bayi. Dalam kasus ini, pendekatan yang tepat dalam anestesi dan perawatan intensif pascaoperasi berhasil mengurangi risiko dan memastikan hasil yang baik bagi kedua pasien. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menyempurnakan protokol anestesi pada wanita hamil dengan skoliosis yang menjalani sectio caesarea.
Penulis: Dr. Prananda Surya Airlangga, dr., M.Kes., Sp.An-TI, Subsp. TI (K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Zharfan AS, Airlangga PS, Santoso KH, Fitriati M. Perioperative Management of Cesarean Section in A Patient with Severe Scoliosis: A Case Report. New Armenian Medical Journal. 2025;19(3):75“81.





