51动漫

51动漫 Official Website

Penggabungan Ekstraksi Lipid Chlorella Vulgaris menjadi Biodiesel

Ilustrasi Biodisel (sumber: CNN)

Pada era modern, kebutuhan terhadap energi semakin meningkat dari tahun ke tahun, namun ketersediaannya terus berkurang. Sebagian besar energi yang dikonsumsi adalah dari bahan bakar fosil diikuti dengan minyak dan gas alam. Namun, pembakaran bahan bakar fosil dapat menyebabkan pencemaran udara. Oleh karena itu, energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan akan bahan bakar dan sekaligus untuk mengurangi pencemaran adalah penggunaan biodiesel.

Biodiesel adalah bahan bakar hayati yang bersumberkan dari alam seperti alga, kacang kedelai, tanaman jarak, jagung, kelapa sawit, dan jojoba. Ini merupakan bahan bakar alternatif yang efisien karena dapat mengurangi emisi gas dan meningkatkan ketahanan energi. Bahan bakar ini juga ramah lingkungan (green fuel), non-toksik, tidak mengandung sulfur, biodegradable, dan mempunyai kekentalan lebih tinggi. Salah satu bahan baku penghasil biodiesel yang sangat berpotensi adalah mikroalga. Menurut Chisti (2007), mikroalga menghasilkan lipid, hidrokarbon dan minyak kompleks yang berbeda tergantung pada spesiesnya. Dari banyak jenis mikroalga, Chlorella vulgaris mempunyai kadar lipid sebesar 56% yang bisa orang manfaatkan untuk produksi biodiesel (Saldivar et al., 2014).

Ekstraksi langsung dan konversi lipid mikroalga menjadi biodiesel dalam satu langkah proses dikembangkan untuk memulai metode yang efisien dalam produksi biofuel. Metode yang disebut proses in-situ telah diterapkan dalam produksi biodiesel dari lipid mikroalga Chlorella vulgaris dengan melibatkan bantuan sonikasi. Berbagai parameter yang mempengaruhi transesterifikasi in situ diselidiki untuk menemukan kondisi optimal termasuk kekuatan sonikasi, penggunaan pelarut bersama, dan jumlah biomassa. Percobaan dilakukan dengan katalis asam 饾悋饾煇饾悞饾悗饾煉. Penggunaan sonikasi pada 25kHz/270W menghasilkan produk berkualitas tertinggi. Penggunaan co-solvent n-hexane meningkatkan rendemen biodiesel secara signifikan dibandingkan tanpa co-solven. Rendemen sebesar 10,39 % diperoleh bila proses disertai dengan n-heksana sebagai co-solvent dengan peningkatan produk sebesar 47%. Proses in situ dengan perbandingan biomassa metanol 3:50 dibantu sonikasi selama 60 menit menghasilkan biodiesel tertinggi, yaitu sebesar 20,31 % b/b. Komponen yang dihasilkan pada proses tersebut terdiri dari metil ester 7,10,13-heksadecatrienoat; asam pentadecanoic, 14-metil-metil ester; 9,12,15-asam oktadecatrienoat-metil ester; dan asam eikosanoat-metil ester. Efisiensi perlu dicoba kedepan dalam skala pilot sehingga dapat menghasilkan biodiesel yang lebih besar.

Penulis: Prof. Dr. Purkan, S.Si, M.Si.

Link Paper:

Baca Juga: Menggali Potensi User Story dalam Perangkat Lunak Agile

AKSES CEPAT