51动漫

51动漫 Official Website

Penggunaan Teknologi Digital dan Kesehatan Mental pada Dewasa Paruh Baya dan Lansia Selama Pandemi COVID-19 di Indonesia

Ilustrasi depresi. (Sumber: Link Sehat)

Situasi krisis multidimensi selama pandemi COVID-19 di Indonesia patut didokumentasikan dan dikaji secara mendalam sebagai bahan untuk merancang kebijakan kesehatan masyarakat yang lebih responsif pada masa depan. Saat pandemi sumber daya kesehatan dikerahkan secara besar-besaran untuk menanggulangi penyebaran penyakit serta menatalaksana pasien pada aspek fisiknya. Seringkali aspek kesehatan mental terabaikan. Padahal kedua aspek tersebut bertaut erat dan seyogyanya dikelola beriringan. Kelompok usia paruh baya dan lansia adalah kelompok yang rentan mengalami dampak penyakit yang berat serta kematian akibat COVID-19. Beberapa laporan di luar negeri menunjukkan dampak pandemi COVID-19 terhadap peningkatan gangguan kesehatan mental pada kelompok usia ini. Sedangkan data penelitian status kesehatan mental pada rentang usia ini masih sedikit di Indonesia.

Pandemi COVID-19 dipandang sebagai salah satu akselerator transformasi digital pada abad 21. Digitalisasi menawarkan solusi atas pembatasan interaksi sosial, aktivitas ekonomi dan pendidikan serta berbagai aktivitas vital lainnya, yang disebabkan penerapan lock down atau PPKM di Indonesia. Namun perlu diingat kelompok usia paruh baya dan lansia seringkali gagap untuk merangkul teknologi digital dalam ranah kehidupannya. Digital gap atau kesenjangan digital antara kelompok yang mahir dalam menggunakan perangkat digital dengan kelompok yang tidak mengenalnya perlu diperhatikan sebagai salah satu fenomena masalah sosial yang patut diselesaikan.   

Penelitian ini merekrut 199 dewasa berusia 45 tahun ke atas yang tinggal di area pulau Jawa sebagai responden. Mereka yang sedang menderita COVID-19 atau menjalani isolasi mandiri serta yang mengalami gangguan kognitif dikeluarkan dari subjek penelitian. Pengambilan data dilakukan saat gelombang kedua COVID-19 (September-Oktober 2021). Kuesioner penelitian daring disampaikan kepada peserta webinar 淜esehatan Mental Lansia serta disebarkan melalui media sosial. Responden dapat mengisi kuesioner daring secara mandiri atau dengan bantuan kerabat terdekat. Kuesioner terdiri dari isian data sosiodemografis, riwayat penyakit, penggunaan teknologi digital, dan butir pertanyaan yang menilai level depresi, kecemasan dan stress dalam 2 minggu terakhir.  Data penelitian ini menghasilkan beberapa temuan penting. Sekitar 11 % (1 dari 10 orang) mengalami depresi, 34% (1 dari 3 orang) mengalami kecemasan dan 20% (1 dari 5 orang) mengeluhkan stress. Peneliti juga menemukan bahwa jenis kelamin dan status perkawinan berpengaruh terhadap kesehatan mental. Wanita 2 kali lipat lebih berisiko mengalami kecemasan daripada pria. Mereka yang tidak menikah (janda, duda atau lajang) cenderung lebih rentan mengalami kecemasan. Tidak pernah atau jarang menggunakan teknologi digital untuk mengakses informasi kesehatan meningkatkan risiko depresi dan kecemasan. Penderita penyakit komorbiditas COVID-19 memiliki risiko 4 kali lipat lebih tinggi mengalami stress dibanding mereka yang tidak mempunya komorbiditas. Namun, mereka yang tidak mampu menggunakan perangkat teknologi digital justru berisiko lebih rendah untuk mengalami stress. Kemungkinan karena mereka terhindar dari berita negatif yang sifatnya bombastis dan membingungkan mengenai penyebaran COVID-19 yang beredar di internet.

Dapat disimpulkan dari penelitian ini bahwa situasi krisis dapat memicu gangguan kesehatan mental pada kelompok usia paruh baya dan lansia, yang umumnya dipandang lebih resilien dibanding kelompok usia muda. Sehingga kesehatan mentalnya patut menjadi perhatian, terutama pada kelompok yang lebih rentan antara lain perempuan, yang tidak memiliki pasangan dan menderita penyakit komorbid. Selain itu, terdapat keterkaitan antara kesehatan mental dan kesenjangan digital. Hasil ini bisa menjadi dasar untuk membuat langkah strategis yang membantu mengatasi masalah kesehatan mental dan kesenjangan akses teknologi pada kelompok usia ini. Pandemi COVID-19 mengajarkan kita pentingnya penggunaan teknologi digital dalam layanan kesehatan dan memastikan dunia digital ramah kepada seluruh kelompok usia. Hal ini bisa menjadi bagian dari langkah mitigasi atas situasi krisis kesehatan serupa yang mungkin terjadi pada masa depan.

Penulis: Nurina Hasanatuludhhiyah dr., M.Si

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: Hasanatuludhhiyah N, Sawitri B, Rahman BAI, Atika A, Yulianti E, Marchianti ACN, Visuddho V. Differences, relationships, and risks of using digital technology with depression, anxiety, and stress during the COVID-19 pandemic. J Ideas Health [Internet]. 2025 Feb. 28;8(1):1247-53. Available from:

AKSES CEPAT