UNAIR NEWS BEM FST 51动漫 (UNAIR) telah menjalankan kegiatan Pengabdian Masyarakat Bina Desa FST. Pengmas tersebut telah berhasil membangun Rumah Sampah sebagai solusi cerdas yang berhubungan langsung dari isu masyarakat yaitu salah satunya adalah permasalahan lingkungan. Langkah ini berdasarkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, mengingat mahasiswa juga menjadi stakeholder dari pembangunan bangsa.
Kami memutuskan untuk memilih Permasalahan lingkungan pada Masyarakat Desa Manduro Manggung Gajah, Mojokerto menjadi study case dalam observasi dan percobaan dari proyek ini. Pelaksanaan proyek Rumah Sampah ini berlangsung selama tujuh hari tepatnya pada tanggal 15 Juli sampai 21 Juli. Pembangunan Rumah Sampah berlangsung bersamaan dengan pembuatan alat bantu ECOSS (Eco Smart Sorter) yang merupakan salah satu program unggulan dalam Pelaksanaan Pengabdian Bina Desa Call For Pengmas SDGS. Sesuai dengan namanya alat sorter ini nantinya akan dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk menyeleksi berbagai jenis sampah anorganik berupa plastik, kaleng, kaca, dan lain lain.
Munculnya ide pembangunan Rumah Sampah ini didasarkan pada kondisi sampah di desa ini yang terlihat saat tim panitia melakukan survei lokasi pada awal Juni 2024 dalam rangka Bina Desa 2024 yang sebelumnya memang sudah menjadi program kerja tahunan dari BEM FST sendiri. Survei awal dilakukan bertujuan untuk menganalisis kondisi desa sebelum dipersiapkan program kerja yang berfokus pada pengembangan dan pelestarian lingkungan.
Rohadi, selaku ketua Lembaga Pemberdayaan masyarakat (LPM) Desa Manduro mengatakan, 淢asyarakat di sini kalau buang sampah langsung di sungai dan kalau hujan, airnya bisa langsung meluber kemana-mana. Masih belum ada tempat untuk menampung sampah disini. Jadi sampahnya ya terbawa air mengalir kalau hujan turun.
Menindaklanjuti perkataan dari Rohadi selaku perangkat desa Manduro. Kami serentak memunculkan ide mengenai permasalahan sampah tersebut dengan pembangunan Rumah Sampah. Pembangunan Rumah Sampah dilakukan oleh seluruh tim Bina Desa yang saat itu berjumlah 20 orang, dengan dibantu oleh warga lokal yang sukarela membantu mengerjakan beberapa proses pembangunan.
Selain itu, ada dua tukang ahli yang membantu dalam pelaksanaan pembangunan. Rumah Sampah yang dibangun dengan ukuran 3×3 meter menggunakan beberapa bahan bangunan seperti seng, kayu, batu-bata, dan bahan-bahan lainnya. Rumah Sampah ini berlokasi di dekat lapangan desa Manduro, dengan harapan nantinya mudah diakses oleh warga sekitar.
淎gar tidak terjadi penumpukan sampah di sungai, maka warga dapat mengumpulkan sampahnya di Rumah Sampah. Sehingga pada saat hujan tidak menyeruak ke perumahan, ungkap Afzal selaku Ketua Panitia Bina Desa.
Dalam beberapa hari yang berlalu sembari menunggu proses pembangunan Rumah Sampah, panitia melakukan pembagian karung ke beberapa rumah warga. Karung tersebut dapat digunakan untuk tempat penampungan sampah sementara di rumah masing masing warga sebelum akhirnya dimasukkan ke Rumah Sampah. Nantinya sampah akan dipilah menjadi dua jenis, yakni sampah anorganik dan organik. Untuk sampah anorganik seperti plastik, kertas, kardus dan botol akan dikumpulkan tersendiri untuk akhirnya dimasukkan dalam alat ECOSS guna dipilah dan dihitung bobotnya sebelum diserahkan ke pengepul sampah.
Agenda lain dari tim panitia Bina Desa adalah mengadakan sosialisasi kepada warga setempat guna mengedukasi masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan demi terciptanya kelestarian lingkungan yang terjaga, selain itu pula menjadi media bagi kami selaku panitia yang membangun Rumah Sampah untuk mempromosikan program tersebut sebagai solusi mereka dalam pembuangan sampah. Sehingga tujuan kami dalam pelestarian lingkungan dapat didukung langsung oleh masyarakat setempat. Sosialisasi ini bermitra dengan Karang Taruna daerah setempat, Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Desa Manduro.
Dari program pembangunan Rumah Sampah ini, kami berharap dapat mengatasi permasalahan warga Desa Manduro terkait dengan permasalahan pengelolaan sampah dan menjadi desa yang bersih serta dapat menjadi contoh bagi desa lainnya.(*)
Penulis: Inayatul Fadilah, Mochammad Afzal I.S.R, Ikhtafia Harnum A.





