Cacingan masih menjadi masalah kesehatan yang sering terjadi pada anak-anak, terutama di daerah pedesaan dengan sanitasi yang kurang baik. Salah satu jenis cacing yang paling sering menginfeksi manusia adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides). Infeksi ini disebut askariasis dan paling banyak menyerang anak usia di bawah lima tahun. Salah satu laporan kasus di Indonesia menceritakan pengalaman seorang anak laki-laki berusia 2 tahun di pedesaan Ambon yang mengalami cacingan berulang, meskipun sebelumnya sudah pernah diobati. Anak ini datang ke rumah sakit dengan keluhan diare berlendir, muntah, rewel, dan terdapat cacing pada tinja. Dua bulan sebelumnya, ia mengalami keluhan serupa dan sempat membaik setelah minum obat cacing, namun infeksi kembali muncul. Pemeriksaan menunjukkan bahwa anak tersebut mengalami kekurangan gizi, dehidrasi ringan hingga sedang, serta peningkatan sel darah tertentu yang sering muncul pada infeksi cacing. Pemeriksaan tinja dan USG perut memastikan adanya infeksi ulang cacing gelang dalam jumlah cukup banyak, bahkan anak tersebut sempat memuntahkan dan mengeluarkan puluhan cacing selama perawatan. Cacingan bisa terjadi berulang karena cacing gelang masuk ke tubuh melalui telur cacing yang tertelan, biasanya dari tanah, air, makanan, atau tangan yang terkontaminasi kotoran. Lingkungan dengan sanitasi buruk, telur cacing dapat bertahan lama di tanah dan mudah menginfeksi kembali anak, terutama jika kebiasaan cuci tangan masih buruk, anak sering bermain tanah tanpa alas kaki, air bersih dan jamban layak terbatas atau asupan gizi anak kurang baik
Selain itu, obat cacing umumnya hanya membunuh cacing dewasa, bukan telur atau larva. Karena itu, bila lingkungan masih tercemar, infeksi dapat terjadi kembali. Pada kasus ini, anak diobati dengan mebendazole, salah satu obat cacing yang aman untuk anak. Obat diberikan berulang dengan jarak satu bulan, karena telur cacing masih ditemukan pada pemeriksaan tinja setelah pengobatan pertama. Setelah pengobatan ketiga, tidak ditemukan lagi telur cacing, dan kondisi anak membaik. Namun, dokter juga menemukan adanya keterlambatan tumbuh kembang, yang diduga berkaitan dengan infeksi cacing kronis dan kurangnya asupan gizi. Hal ini menunjukkan bahwa cacingan tidak hanya menyebabkan diare, tetapi juga dapat mengganggu pertumbuhan, perkembangan, dan kualitas hidup anak. Kasus ini menegaskan bahwa cacingan tidak boleh dianggap penyakit ringan, terutama bila terjadi berulang. Pengobatan saja tidak cukup. Pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh, salah satunya dengan minum obat cacing sesuai anjuran dan pengulangan bila diperlukan, cuci tangan sebelum makan dan setelah buang air atau gunakan alas kaki saat bermain di luar. Pencegahan lain yang juga bisa diterapkan antara lain perbaiki kebersihan lingkungan dan sanitasi dan pastikan anak mendapat makanan bergizi seimbang. Pengobatan yang tepat dan perbaikan kebersihan lingkungan, cacingan berulang dapat dicegah, sehingga anak dapat tumbuh sehat dan berkembang secara optimal.
Penulis: Dr. Dominicus Husada, dr.,DTM&H.,MCTM(TP).,Sp.A(K)
Link artikel:





