Proporsi balita stunting di Indonesia telah menurun secara perlahan. Namun, masih tercatat 30,8% balita stunting pada tahun 2018, yang menurut WHO tergolong sangat tinggi (>30%). Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) pada tahun 2019, 2021, dan 2022 juga mencatat tren penurunan balita stunting dari 27,7% menjadi 24,4%, kemudian 21,6%. Penurunan rata-rata tahunan balita stunting ini perlu mendapat akselerasi. Sehingga dapat mencapai penurunan prevalensi sebesar 14% pada tahun 2024, seperti yang pemerintah Indonesia targetkan.
Balita terindikasi stunting jika tinggi badan mereka terhadap usia berada di atas dua standar deviasi di bawah median Standar Pertumbuhan Anak WHO untuk usia dan jenis kelamin yang sama. Hasil riset sebelumnya menunjukkan bahwa praktik pengasuhan anak yang tidak tepat pada masa kritis, yaitu 6“23 bulan, meningkatkan risiko terjadinya stunting hingga 42% saat mereka mencapai usia 24“35 bulan.
Di sebagian besar keluarga, ibu lah yang bertanggung jawab atas pengasuhan anak, terlebih yang masih balita. Kualitas kemampuan pengasuhan ibu mempengaruhi kemampuan ibu untuk menerapkan praktik pengasuhan anak yang tepat. Terutama yang penting untuk mencegah balita mengalami stunting. Akan tetapi, kemampuan pengasuhan ibu belum menjadi isu strategis yang banyak mendapat pembahasan. Itu belum banyak mendapat sorotan dalam praktik pengasuhan anak sebagai upaya pencegahan balita stunting. Model peningkatan kemampuan pengasuhan ibu berdasarkan model pengasuhan UNICEF. Harapnya model ini dapat meningkatkan kemampuan ibu dalam mengasuh anaknya untuk mencegah stunting di usia balita. Termasuk untuk memberikan pada bayi pola makan dan stimulasi yang tepat, serta lingkungan hidup yang sehat.
Sumber daya untuk Perawatan
Menurut Extended UNICEF Model of Care, pengasuhan penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Kurangnya atau tidak memadainya sumber daya untuk perawatan dapat menghambat pemberian perawatan yang tepat. Pengasuh memerlukan sumber daya dan kemampuan yang memadai untuk mengelola sumber daya, untuk melakukan praktik perawatan yang memadai. Kemampuan pengasuhan ibu merupakan karakteristik psikososial ibu yang mendasari kemampuannya dalam mengasuh anaknya agar sehat dan tumbuh kembang secara optimal. Kemampuan pengasuhan ibu memungkinkan ibu memanfaatkan keterampilan dan sumber daya untuk kesehatan anak, serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.
Penelitian berdesain observasional analitis melibatkan pasangan ibu dan anak bungsu mereka yang berusia 6“23 bulan yang terdaftar di Posyandu (Pusat Pelayanan Kesehatan Terpadu Berbasis Masyarakat) berhasil menjaring 600 dari tujuh puskesmas di Kota Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner kemudian dianalisis menggunakan uji Structural Equation Model-Partial Least Squares (SEM-PLS).
Hasil penelitian menemukan bahwa faktor yang mempengaruhi kemampuan pengasuhan ibu adalah anak, ibu, dan rumah tangga. Kemampuan pengasuhan ibu berpengaruh terhadap perilaku pencegahan stunting pada anak usia 6“23 bulan. Rumah tangga merupakan faktor yang paling kuat mempengaruhi kemampuan pengasuhan ibu.
Faktor yang mempengaruhi kemampuan pengasuhan ibu
Faktor anak, faktor ibu, dan faktor rumah tangga sangat mempengaruhi kemampuan pengasuhan ibu. Kemampuan pengasuhan ibu memiliki pengaruh tunggal dan kuat terhadap perilaku gizi yang tepat untuk mencegah stunting pada anak usia 6“23 bulan. Intervensi keperawatan untuk meningkatkan kemampuan pengasuhan ibu dapat mempertimbangkan komponen-komponennya, terutama persepsi kesehatan fisik, kesejahteraan psikologis, dan otonomi pengambilan keputusan. Harapnya peningkatan kemampuan pengasuhan ibu dapat meningkatkan kemampuannya dalam menerapkan perilaku gizi yang tepat untuk mencegah stunting pada anak sedini mungkin.
Aspek kebaruan yang disoroti dalam penelitian ini adalah model untuk meningkatkan kemampuan pengasuhan ibu untuk meningkatkan perilaku gizi guna mencegah balita stunting, berdasarkan Extended UNICEF Model of Care. Pengembangan model hendaknya memperhatikan faktor anak, faktor ibu, dan faktor rumah tangga yang dapat mempengaruhi kemampuan pengasuhan ibu. Kemudian kemampuan pengasuhan ibu akan membentuk perilaku gizi ibu dalam mencegah stunting pada anak. Model ini juga dapat perawat gunakan sebagai intervensi keperawatan Asuhan Keperawatan Keluarga pada keluarga yang memiliki balita, sebagai upaya pencegahan stunting.
Penulis: Dr. Eka Mishbahatul Mar’ah Has, S.Kep., Ns., M.Kep.
Baca Juga: Pembelajaran Simulasi Interdisipliner untuk Perawat Profesional





