Sebagian besar populasi global terdampak oleh masalah kesehatan mental dan psikososial [1]. Prevalensi individu yang menderita penyakit kesehatan mental dan perilaku terus meningkat setiap tahunnya, dan gangguan ini menunjukkan sifat yang sangat rumit [2]. Untuk meningkatkan fungsi pendidikan dan psikososial pada individu dengan masalah kesehatan mental, sangat penting untuk mengidentifikasi dan menerapkan tindakan pengobatan yang efektif dengan segera [3]. Identifikasi tepat waktu dan intervensi yang cepat untuk masalah kesehatan mental akan mengurangi masalah fisik dan psikologis, yang mengarah pada pengurangan signifikan dalam kejadian penyakit mental global. Dukungan keluarga dan masyarakat memfasilitasi identifikasi gangguan mental di masyarakat. Selain itu, budaya memainkan peran penting dalam kesehatan dengan meningkatkan motivasi untuk pulih dari penyakit atau masalah kesehatan. Hal ini, pada gilirannya, meningkatkan hasil pengobatan dan mengurangi potensi risiko bagi pasien dan keluarga mereka [4]. Menurut data yang dikumpulkan dari 33 institusi kesehatan mental di Indonesia, ada sekitar 2,5 juta orang yang menderita penyakit mental di negara ini. Insiden gangguan mental di Jawa Timur sangat tinggi, dengan 6,5% dari populasi yang terkena dampak [5]. Hanya 25% profesional kesehatan mental yang terlibat dalam identifikasi dini masalah mental. Kemampuan kader dalam mengidentifikasi masalah mental pada populasi melalui deteksi dini masih kurang, dengan hanya 40,3% yang mampu mengenali gangguan tersebut. Di sisi lain, 53,3% kader memiliki pengetahuan yang memadai di bidang ini [6].
Kader kesehatan mental terkait erat dengan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan mental. Namun demikian, bukti menunjukkan bahwa kader membutuhkan lebih banyak kapasitas dan pemahaman dalam mengidentifikasi penyakit mental pada tahap awal, yang mengakibatkan kinerja yang kurang optimal dalam mendeteksi dan mengurangi tingkat kekambuhan. Hal ini juga terkait dengan munculnya variabel budaya yang berkembang di masyarakat. Budaya lokal masyarakat terkait erat dengan kegiatan keagamaan, sehingga memberikan dampak pada perilaku masyarakat itu sendiri [7]. Pengembangan kader kesehatan mental harus mematuhi pendekatan yang terstruktur, sistematis, dan logis [8]. Pelatihan awal kader di masyarakat untuk menangani penyakit mental dapat berdampak positif pada pengetahuan dan kepercayaan diri [9]. Pelatihan kader kesehatan mental akan meningkatkan kemampuan mereka untuk mengidentifikasi tanda-tanda awal masalah mental dalam masyarakat [10].
Prevalensi masalah kesehatan mental terus meningkat, yang mengarah pada potensi munculnya penyakit mental yang tidak terdeteksi. Keterbatasan ketersediaan data tentang identifikasi dini gangguan mental dapat dikaitkan dengan kapasitas kader yang kurang optimal dalam mengidentifikasi keadaan gangguan mental di seluruh masyarakat [11]. Masalah ini menyoroti perlunya meningkatkan efektivitas kader dengan menerapkan langkah-langkah komprehensif yang dapat secara efektif mengatasi tantangan di atas. Selain itu, identifikasi penyakit mental yang tepat waktu sangat dipengaruhi oleh faktor budaya, termasuk bahasa, masalah sosial, dan stigma. Manajemen penyakit mental di masyarakat sangat dipengaruhi oleh budaya setempat, termasuk faktor-faktor seperti stigma sosial dan rasa malu [12]. Untuk mengatasi masalah ini, sangat penting untuk meningkatkan kapasitas personel yang berorientasi pada budaya untuk mengidentifikasi masalah mental pada tahap awal secara efektif. Menurut gagasan model sunrise, mengidentifikasi masalah mental masyarakat sejak dini memerlukan pendekatan budaya. Contoh yang menggambarkan sifat menguntungkan dari pengaruh budaya adalah memfasilitasi komunikasi antara personel medis dan pasien, meningkatkan kemampuan untuk mengidentifikasi masalah kesehatan sejak dini. Pembentukan layanan perawatan kesehatan mental oleh para profesional terlatih diperlukan untuk menumbuhkan kepercayaan publik dan mengatasi stigma sosial yang terkait dengan individu yang menderita penyakit mental [10].
Menurut teori pemberdayaan struktural, kekuatan formal dan informal, seperti hubungan organisasi, dapat memengaruhi karakteristik individu. Karakteristik ini mencakup peningkatan efikasi diri, motivasi, komitmen, berkurangnya kelelahan, peningkatan keterlibatan manajemen, dan kepuasan kerja yang lebih besar. Interaksi antara agama, filosofi hidup, hubungan sosial dan keluarga, nilai-nilai budaya dan gaya hidup, ekonomi, pendidikan budaya, dan cara serta frekuensi interaksi akan sangat meningkatkan potensi kapasitas deteksi dini. Struktur kesempatan akan memberdayakan kader berbasis budaya melalui aksesibilitas dan fleksibilitas. Dukungan, di sisi lain, mencakup bantuan emosional, penilaian, dan instrumental. Pemberdayaan kader melalui cara-cara budaya akan memengaruhi nilai-nilai mereka, seperti efikasi diri, motivasi, komitmen, otonomi, dan persepsi. Selain itu, hal itu akan meningkatkan kecakapan personel dalam mengidentifikasi, mengawasi, memobilisasi, merujuk, dan mendokumentasikan dengan segera. Oleh karena itu, penting untuk menilai potensi paradigma pemberdayaan kader berorientasi budaya dalam meningkatkan kemampuan kader untuk mengidentifikasi penyakit mental pada tahap awal dalam masyarakat.
Penulis: Prof. Dr. Ah. Yusuf S., S.Kp., M.Kes.
Baca juga: Determinan Kemampuan Kader Kesehatan dalam Deteksi Dini Gangguan Jiwa





