Sindrom nefrotik adalah suatu kumpulan penyakit yang ditandai dengan adanya kebocoran protein dalam urin (proteinuria), penurunan kadar albumin darah (hipoalbuminemia) dan bengkak (edema) seluruh tubuh. Angka kejadian sindrom nefrotik di luar negri adalah 3 kasus dewasa per 100.000 penduduk tiap tahun, sedang di Indonesia belum ada data yang akurat. Angka kejadian sindrom nefrotik berbeda antara pasien dewasa dan pasien anak-anak. Angka kejadian juga berbeda antara pria dan wanita dewasa tergantung dari penyebab sindrom nefrotiknya.
Penyebab sindrom nefrotik pada pasien dewasa sangat beragam, antara lain Diabetes Mellitus, Lupus Eritematosus Sistemik yang dikelompokkan pada sindrom nefrotik sekunder, serta sindrom nefrotik primer yang umumnya didasari oleh kelainan sistim kekebalan yang menyerang glomerulus (bagian ginjal yang berperan penting dalam menyaring darah dan membuang bahan-bahan yang tidak diperlukan tubuh kita ke dalam urin). Kelainan glomerulus ini dapat diketahui melalui prosedur biopsi ginjal (mengambil jaringan dari ginjal untuk diperiksa di laboratorium dengan menggunakan mikroskop dan dengan pewarnaan tertentu).
Jenis sindroma nefrotik sekunder pada orang dewasa berdasar biopsi ginjal yang tersering adalah focal segmental glomeruloscleosis, membranous nephropathy dan minimal change disease. Pada sindrom nefrotik sekunder, tindakan biopsi sangat memegang peran dalam menentukan diagnosis pasti dari kelainan glomerulus yang mendasari sindrom ini. Hasil biopsi selain menentukan jenis penyebab sindrom nefrotik, juga membantu menentukan obat yang efektif serta membantu memperkirakan perjalanan penyakit dan hasil pengobatan.
Pengobatan sindrom nefrotik tergantung pada penyebabnya karena jika tidak didiagnosa dengan cepat serta tidak mendapat pengobatan yang tepat, sebagian besar sindroma nefrotik akan berkembang dan menimbulkan komplikasi pada ginjal berupa penurunan fungsi ginjal yang berkelanjutan dan menahun (dikenal sebagai Penyakit Ginjal Kronis) dan pada akhirnya pasien harus menjalani dialisis atau transplantasi ginjal. Komplikasi lain dari sindrom nefrotik adalah pembekuan dan pengentalan darah, infeksi, peningkatan kadar lemak darah serta berbagai komplikasi yang berhubungan dengan penyakit dasarnya (diabetes mellitus atau penyakit lupus dll).
Jenis-jenis sindrom nefrotik sekunder dengan kelainan sistim kekebalan tubuh umumnya memerlukan kombinasi obat yang menekan sistim kekebalan tersebut (dikenal sebagai obat imunosupresan) dan harus diminum dalam jangka panjang (dalam hitungan bulan atau bahkan tahunan). Selama dalam pengobatan ini, pasien harus tetap dalam pengawasan dokter bukan hanya untuk menilai hasil terapi, tetapi juga mengawasi terhadap timbulnya efek samping dari pengobatan imunosupresan ini. Keberhasilan pengobatan sindrom nefrotik ditentukan berdasar pada berkurangnya keluhan pasien, menghilangnya bengkak dan gejala klinis lain, serta perbaikan parameter-parameter pemeriksaan laboratorium termasuk hilangnya proteinuria. Jika pengobatan mulai tampak hasilnya, maka dosis obat akan diturunkan bertahap tetapi jika timbul efek samping dari obat-obatan yang diberikan, atau jika obat tersebut tidak menghasilkan perbaikan yang diharapkan, maka akan diberikan jenis obat imunosupresan yang lain. Pasien yang telah dinyatakan sembuh dan tidak memerlukan pengobatan tetap harus secara berkala diperiksa dokter untuk memastikan penyakit tersebut tidak timbul kembali.
Penulis: Widodo
Artikel mengenai kasus sindrom nefrotik dapat dibaca pada tautan publikasi





