Angka kematian bayi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di seluruh dunia. Hal ini mencerminkan kesejahteraan dan kualitas kesehatan suatu negara atau wilayah. Angka kematian bayi memiliki dampak emosional yang signifikan terhadap keluarga dan masyarakat serta memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan sosial.
Angka kematian bayi (AKB) di Papua telah menurun dari 129 pada tahun 1971 menjadi 38 pada tahun 2021. Namun, Papua masih
memiliki AKB tertinggi di Indonesia. Hal ini memerlukan perhatian dari pemerintah, lembaga kesehatan, organisasi internasional, dan masyarakat sipil. Menurut Sensus Penduduk 2020, Angka Kematian Bayi (AKB) Papua adalah 38,17, yang berarti terdapat 38-39 kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup, lebih dari dua kali lipat rata-rata nasional yang besarnya 16,85 per 1.000 kelahiran hidup.
AKB merupakan indikator penting kualitas kesehatan masyarakat. Angka yang rendah menunjukkan kualitas kesehatan yang baik.
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) menargetkan penurunan AKB menjadi 12 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2030. Berbagai upaya telah dilakukan, termasuk memastikan persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan dan menyediakan layanan kesehatan standar bagi bayi baru lahir. Selama 50 tahun terakhir, Angka Kematian Bayi (AKB) Indonesia telah menurun hampir 90%, dari 26 per 1.000 kelahiran hidup pada Sensus 2010 menjadi 16,85 per 1.000 kelahiran hidup pada Sensus 2020. Peningkatan imunisasi lengkap dan durasi pemberian ASI berkontribusi terhadap penurunan ini.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mencatat AKB sebesar 16,85 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2022, dengan Papua memiliki AKB tertinggi yaitu 38,17 per 1.000 kelahiran hidup. Faktor-faktor yang memengaruhi angka kematian bayi meliputi usia ibu, kunjungan antenatal, imunisasi Tetanus Toksoid, tempat persalinan, penolong persalinan, jarak kelahiran, jumlah anak, tingkat pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pendapatan ibu, tempat tinggal, dan
karakteristik bangunan tempat tinggal. Upaya untuk mengurangi AKB meliputi memastikan persalinan oleh tenaga kesehatan dan menyediakan layanan kesehatan standar untuk bayi baru lahir. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap angka kematian bayi di Indonesia, dengan fokus pada usia ibu, perawatan antenatal, imunisasi, kondisi persalinan, paritas, pendidikan, pekerjaan ibu, pendapatan, dan karakteristik perumahan.
Penelitian ini menggunakan data sekunder hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 Provinsi Papua dengan responden sejumlah 658 ibu yang mempunyai bayi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan ibu merupakan faktor yang palung berpengaruh terhadap kematian bayi. Ibu berpendidikan dasar mempunyai kemungkinan bayinya meninggal 43,57 kali lebih tinggi daripada ibu yang berpendidikan lebih tinggi. Pemerintah Provinsi Papua perlu meningkatkan pendidikan wanita sebelum kehamilan bahkan sebelum pernikahan sampai setingkat pendidikan lanjut untuk mencegah kematian bayi di Provinsi Papua.





