Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes betina yang terinfeksi. Penyakit ini terjadi di wilayah tropis dan subtropis di seluruh dunia, dengan kasus terbanyak terjadi di wilayah perkotaan dan semi perkotaan yang menjangkiti semua kelompok umur. Pada kasus yang ringan, penyakit ini menyebabkan demam tinggi dan gejalanya mirip flu. Sementara itu, pada kasus yang berat, penyakit ini dapat menyebabkan pendarahan serius, syok akibat penurunan tekanan darah yang cepat dan tiba-tiba, bahkan kematian. Keempat serotipe virus dengue penyebab DBD adalah DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4, dan dapat diidentifikasi menggunakan teknik serologis. Setelah sembuh dari infeksi salah satu serotipe tersebut, seseorang memperoleh kekebalan seumur hidup terhadap infeksi ulang dari serotipe yang sama. Namun, ada kemungkinan infeksi berikutnya oleh serotipe yang berbeda dengan risiko yang lebih berat daripada sebelumnya.
Perbedaan jenis kelamin dapat memengaruhi tingkat keparahan, prevalensi, dan patogenesis infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, parasit, dan jamur. Laki-laki lebih rentan terhadap penyakit menular daripada perempuan, terlepas dari bagaimana infeksi tersebut menyebar, baik dari orang ke orang, vektor, darah, makanan, atau melalui air. Perempuan memiliki dua kromosom X yang berkontribusi pada peningkatan sistem kekebalan tubuh mereka, meskipun ada kemungkinan salah satu kromosom X tidak aktif. Sistem kekebalan tubuh diatur oleh gen yang dikodekan X pada kromosom peradangan dan tidak mudah terinfeksi virus.
Model matematika dapat memainkan peran penting untuk memahami dinamika penularan penyakit menular, yang memungkinkan prediksi dan pengelolaan penyakit menular. Selain itu, ketersediaan data riil tentang suatu penyakit akan meningkatkan estimasi parameter model. Dengan demikian, model matematika dapat menjelaskan penyebaran penyakit di suatu wilayah menggunakan nilai parameter ini.
Pada penelitian ini, kami mengonstruksi model matematika berdasarkan klasifikasi jenis kelamin pada populasi manusia untuk mengeksplorasi dinamika penularan DBD di Provinsi Jawa Barat, Indonesia dari tahun 2014 hingga 2023. Berdasarkan nilai estimasi parameter, diperoleh angka reproduksi dasar adalah 1,0959. Temuan ini menunjukkan bahwa penularan DBD masih endemis di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Berikutnya, dalam menganalisis model, kami memperoleh dua kesetimbangan, yaitu kesetimbangan bebas penyakit dan kesetimbangan endemik. Kesetimbangan bebas penyakit akan stabil asimtotik lokal dan global jika angka reproduksi dasar kurang dari satu. Demikian juga, kesetimbangan endemik akan stabil asimtotis global jika angka reproduksi dasar lebih dari satu.
Selanjutnya, pada penelitian ini juga diterapkan strategi pengendalian yang optimal untuk mengkaji dampak fumigasi dan pencegahan untuk tindakan pengendalian penularan DBD yang paling efektif. Analisis efektivitas biaya juga dilakukan untuk mengevaluasi perbandingan manfaat kesehatan dari berbagai intervensi dengan biaya yang dikeluarkan. Berdasarkan perhitungan Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER), kami menyimpulkan bahwa penerapan strategi kombinasi fumigasi dan pencegahan adalah pendekatan yang paling efektif dan hemat biaya untuk mengendalikan dan mengurangi kasus DBD. Lebih lanjut, kami merekomendasikan agar usaha pencegahan dirancang dengan mempertimbangkan perbedaan antara pria dan wanita. Dengan membedakan strategi pencegahan berdasarkan jenis kelamin dapat berdampak signifikan terhadap penurunan kasus DBD, karena laki-laki dan perempuan mungkin memiliki profil risiko dan respons yang berbeda terhadap tindakan pencegahan.
Penulis: Prof. Dr. Fatmawati, S.Si., M.Si.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Authors: F. F. Herdicho, Fatmawati, C. Alfiniyah, M. A. Rois, S. Martini, D. Aldila, F. Nyabadza
Title: Optimal control of dengue hemorrhagic fever model by classifying sex in West Java Province, Indonesia.





