Karnosin, imidazol dipeptida (尾-alanil-L-histidin), ditemukan oleh Dr. Vladimir Gulevic di Universitas Charkow pada tahun 1900. Karnosin merupakan peptida endogen yang memiliki peran strategis dalam pertahanan tubuh terhadap penyakit sehingga kadarnya di dalam jaringan memberikan kemaknaan fisiologi yang penting pada kesehatan manusia. Penambahan karnosin eksogen sebagai suplemen maupun terapi telah dikembangkan melalui penelitian-penelitian yang mengkonfirmasi efek terapetik potensial yang dimiliki karnosin. Pemberian karnosin tambahan dari luar tubuh dilaporkan memberikan efek antioksidan, antiperadangan, antiglikasi, dan antipenuaan. Secara in vivo, karnosin telah dikonfirmasi memiliki aktivitas buffering pada penurunan pH intraseluler yang terkait dengan produksi asam laktat dan proton selama kontraksi otot dalam kondisi anaerobik, misalnya pada penggunaan otot secara eksesif saat berolahraga intens. Peningkatan kapasitas buffer pH pada otot juga berkontribusi pada elastisitas dan performa otot secara umum. Pada jaringan jantung, karnosin merupakan pengatur kalsium intraseluler dan kontraktilitas pada otot jantung. Melihat dampak positif yang ditimbulkan karnosin pada metabolisme otot yang berarti mempunyai kecenderungan meningkatkan efisiensi utilisasi glukosa pada sel-sel tubuh, maka pantas saja banyak artikel ilmiah melaporkan efek positif karnosin dalam mencegah komplikasi sekunder pada diabetes, termasuk melalui penghambatan produksi Advanced glycation end products (AGEs) dan menurunkan stimulus pro-inflamasi sistemik yang menyertai perkembangan diabetes. Pada gangguan neurodegeneratif seperti penyakit Alzheimer, karnosin pada studi in vitro dan in vivo dilaporkan memperlambat progresifitas kerusakan neuron dan agregasi beta amyloid dan alpha-synuclein, 2 peptida penanda progresifitas penyakit Alzheimer. Karena hal tersebut, pola makan yang tinggi karnosin juga berpotensi mendukung upaya promotif dan preventif pada orang lanjut usia.
Dari manakah sumber karnosin eksogen? Karnosin secara eksklusif terdapat pada produk hewani. Karnosin ditemukan sangat melimpah di organ seperti otak, otot jantung dan otot rangka pada mamalia. Kadar karnosin dapat meningkat pada otot terutama dengan tingkat glikolisis yang tinggi yakni saat utilisasi glukosa di jaringan otot ditingkatkan. Konsentrasi karnosin dalam daging tergolong cukup stabil meskipun terjadi proses penuaan maupun ketika produk daging melalui proses pemasakan. Beta-alanina merupakan prekursor karnosin yang dikenal sebagai salah satu komponen dalam suplemen olahraga yang paling banyak digunakan untuk meningkatkan performa atletik. Metabolit karnosin seperti N-asetilkarnosin, dan turunan sintetis karnosin seperti Zinc-L-karnosin saat ini sangat populer digunakan sebagai suplementasi mendampingi dalam terapi tertentu. Fakta preklinik menunjukkan bahwa 1/5 dari karnosin yang dicerna dari diet diserap dan dilepaskan dalam darah. Dalam serum, karnosinase, enzim spesifik yang juga disebut aminoasil-histidin dipeptidase, menghidrolisis sebagian besar karnosin yang diserap, tetapi ketersediaan histidin dan alanin, prekursornya, mendukung sintesis karnosin dan konsentrasinya dalam otot rangka pada manusia.
Pengembangan studi terhadap L-carnosine sebagai peptida yang suportif terhadap kondisi neurologi tertentu terus dikembangkan, termasuk pada kondisi Autism Spectrum Disorder (ASD). Pada penelitian oleh Ann Abraham et al tahun 2024 di India, studi didalami untuk membuktikan dugaan efek positif suplementasi karnosin pada kondisi ASD. Studi klinik dilakukan dengan melakukan suplementasi karnosin secara terandomisasi pada pasien dan melakukan pengukuran Autism Treatment Evaluation Checklist (ATEC) dan Childhood Autism Rating Scale 2nd Edition, Standard Version (CARS2-ST) scores. Hasil yang didapatkan dari studi klinik tersebut menunjukkan tidak adanya korelasi antara kadar plasma karnosin dengan parameter klinis ASD subjek penelitian. Studi semacam ini sangat penting dilakukan untuk membuktikan secara ilmiah pengaruh suplementasi tertentu pada kondisi patologi penyakit tertentu. Di sisi lain, studi tersebut berhasil menunjukkan bahwa metode analisa karnosin dalam plasma menggunakan Reversed-Phase High Performance Liquid Chromatography (RP-HPLC) dengan detektor Photo Diode Array (PDA) memungkinkan untuk dilakukan pada studi-studi lainnya.
Ditulis oleh Chrismawan Ardianto, PhD., Apt
Link:
Baca juga: Dosen Psikologi Ciptakan Alat Bantu Komunikasi Autisme Berbasis Aplikasi





