Limbah plastik merupakan salah satu sumber pencemaran yang umum ditemukan di lingkungan. Seiring waktu, plastik akan mengalami degradasi akibat faktor lingkungan seperti suhu tinggi, tekanan udara, dan paparan sinar ultraviolet. Selain itu, beberapa jenis bakteri dan jamur juga mampu mengurai plastik menjadi partikel berukuran kecil (mikroplastik) dan partikel yang lebih kecil lagi (nanoplastik). Menurut organisasi internasional, nanopartikel memiliki ukuran antara 1 hingga 100 nm dan sifat toksiknya menjadi perhatian global karena dapat membahayakan ekosistem. Hal ini juga berlaku untuk nanopartikel plastik, terutama nanopartikel polistirena (NPs), yang berasal dari limbah plastik yang tidak terkelola dengan baik sehingga menimbulkan permasalahan ekotoksikologi dan ancaman bagi lingkungan. NPs terbentuk melalui berbagai proses degradasi seperti fotolisis, oksidasi, abrasi, hidrolisis, dan biodegradasi jangka panjang. Paparan NPs dapat terjadi melalui berbagai jalur, termasuk udara yang tercemar, konsumsi air dan makanan yang telah terkontaminasi, serta rute paparan lainnya. Ukuran yang sangat kecil serta sifat kimianya yang beragam memungkinkan NPs dengan mudah masuk dan terakumulasi dalam tubuh, yang dapat berdampak pada sistem imun serta kesehatan reproduksi.
Kehadiran NPs di lingkungan diperkirakan menyebabkan individu secara tidak sengaja terpapar ribuan hingga jutaan partikel setiap tahunnya. Setelah masuk ke dalam tubuh, NPs dapat terdeposit di berbagai organ seperti hati, paru-paru, usus, dan ginjal, yang berpotensi memicu kerusakan toksik. Kekhawatiran utama terkait NPs adalah kemampuannya dalam menembus penghalang seluler, sehingga dapat menyebabkan efek toksik pada tingkat sel, jaringan, organ, hingga sistem organ. Stres oksidatif akibat paparan NPs dikaitkan dengan gangguan fungsi jaringan dan organ, termasuk dalam sistem imun, reproduksi, dan pencernaan. Perubahan histopatologis seperti inflamasi dan nekrosis juga telah ditemukan pada sistem pencernaan dan hati hewan yang terpapar NPs berukuran 70 nm.
Dalam sistem pencernaan, energi diperoleh melalui enzim-enzim pencernaan yang sering digunakan untuk mengukur tingkat biotoksisitas dan daya cerna. Hingga saat ini, jalur pasti mengenai efek toksisitas nanoplastik pada hati hewan uji masih belum sepenuhnya dipahami. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa hati merupakan salah satu organ utama yang rentan terhadap zat toksik, termasuk nanopartikel. Hati memiliki peran krusial dalam pencernaan, metabolisme, serta regulasi sistem imun. Sebagai organ metabolik utama, hati mengendalikan berbagai jalur metabolisme yang menghubungkan jaringan dan organ lain, termasuk sebagai tempat berlangsungnya glukoneogenesis. Glukosa dalam bentuk glikogen berfungsi sebagai sumber utama gula darah. Selain itu, hati juga menjalankan proses oksidasi protein untuk menghasilkan energi, di mana hasil metabolisme protein akan membentuk asam amino yang kemudian dipecah menjadi asam keto dan amonia. Fungsi hati lainnya adalah sebagai pusat utama metabolisme senyawa berbahaya melalui proses detoksifikasi darah, termasuk pengolahan limbah dari hemoglobin. Hati juga menghasilkan dan mensekresikan berbagai jenis enzim yang mendukung fungsinya, seperti serum glutamat oksaloasetat transaminase (SGOT), serum glutamat piruvat transaminase (SGPT), serta alkalin fosfatase (ALP). Paparan NPs diduga dapat mengubah jalur metabolisme hati, mempengaruhi enzim metabolik utama, serta merangsang produksi enzim yang berkaitan dengan stres oksidatif.
Pemanfaatan sumber daya alam sebagai agen terapeutik semakin banyak dikaji dalam berbagai penelitian. Penggunaan tanaman herbal sebagai sumber obat kini semakin diakui secara luas. Antioksidan yang terdapat dalam tanaman Cinnamomum burmanii memiliki kemampuan untuk menetralkan radikal bebas yang dihasilkan oleh zat toksik, termasuk NPs. Dibandingkan dengan senyawa sintetis, penelitian sebelumnya yang menggunakan berbagai tanaman seperti Clitoria ternatea, Mimosa pudica, Odina woodier, Strobilanthes asperrimus, Cucurbita maxima, dan Begonia versicolormenunjukkan bahwa antioksidan alami memiliki tingkat toksisitas yang lebih rendah serta berpotensi mencegah penyakit kronis. Senyawa ini bekerja dengan mendonorkan atau menerima elektron guna menstabilkan radikal bebas yang tidak berpasangan. Salah satu sumber antioksidan alami yang menjanjikan adalah Cinnamomum burmanii, yang banyak ditemukan di Asia dan Indonesia. Tanaman ini mengandung flavonoid, cinnamaldehyde, serta berbagai senyawa bioaktif lainnya yang berperan dalam melindungi sel dan jaringan dari kerusakan akibat zat beracun. Studi menunjukkan bahwa daun C. burmanii memiliki aktivitas antioksidan yang kuat (IC50=93,447 ppm).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa paparan nanopartikel dapat mengganggu fungsi serta kesehatan hati. Dalam kajian tersebut, telah dilakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap dampak nanopartikel serta potensi ekstrak C. burmaniidalam mendukung fungsi biokimia enzimatik yang berkaitan dengan kerja hati dan perubahan histopatologis pada jaringan hati. Hasil penelitian ini memberikan wawasan baru mengenai dampak biologis akibat paparan nanopartikel serta potensi C. burmanii dalam memperbaiki fungsi enzimatik pada hepatosit.





