Oral lichen planus (OLP) adalah salah satu penyakit mulut kronis yang sering ditemui. Penyakit ini ditandai oleh keradangan pada lapisan mukosa mulut dan dapat menimbulkan gejala mulai dari garis putih halus (retikular) hingga luka erosi yang perih (erosif) dan ulkus luas (ulseratif). OLP juga dikenal sebagai penyakit yang dapat bertahan lama, kambuh, dan bahkan meningkatkan risiko berkembang menjadi kanker mulut pada sebagian kecil kasus.
Salah satu tantangan utama dalam menangani OLP adalah diagnosis, karena tanda-tandanya sering menyerupai penyakit lain seperti pemfigus vulgaris, mucous membrane pemphigoid, reaksi obat, atau lupus oral. Dokter biasanya menggabungkan pemeriksaan klinis, biopsi jaringan, dan riwayat medis pasien untuk memastikan diagnosis. Namun, berkembangnya ilmu imunologi membuka peluang untuk menggunakan penanda biologis (biomarker) yang lebih spesifik.
Salah satu biomarker adalah autoantibodi terhadap desmoglein, yaitu protein penting yang menjaga keterikatan antarsel pada epitel. Dua jenis desmoglein yang relevan dengan mukosa mulut adalah Dsg-1dan Dsg-3. Ketika protein ini terganggu, ikatan antar sel epitel melemah sehingga jaringan lebih mudah rusak. Pada penyakit pemfigus vulgaris, misalnya, autoantibodi terhadap Dsg-3 menjadi penyebab utama terbentuknya lepuh pada kulit dan mukosa. Karena itu, muncul pertanyaan penting: Apakah autoantibodi terhadap Dsg-1 dan Dsg-3 juga berperan dalam OLP? Dan jika ya, apakah kadar autoantibodi ini berbeda antara bentuk OLP yang ringan, sedang, dan berat?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini melakukan sebuah scoping review, yaitu metode tinjauan ilmiah yang bertujuan memetakan bukti yang ada secara komprehensif tanpa melakukan analisis statistik mendalam. Penelitian ini mengikuti pedoman PRISMA dan mencakup pencarian di empat database ilmiah. Studi-studi yang dimasukkan terdiri dari laporan kasus, seri kasus, studi potong lintang, dan studi kasus-kontrol yang melaporkan kadar anti-Dsg-1 dan anti-Dsg-3 dalam darah pasien OLP. Apa yang ditemukan?
- OLP Retikular: Bentuk Paling Ringan dengan Pola Autoantibodi yang Tidak Konsisten. Pada bentuk retikular, para peneliti menemukan bahwa kadar autoantibodi sangat bervariasi antar studi. Beberapa pasien menunjukkan angka negatif, sementara lainnya positif tetapi rendah. Variasi ini menunjukkan bahwa pada fase yang lebih ringan, kerusakan epitel belum cukup besar untuk menyebabkan paparan antigen desmoglein secara luas, sehingga tubuh tidak selalu membentuk respons autoantibodi. Dengan kata lain, autoantibodi tidak selalu menjadi faktor utama pada OLP retikular.
- OLP Erosif: Autoantibodi Meningkat dan Berkaitan dengan Kerusakan Epitel Lebih Dalam. Pada tipe erosif, hasilnya jauh lebih jelas. Sebagian besar studi menunjukkan peningkatan kadar anti-Dsg-1 dan anti-Dsg-3. Temuan ini menunjukkan bahwa ketika lesi OLP beralih ke bentuk yang lebih agresif dan nyeri, terjadi kerusakan epitel yang lebih luas, yang memungkin¬kan protein desmoglein terekspos. Inilah yang kemudian memicu respons imun berupa pembentukan autoantibodi. Peningkatan autoantibodi pada OLP erosif berpotensi menjadi indikator progresi penyakit, sekaligus membantu membedakan OLP erosif dari penyakit lain seperti pemfigus vulgaris. Namun, tetap ada variasi antar pasien. Beberapa kasus erosif dengan gejala kulit, misalnya, menunjukkan autoantibodi tinggi, sementara kasus lain sama sekali tidak menunjukkan peningkatan. Ini mencerminkan bahwa OLP tetap merupakan penyakit multifaktorial yang tidak hanya ditentukan oleh satu mekanisme imun saja.
- OLP Ulseratif: Kerusakan Parah tanpa Keterlibatan Autoantibodi. Temuan paling menarik muncul pada OLP ulseratif. Meski bentuk ini memiliki tingkat kerusakan epitel paling berat, hampir semua kasus menunjukkan kadar anti-Dsg-1 dan anti-Dsg-3 yang negatif.
Mengapa demikian? Penjelasan yang mungkin adalah bahwa pada tahap paling lanjut ini, proses penyakit bergeser dari autoimunitas terhadap desmosom menjadi peradangan kronis destruktif, yang didorong oleh infiltrasi sel imun dan kerusakan jaringan berulang. Kerusakan yang dominan bukan lagi akibat melemahnya desmosom oleh autoantibodi, melainkan karena respons inflamasi jangka panjang yang merusak struktur epitel. Dengan kata lain, meski gejalanya paling berat, OLP ulseratif bukan karena tingginya autoantibodi, melainkan karena peradangan kronis yang berkelanjutan.
Apakah pola ini menunjukkan perjalanan penyakit? Berdasarkan seluruh temuan, penelitian ini mengusulkan bahwa ketiga subtipe OLP mungkin tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan kontinum perkembangan penyakit, yaitu:
- Retikular: fase awal yang lebih ringan, kadar autoantibodi bervariasi.
- Erosif: fase sedang“berat, kadar autoantibodi cenderung meningkat, mencerminkan kerusakan epitel yang lebih dalam.
- Ulseratif: fase lanjut, dominasi peradangan kronis tanpa autoantibodi desmoglein.
Model ini dapat membantu dokter memahami bahwa perubahan pola lesi pasien bukan sekadar fluktuasi, tetapi mungkin mencerminkan aktivitas imunologis yang berbeda. Temuan ini berpotensi membuka jalan bagi Biomarker baru untuk diagnosis dan stratifikasi risiko. Kadar anti-Dsg-1 dan anti-Dsg-3 dapat dipertimbangkan sebagai indikator tambahan untuk membedakan subtipe OLP, terutama pada kasus yang sulit dibedakan dari pemfigus vulgaris atau penyakit autoimun lain. Jika pola autoantibodi dapat distandarkan, dokter mungkin dapat memprediksi kapan suatu kasus retikular berisiko berubah menjadi erosif. Temuan ini menegaskan bahwa OLP tidak hanya melibatkan respon imun seluler (T-cell), tetapi juga kemungkinan melibatkan respon humoral pada subtipe tertentu.
Penelitian ini menunjukkan bahwa pola autoantibodi desmoglein pada OLP dapat mencerminkan tingkat kerusakan epitel dan tingkat keparahan penyakit. Subtipe erosif tampak paling berkaitan dengan peningkatan autoantibodi, sementara subtipe ulseratif justru menunjukkan pola sebaliknya. Dengan memahami pola ini, dokter dan peneliti dapat mengembangkan pendekatan diagnostik dan terapi yang lebih tepat sasaran di masa depan.
Sumber:
A.Sarasati, K.G.P. Wibawa, M.D.C.Surboyo, R.L Panico, A.B.R Santosh, A.Viany, D.Agustina, D.S.Ernawati. Patterns of circulating autoantibodies against desmoglein-1 and desmoglein-3 in the progression of oral lichen planus: A scoping review. Archives of Oral Biology. 2026; 181.





